Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Ngambek


__ADS_3

Nando tertawa mendengar jawaban Lea dari seberang Telfon. ''Kamu suka bercanda aja.'' Nando menggelengkan kepalanya seraya berjalan menuju tempat tidurnya.


Pria yang usinya sudah matang untuk menikah itu langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


‘’Emangnya kalau orang sibuk menata masa depan itu bercanda?''


Lea bertanya membuat Nando tersenyum. ''Kamu tidak perlu menata masa depan yang cerah, Lea. Masa depan kamu akan cerah jika bersama saya.''


Lea berekspresi seperti orang ingin muntah, mendengar perkataan Nando.


‘’Udah berapa banyak wanita yang kak Nando giniin?'' Ketus Lea membuat Nando menyeritkan alisnya.


‘’Maksud kamu?'' Tanya Nando seraya bangun dari tempat tidurnya.


Lea memutar bola matanya malas, dia seperti sedang menelfon dengan orang polos. Padahal aslinya sesat.


''Kak Nando Playboy cap buntung.'' Lea berkata seraya temgkurap di tempat tidurnya.


''Saya emang Playboy. Bukan berarti saya mau menjanji semua wanita menuju halal.''


''Gimana yah supaya percaya omongan buaya?''


Nando tertawa lalu berkata. ''Kamu harus percaya sama saya.''


''Untuk apa Lea percaya omongan kak Nando?''


''Kamu harus percaya, jika hanya kamu yang saya inginkan menjadi ibu dari anak-anak ku kelak.''


Kini giliran Lea yang tertawa. ''Lea masih anak kecil. Masa iya anak kecil udah punya anak,‘’protes Lea seraya tertawa.


''Kamu pikir umur 19 itu masih bocah?'' gerundel Nando. Karna Lea selalu berpikir jika dia masih bocah.


Nando tau, jika Lea menganggap dirinya masih kecil karna usianya yang masih mudah. Dimana anak usia Lea masih bermain ke Mall, jalan-jalan bersama teman, menikmati masa muda mereka.


''Apa kamu tidak mau menikah dengan manusia tampan seperti saya?''


Mereka berdua asik mengobrol, hingga Lea tidak sadar jika sedari tadi mamahnya menguping obrolan anak gadisnya itu.


''Bukanya Lea nggak mau nikah sama Kak Nando. Hanya saja, Lea tidak mau cinta Lea ini jatuh sama pria yang salah.''


‘’Saya bisa mencintai kamu setulus hati, Lea,'' Nando berusaha meyakinkan Lea dari seberang Telfon.


Entah mengapa percakapan mereka langsung terarah kesini.


''Ketika buaya berbicara,'' ledek Lea membuat Nando tersenyum kecil.


''Pasti Rifal sudah menceritakan kejelakan saya pada kamu?'' Dramatis Nando. ‘’Padahal saya tidak seburuk itu.''

__ADS_1


Lea tertawa mendengar perkataan Nando.


‘’Meskipun profesi saya bukan dokter, seperti yang kamu idamkan. Tapi saya bisa membahagiakan mu, dengan gaji saya sebagai tangan kanan Rifal,'' lontar Nando.


''Jangan berharap dengan pria yang tidak mencintaimu, Lea. Cintamu akan habis pada pria yang tidak mencintaimu!'' Tentu saja perkataan Nando ini untuk kembali mengingatkan Lea untuk tidak berharap lebih pada Nathan.


‘’Tapi Lea yakin kok, dokter Nathan bakalan lirik Lea suatu saat.'' Lea meyakinkan dirinya sendiri.


‘’Sampai kapan? Sampai harga diri kamu jatuh-sejatuhnya dihadapan Nathan!'' decit Nando membuat hati Lea teriris saat Nando mengatakan sampai harga dirinya jatuh di hadapan dokter Nathan.


''Kalau ngomong filter dikit!'' gerutu Lea langsung mematikan telfonya secara sepihak.


''Halo…Halo!''


Nando memanggil nama Lea, lalu melihat ponselnya. Ternyata panggilannya sudah diakhiri oleh gadis itu.


''Apa saya terlalu kasar?'' Gumam pria itu menyesali perbuatanya sendiri.


Nando mengirimkan Lea pesan WhatsApp.


Saat ini Lea sedang uring-uringan diatas tempat tidurnya.


''Apa Lea murahan? Sampai-sampai kak Nando ngomong gitu?''


Tring


''Lea. Saya minta maaf. Maksud saya baik untuk mengingatkan kamu. Maaf, jika cara bicara saya yang kasar.''


Lea hanya membaca pesan whatsap dari Nando, lalu kembali melempar ponselnya agar berjauhan denganya.


''Oh dokter Nathan, apa Lea kurang cantik? Apa Lea kurang dewasa? Apa Lea bukan tipe dokter Nathan? Apa Lea masih bocah untuk dokter Nathan yang udah matang? Mungkin Lea terlalu beban jika di sandingkan dengan mu dokter Nathan, yang paket lengkap!''


''Apa yang Lea sebutkan, semuanya tidak ada pada diri lea!''


Dramatis gadis itu uring-uringan diatas tempat tidurnya. Dia memikirkan perkataan Nando tadi. ''Lea nggak murahan!'' Kesal Lea seraya mengigit boneka miliknya.


Tok….Tok…Tok


''Lea,'' panggil Novi membuat Lea langsung meneguk salivanya.


''Apa mamah dengar semuanya, yah?'' panik gadis itu.


''Lea!''


''Iya mah!''


‘’Bantu mama masak.''

__ADS_1


Lea langsung turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu. Padahal bisa saja mamahnya itu masuk karna pintu kamar tidak di kunci.


''Apa mamah sedari tadi di sini?'' Tanya Lea memastikan.


''Mamah baru aja kesini,'' bohong Novi seraya berjalan menuju dapur.


Lea mengekori Novi dari belakang. ‘’Beneran mah?''


''Iya. Emang kenapa sih?''


''Nggak apa-apa kok.'' Lea cengengesan sehingga memperlihatkan deretan gigihnya yang rapih tersusun bersih.


''Oh.''


Novi hanya ber 'oh' riah saja. Padahal dia mendengarkan dari A sampai Z. Dia tidak ingin mengatakanya, jika dia menguping pembicaraan anaknya itu.


Sekarang Lea sudah beranjak dewasa, Novi hanya membatin.


Lea membuka kulkas, lalu mengambil sayur terong, kangkung dan kacang panjang. Tiga jenis sayuran yang akan dia masak untuk menu malam ini.


Dia mengambil tiga jenis sayur. Karna Raka menyukai sayur terong sementara Riki menyukai sayur kangkung. Sementara Lea menyukai sayur kacang panjang . Kalau mamahnya hanya mengikut saja, karna semua jenis sayuran dia sukai.


''Mah,'' panggil Lea seraya memotong sayur terong.


''Iya,'' balas Novi tanpa mengalihkan pandanganya dari ikan yang dia bersihkan.


‘’Menurut mamah, cewek yang ngejar cowok duluan itu, murahan nggak sih?'' Tanya Lea yang membutuhkan jawaban yang tepat dari mamahnya.


''Jangan mengejar pria, jika dia sudah memberikan kode, jika dia tidak menyukai mu.''


Lea mengangguk lalu kemudian bertanya kembali. ‘’Menurut mamah, Lea cantik nggak sih?'' Tanya Lea lagi.


''Semua perempuan itu cantik, Lea.'' Lama-lama Novi ingin memakan anak gadisnya semdiri.


Lea tertawa. Lalu kembali melayangkan pertanyaannya. ''Menurut mamah gimana, kalau ada perempuan cantik yang ngejar pria tampan. Namun pria itu tetap menolak perempuan cantik itu?''


Novi melirik anak gadisnya itu, dia tau jika anaknya itu sangat mengharapkan jawaban darinya.


‘’Pria jika memilih, bukan hanya cantiknya saja. Percuma saja cantik, kalau tidak tau apa-apa. Bisa dikatakan wanita cantik yang mengejar pria itu bukan tipe pria ini.''


''Cantik tidak segalanya.''


Lea mengangguk mengerti, apa jawaban dari mamahnya membuatnya sadar? Tentu saja tidak.


Lea bakalan coba terus menerus. Lea bakalan berhenti ngejar dokter Nathan kalau dia udah punya perempuan buat dia jadikan istri


Lea melanjutkan memotong sayuran, sementara Novi tengah memasak ikan dan nasi.

__ADS_1


Kedua adik Lea sedang berada di kamar masing-masing. Raka sibuk dengan ponselnya bermain game. Sementara Riki sibuk dengan hapalanya.


__ADS_2