
Pukul 8 malam…
Lea pamit kepada Novi untuk keluar mengerjakan tugas, dan dia mengatakan akan tinggal untuk malam ini.
“Padahal baru aja bilang, kalau tugasnya udah selesai. Eh…sekarang mau pergi lagi.” Lea mencium Novi.
Lea hanya tersenyum masam, karna baru pagi dia mengatakan jika tugasnya sudah tidak semenumpuk kemarin, namun sekarang dia kembali lagi, tanpa tinggal di rumahnya.
“Mendadak, mah.” Lea mengambil alasan kepada Novi.
“Iya-iya. Asal jangan bohong, kamu jangan keluyuran di luar sana. Ingat Lea…kamu harapan pertama mama.”
Lea menganguk paham dengan apa yang di katakan Novi, dia belum memberitahukan semuanya kepada Novi.
Jika selama ini, dia yang menjaga Daniel di rumah sakit. Sehingga dia sangat-sangat jarang tinggal di rumah, dengan alasan tugas.
Setelah berpamitan dengan sang Mamah, Lea langsung masuk kedalam taxi online yang dia pesan.
Malam ini, dia akan kerumah Agrif untuk melihat kondisi anak itu.
Di sepanjang perjalanan, Lea terus-terusan menunggu kabar dari Nando, sudah dua hari pria itu tidak memberikanya kabar mengenai Rifal dan Valen.
Saat ingin menyimpan ponselnya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi menandakan adanya pesan masuk.
“Kak Nando,” gumam Lea melihat siapa yang mengirimkanya pesan.
Padahal, dia baru-baru saja memikirkan Nando karna pria dewasa itu tidak menghubungi dirinya.
Dan sekarang, Nando megrimkanya pesan.
“sampai saat ini, Rifal belum juga sadar. Sementara Valen belum juga di temukan. Valen masih berada di pencairan tim basarnas dan juga polisi.”
Pesan Nando membuat hati Lea teriris. Apakah dia masih mempunyai harapan untuk megatakan jika Valen masih hidup?
Apakah dia bisa meyakinkan dirinya sendiri, jika Valen dan anaknya akan baik-baik saja.
Lea menyandarkan kepalanya ksi kursi mobil, pikiranya belum usai mengenai Agrif, kini terbagi lagi kepada Rifal yang tak kunjung bangun dan juga Valen hingga saat ini belum di temukan.
Rasa-rasanya Lea ingin sekali ke bali, untuk melihat kondisi Rifal. Namun, jika dia pergi, sama saja dia meninggalkan Agrif yang saat ini masih membutuhkannya, karna masih dalam keadaan duka.
Ting
Pesan masuk, bukan pesan dari Nando, melainkan pesan dari bi Minah, pengasuh Agrif.
“Lea jadi, kan, kesini? Agrif belum juga makan.”
Lea memejamkan matanya membaca pesan dari bi Minah.
“Apa Agrif akan terus-terusan seperti ini?” gumamnya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, Lea sudah sampai di depan rumah Daniel. Gadis itu turun lalu membayar taxi.
Dilihatnya pagar yang menjulang tinggi, lalu satpam datang membuka pagar dan mempersilakan Lea untuk masuk.
“Makasih.”
“Sama-sama, nak, Lea!” Satpam kembali menutup pintu gerbang begitu Lea sudah masuk.
Lea masuk kedalam rumah mewah alm Daniel.
Pembantu yang melihat kedatangan Lea langsung menghampiri Lea.
“Akhirnya kamu datang.”
“Bi, dimana Agrif?” Lea mulai mempertanyakan, dimana keberadaan Agrif.
“Ada diatas kamar,” jawab bibi.
“Yaudah Lea naik ke atas dulu yah,” pamit Lea lalu melenggang pergi.
Lea sudah sampai di depan pintu kamar yang di tempati Agrif.
Lea langsung memutar handel pintu, karna pintu dari dalam tidak terkunci.
Bi Minah yang melihat kedatangan Lea langsung tersenyum legah.
Suara isakan tangis Agrif masih sama seperti saat di rumah sakit, kemarin malam.
Agrif sudah melihat Lea, namun dia belum juga memanggil Lea dengan sebuta kakak cantik.
“Akhirnya kamu datang , Agrif sedari tadi menangis dan tidak mau makan. Makananya dia tepis hingga jatuh ke lantai,” aduh bi Minah kepada Lea.
“Bibi bisa keluar, biar Lea yang urus Agrif dulu.” Bibi menganguk lalu pergi meninggalkan Lea dan juga Agrfi di kamar.
“Agrif…” panggil Lea.
Karna sedari tadi anak itu hanya mengatakanya tapi tidak memanggil dirinya kakak cantik seperti biasa.
Agrif bukanya diam, dia semakin menangis melihat Lea kesini.
“Kenapa kakak cantik di sini?”
“Bukanya kakak cantik bakalan pergi ninggalin Agrif juga!”
Hati Lea seperti tercabik mendapatkan perkataan Agrif sepeti itu.
Lea menggelengkan kepalanya dengan kuat.
“Kakak cantik kesini buat kamu,” ucap Lea dan di balas gelengan kepala oleh Agrif di sertai air matanya semakin deras.
__ADS_1
“Kenapa saat Agrif bangun, kakak cantik nggak ada….Hiksss!!!!”
“Kakak cantik kemana? Apa Kakak cantik bakalan ninggalin Agrif juga?”
Lea langsung menghampiri Agrif, lalu memeluk tubuh mungil anak itu.
“Kakak cantik di sini!” Lea berucap dengan tegas seraya mengusap air mata Agrif.
Air matanya juga jatuh.
Agrif dan Lea saling berpelukan dengan erat. Agrif masih menagis dan membuat Lea menenangkan anak dalam pelukanya.
“Kakak cantik janji, nggak bakalan ninggalin kamu.” Lea menjulurkan jari kelingkingnya kearah Agrif.
Wajah anak itu terlihat sangat letih, matanya mulai membengkak akibat menangis terlalu lama.
“Jangan nangis yah, entar gantengnya hilang.” Lea berusaha menghibur anak kecil dalam pelukanya saat ini.
Suara tangis Agrif sedikit redah, sudah tidak sekeras tadi. Lea memperbaiki rambut anak kecil dalam pelukanya yang berantakan.
Keringat bercampur dengan air matanya, membuat anak itu menjadi gerah. Matanya sudah sembab.
Bi Minah yang sedari tadi di depan pintu bernafas legah. Karna syara tangis Agrif yang sudah redah dengan kedatangan Lea.
Bi Minah sudah pergi dari depan pintu kamar untuk mengambil makanan baru untuk Agrif.
Lea membuka baju Agrif. Lalu menggandeng tanganya masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh anak itu yang berkeringat.
Jika tubuhnya tidak di bersihkan, maka Agrif akan susah tidur untuk malam ini.
Lea mulai membasuhi tubuh mungil Agrif dengan air. Lalu dia mengambil sabun mandi lalu membersihkan tubuh Agrif menggunakan sabun mandi.
Lea membasuhi wajah Agrif dengan air, agar wajah anak itu menjadi segar setelah berlamaan menangis.
“Kakak pakekan sampo, yah?“ terlebih dahulu Lea meminta persetujuan bocah tampan di hadapanya.
Lea sengaja membersihkan tubuh Agrif. Agar saat anak itu tidur akan menjadi nyenyak.
Agrif hanya mengangguk kecil, lalu Lea mulai membasuhi kepala Agrif menggunakan air lalu menberikan sedikit shampo di atas kepala Agrif.
Agar kepala anak itu tidak gatal.
Sekitar sepuluh menit mandi, Lea sudah keluar kamar mandi seraya meggendong Agrif yang mengenakan handuk.
Lea menurunkan Agrif dari gendonganya.
“Tempat baju Agrif di mana?” tanya Lea menundukkan sedikit tubunya agar sejajar dengan Agrif.
Anak itu menunjuk kearah lemari kaca. Lea berjalan menuju lemari kaca lalu membuka lemari tersebut.
__ADS_1
Berbagai Jenis pakaian bermerek milik Agrif sudah ada di dalam. Tak tanggung-tanggung Daniel memberikan baju mahal kepada anaknya, baju itu di sebut baju anak sultan.
Karna orang tua yang berduit saja yang bisa memberikanya untuk anak mereka.