Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Tenang


__ADS_3

Kayla mengusap rambut milik Dyta, anak itu sudah tertidur dengan lelap didalam kamar. Matanya menjadi merah, bahkan pipih anak itu masih tersisa banyak air mata.


Kayla mengusap air matanya dengan kasar, lagi-lagi kata penenang untuk Dyta berhasil membuat anaknya itu menjadi diam.


''Ya Tuhan, Semogah saja Daniel cepat sadar.”


“Mah, mamah!” panggil Dyra membawa boneka kesayanganya.


''Diluar ada Farel,'' ucap Dyra. ''Kak Farel mau ketemu sama Dyta,'' lanjut anak itu.


''Kamu tanya sama kak Farel, kalau Dyta lagi Bobo,'' pesan Kayla dan dibalas anggukan kepala oleh Dyra.


''Kata mamah, Dyta lagi Bobo,'' papar Dyra kepada Farel yang berada di dekat pintu kamar Dyta.


Farel mengangguk lalu kemudian pergi meninggalkan Dyra. ''Kak Farel!'' Panggil Dyra lalu berlari mengejar Farel.


''Ayok main boneka,'' pinta anak itu seraya menjulurkan boneka Barbie miliknya kepada Farer.


‘’Kamu main sendiri saja, kalau perlu panggil Hasya. Jangan aku,'' jelas Farel mengacak rambut Dyra lalu berlalu pergi meninggalkan anak itu yang memegang boneka Barbie miliknya.


Farel masuk kedalam kamarnya untuk merehatkan tubunya yang mungil, namun pikirnya seperti orang dewasa saja.


Dia berpikir bagaiamana memulai percakapanya dengan kakak tertuanya. Padahal dia tau, jika Frezan lebih menyeramkan di banding Nathan.


Anak itu menatap langit-langit kamarnya lalu melirik jam di dinding, nanti dia akan mengajak Tegar bicara jika keponakanya itu sudah pulang sekolah.


***


Bali


Pukul sembilan pagi, Valen baru bangun dari tidurnya. Andai saja matahari tidak menerobos masuk kedalam kamarnya mungkin saja dia belum bangun.


Karna silau matahari membuatnya terpaksa membuka matanya. Valen mengambil ponselnya lalu melihat jam sudah pukul sembilan pagi.


Diliriknya Rifal belum juga bergeming meski wajahnya yang tampan sudah terkena matahari pagi.


‘’Fal, bangun,'' Valen menggoyangkan tangan Rifal. Namun suaminya itu tidak bergeming sama sekali.


''Ayok bangun. Kamu bilang mau ajak aku ke pantai buat main, jangan php lagi deh,'' rajuk Valen.


Valen berdiri dari tempat tidurnya lalu berjalan menuju jendela kamar. Dia membuka lebar gorden jendela kamarnya sehingga sinar matahari langsung menerpah wajah tampan Rifal lebih jelas.


Saat membuka gorden jendela kamar, Valen langsung di suguhkan pepohonan tinggi yang sangat rimbun. Serta suara burung yang berbunyi.


Valen menyungkirkan senyumannya. Saat melihat Rifal mulai membuka matanya. Hal pertama yang dilihat Rifal adalah wajah cantik milik Valen yang berdiri di depan jendela, seraya berkacak pinggang.


''Buruan bangun, katanya mau ke pantai,'' rajuk Valen kepada Rifal.


''Aku masih ngantuk sayang,'' jawab Rifal dengan suara serak khas bangun tidur.

__ADS_1


''Mau php lagi? Padahal kamu udah janji,'' Valen mulai mengeluarkan jurus ngambeknya kepada Rifal.


''Entar siang aja yah,'' pinta Rifal. Dia masih ingin tertidur.


''Kalau siang panas. Kamu nggak kasihan sama sama cal-“


Belum sempat Valen menyelesaikan perkataanya, Rifal sudah memotongnya.


''Iya-Iyya,'' ketus Rifal turun dari tempat tidurnya lalu masuk kedalam kamar mandi.


Valen tersenyum mengambang. ''Suami idaman.''


''Aku mandi dulu,'' kata Rifal mengambil handuk.


‘’Nggak usah mandi. Kita ke pantai kan mau mandi,'' protes Valen.


''Cukup kamu aja ya, Len malas mandi pagi,'' kesal Rifal.


‘’Bukan aku kok yang malas mandi,'' Valen membelah dirinya sendiri.


''Bukan kamu, tapi anak kita,'' ucap Rifal seraya tersenyum kecut.


''Itu tau.''


Rifal mendengarkan perkataan Valen tidak mandi ke pantai, dia hanya mencuci muka dan menggosok gigi.


Rifal mengenakan kaos dan celana sampai lutut. Sementara Valen mengenakan baju yang tidak terlalu seksi, dan celana melewati lutut.


''Fal,” panggil Valen.


''Hmm,” Rifal hanya membalasnya dengan deheman seraya menyisir rambutnya.


Rasanya sangat kurang bepergian tidak mandi. Namun ini semua perintah dari Valen yang wajib dia laksanakan.


''Kamu nggak bawa supir?'' Tanya Valen. Karna saat mengambil buah di kulkas tadi. Seseorang mengetuk pintu membawa kunci mobil.


''Nggak,'' jawab Rifal dengan singkat.


''Kamu kenapa sih jawabnya singkat? Kamu nggak ikhlas ke pantai? Yaudah kalau kamu nggak ikhlas, kita nggak usah pergi!” keluh Valen.


''Yaudah,'' tantang Rifal membuat Valen menghentakkan kakinya.


''Ok.''


‘’Yaudah Ok,'' balas Rifal.


‘’Kamu kenapa sih?”


“Kamu yang kenapa, Len?'' Tanya balik Rifal berusaha sabar menghadapi sikap Valen. ''Kita udah mau pergi, tapi kamu malah bilang kayak gitu,'' cemooh Rifal.

__ADS_1


‘’Karna kamu nggak ikhlas!''


''Kata siapa aku nggak ikhlas?” Gerutu Rifal.


''Nggak usah mempersulit deh, Len,'' keluh Rifal .


Dia kembali mengingat perktaan Daddynya, jika menghadapi mood wanita yang hamil itu lebih suli. Daripada menghadapi saingan bisnis.


''Yaudah Ayok,'' perintah Valen.


Rifal mengambil kunci mobil dan memakai kacamata hitam miliknya.


''Gaya banget sih,'' cibir Valen membuat Rifal tersenyum mengejek.


''Harus bergaya, siapa tau aja di sana ada bule cakep,'' canda Rifal.


''Sok ganteng!” Cemooh Valen berjalan lebih dulu meninggalkan Rifal.


Dia masuk kedalam mobil tanpa memakai sandal.


''Kamu sadar nggak sih, kamu nggak pake sandal.''


''Aku sengaja nggak pake sandal, biar aku biasa jalan-jalan di pasir pantai tanpa sandal. supaya kalau aku lahiran mudah,'' tutur Rifal membuat Rifal terdiam.


Padahal tadi dirinya ingin meledek Valen. Dia pikir Valen lupa memakai sandal karna saking semangatnya ingin ke pantai.


Mereka berdua mengobrol sepanjang perjalanan. Mereka berdua seakan akan lupa jika dia tadi berdebat sebelum berangkat ke pantai.


''Aku bakalan jadi suami yang siap siaga,'' songong Rifal sembari mengusap perut Valen.


‘’Gimana mau jadi suami siap siaga, ngehadapin mood orang hamil aja sudah,'' ledek Valen membuat Rifal tersenyum kecut.


‘’Padahal aku mau minta anak sepuluh, tapi lihat kamu hamil banyak tingkah, buat aku mengurungkan niat buat punya anak banyak.'' Terang Rifal dengan matanya fokus kedepan menyetir.


''Dua anak cukup,” lanjutnya seraya mengusap rambut Valen.


Valen hanya tertawa mendengar penuturan Rifal. Di sepanjang perjalanan Valen selalu di buat tertawa oleh tingkah Rifal yang sangat menyombongkan diri.


''Anak kita nanti nggak bakalan kekurangan apapun, selama Daddynya itu adalah aku.''


''Kalau anak cowok, dia akan tampan seperti Daddynya.''


''Jika dia cewek, maka dia akan sangat cantik seperti Mommynya.''


''Anak kita akan menjadi rebutan.''


''Anak Elga dan Rara bakalan kalah.''


Dan banyak lagi hal sombong di sebut Rifal membuat Valen hanya tertawa dan menggelengkan kepalnya.

__ADS_1


Melihat Rifal sangat bahagia akan mempunyai anak, membuat Valen ingin secepatnya melahirkan. Dia penasaran melihat wajah bahagia Rifal saat pertama kali meggendong anak.


Valen akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kandungannya. Dia tidak boleh kelelahan agar Rifal tidak mengkhawatirkan dirinya dan calon anak mereka.


__ADS_2