
Dokter Hamka langsung memeriksa kondisi Rifal. Pagi tadi Nando keruangan dokter Hamka mengatakan jika tangan milik Rifal tadi bergerak.
“Bagaimana, dok?” Tanya Valen dengan tidak sabaran, dia harap mimpinya semalam merupakan tanda jika Rifal akan segera sadar.
“Pasien sudah sadar,” kata dokter Hamka.
“Sadar? Kenapa suami saya tidak membuka matanya?” Tanya Valen dengan masa khawatir saat dokter Hamka mengatakan jika Rifal telah sadar.
Nando yang sudah tau menarik nafasnya panjang, dia memberikan kode kepada dokter Hamka untuk memberitahukan semuanya pada Valen, karna bagaimanapun Valen harus tau mengenai kondisi Rifal.
“Suami dokter Valen buta,” kata dokter Hamka dengan hati-hati membuat Valen langsung refleks menutup mulutnya. “Sepertinya suami dokter Valen masih tidur karna pengaruh obat.”
Air matanya jatuh begitu deras, saat dokter Hamka mengatakan jika Rifal buta.
“Sampai sekarang belum ada pendonor mata yang kami dapatkan untuk suami dokter Valen. Ada orang yang meninggal ingin menyumbangkan matanya untuk suami dokter Valen namun matanya tidak cocok,” tutur dokter Hamka membuat Valen menangis.
Rasanya sesak saat dokter Hamka mengatakan jika Rifal buta.
“Secepatnya kami akan mencari pendonor mata untuk suami dokter Valen,” kata dokter Hamka lagi.
Dokter Hamka pamit pada Nando untuk pergi. Karna masih ada pasien yang lain untuk dia periksa.
Sementara Rifal yang sudah sadar yang mendengarkan penuturan dokter Hamka hanya diam saja, hatinya sakit saat dokter mengatakan jika dia buta.
Mungkin ini semua karma yang dia dapatkan karna telah menyakiti seseorang. Rifal ingin bersuara namun dia urungkan karna Valen langsung memeluknya.
“Fal, hiks….hiks gimana kalau kamu tau kalau kamu buta?” Isaknya lagi, dia bahagia Rifal sudah sadar namun dia harus di hantam kenyataan jika Rifal telah buta.
“Aku takut!” isak Valen lagi membuat Rifal menahan tangisnya juga. Perban sudah menutupi mata Rifal saat ini karna matanya tadi sudha di bersihkan oleh dokter Hamka,
Setelah Rifal sadar nanti. Baru mereka akan membuka perban milik Rifal.
Valen tertidur didekat bansal Rifal, sembari menunggu suaminya itu bangun.
Padahal Rifal tidak bangun, dia mendengar segala tangisan Valen padanya.
Rifal mengusap rambut Valen, membuat Valen langsung peka dengan sentuhan tersebut membuat Valen langsung bangun.
Rifal akan ikhlas jika dirinya buta, tidak ada yang bisa dia salahkan dengan kondisinya seperti ini.
“Rifal,” kata Valen memegang tangan Rifal yang menyentuh rambutnya ,”syukurlah kamu udah bangun,” lanjut Valen dengan suara seraknya.
__ADS_1
“Aku merindukan mu!”
Valen langsung memeluk Rifal kembali, saat pria itu mengatakan kata Rindu. Dia kembali menangis dalam pelukan Rifal.
“Aku juga merindukanmu!” balas Valen dengan isakan tangis.
“Jangan menangis,” ejek Rifal. “Kamu lagi hamil, nggak malu kamu nangis?” ejeknya membuat Valen semakin terisak.
Sementara Nando sudah keluar dari ruangan ini untuk memanggil dokter Hamka, jika Rifal sudah sadar.
Nando juga sudah menghubungi Elga jika Rifal telah sadar.
Beberapa menit kemudian Elga datang bersama dengan Rara. Sementara Kayla berada dirumah menjaga anak-anak sementara Frezan sedang di kantor.
“Gimana keadaan kak Rifal?” Tanya Rara pada Rifal yang sedang duduk diatas bansal dengan kain kasa menutup matanya, sembari menunggu kedatangan dokter Hamka.
“Gue baik-baik aja. Ra,” jawab Rifal.
Sementara Valen setia berada di dekat Rifal menggenggam tangan Rifal. Dia tidak tau bagaimana reaksi Rifal nanti saat dokter Hamka membuka perban matanya dan dia tidak bisa melihat.
Jelang beberapa menit, Dokter Hamka datang bersama dengan dokter Kiki. Dokter Hamka terlebih dahulu meminta izin pada Rifal untuk membuka perban matanya di bantu oleh dokter Kiki.
Sementara Valen setia menggenggam tangan Rifal.
Perban terbuka secara keseluruhan membuat Valen memejamkan matanya menunggu reaksi Rifal.
Rifal tersenyum masam, saat membuka matanya ada rasa sedikit perih akibat kecelakaan dan jangan lupa seluruh penglihatannya gelap. Hanya ada kegelapan di hadapannya.
Sementara dokter menunggu reaksi Rifal.
“Sampai kapan saya melihat warna hitam?” tanya Rifal dengan santai. Namun tidak dengan hatinya yang nyerih saat matanya hanya melihata kegelapan saja.
Dokter Kiki dan dokter Hamka saling berpandangan, mereka pikir Rifal akan mengamuk karna buta. Namun respon pria itu sangat positif.
Sementara Valen langsung memeluk Rifal, dia tidak menyangka respon seperti ini yang diberikan oleh Rifal.
Sementara Elga yang tidka mengerti langsung bertanya.
“Apa maksud dia dokter?” Tanya Elga tidak sabaran.
“Pasien buta. Akibat kecelakaan,” terang dokter Hamka membuat tangan Elga tekepal kuat, sementara Rara langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
“El,” panggil Rifal, karna dia tau bagaiamna watak seorang Elga.
“Lo nggak usah khawatir, gue buta cuman sementara,” kata Rifal, meski dia juga tidak tau sampai kapan dia melihat kegelapan karna dokter mengatakan jika dia belum mendapatkan pendonor mata yang cocok untuk dirinya.
“Bodoh!” erang Elga lalu pergi meninggalkan ruangan Rifal dengan nafas yang sangat memburuh.
“Kejar Elga, Ra,” perintah Rifal, lalu Rara mengejar saudaranya itu.
“Kami akan mencarikan pendonor mata secepatnya untuk pak Rifal,” kata Dokter Hamka.
“Makasih dok.”
“Sama-sama.”
Semuanya telah pergi meninggalkan ruangan milik Rifal, dan hanya menyisahkan Valen dan juga Rifal.
Saat ini Valen sedang menyuapi Rifal makanan. “Makan yang banyak,” kata Valen menyuapi Rifal bubur ayam.
“Makan kamu boleh nggak?” Canda Rifal.
“Jangan banyak gaya dulu,” kata Valen membuat Rifal tertawa. Rifal sangat merindukan wajah Valen, namun kondisinya seperti ini membuatnya kesulitan.
Dia rindu melihat tawa Valen, dan kekesalan Valen padanya. Apa lagi saat kejadian malam itu dimana dirinya mabuk dan Valen tidak mengizinkannya untuk tidur bersama.
“Va,” panggil Rifal.
“Mau minum?” Tanya Valen dan dibalas gelengan kepala oleh Rifal.
“Gimana kalau selamanya aku buta? Apa kamu masih ingin bersama orang buta?” Tanya Rifal membuat Valen langsung menyimpan jari telunjuknya di bibir milik Rifal.
“Aku percaya kamu akan melihat lagi, kalaupun sebaliknya aku akan tetap bersama kamu dalam keadaan apapun.” tulus Valen membuat Rifal tersenyum.
“Tapi aku tersiksa jika aku tidak melihat wajah cantik mu itu,” gombal Rifal membuat Valen juga ikutan tertawa,
Dia bersyukur Rifal tidak terpuruk dengan keadaan seperti ini, “Aku harus melihat sebelum anak aku lahir,” kata Rifal membuat Valen langsung memeluk Rifal.
“Apa anak kita tidak nakal di dalam sana,” kata Rifal meraba perut Valen.
“Dia tidak nakal, dia hanya merindukan tangan mu itu untuk mengusap perut aku,” canda Valen membuat Rifal menyungkirkan senyumannya.
“Anak kita atau kamu yang merindukannya.”
__ADS_1