Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Hilang begitu saja


__ADS_3

Rifal menyandarkan kepalanya di kursi sofa sembari memejamkan matanya, dia masih memikirkan obrolannya dengan Adelia tadi dirumah sakit.


Rifal menyimpan tasnya diatas meja, sebentar akan ada art yang akan mengambil tasnya dan menyimpannya diruangan kerja.


Pria itu berjalan kearah dapur untuk mengambil air dingin karna tenggerokanya sangat kering minta di isi air es.


Rifal membuka lemari es untuk mengambil Tupperware berisi air. Dia meneguk air itu lalu ekor matanya tidak sengaja menangkap objek berwarna hijau.


Dia memasukkan kembali Tupperware itu lalu menutup kulkas. Dia berjalan kearah sesuatu yang dia lihat oleh ekor matanya tadi.


"Kelapa?" gumamnya seorang diri melihat buah kelapa ada lima serta kelapa yang sudah diambil isinya.


"Apa ada acara?" menolognya lagi..


Dia meninggalkan buah kelapa itu lalu membuka lemari es khusus untuk buah-buahan. Dia sudah melihat es kelapa dalam kulkas.


Tangannya bergerak untuk mengambil es kelapa itu yang menggiurkan. Es kelapa buatan Lea tadi.


Rifal berjalan meninggalkan dapur dengan es kelapa berada ditangannya. Rifal meletakkan es kelapa itu diatas meja siap untuk dia santap.


***


Valen bangun dari tidurnya, dia melirik jam diatas nakas sudah pukul empatore. Dia tidur mulai dari jam dua dan sekarang dia baru bangun. Mungkin saja, efek dia sedang hamil jadi bawaannya ingin tidur terus.


Valen bangun dari tempat tidurnya untuk segera mandi sore, karna dari pagi dia belum juga mandi.


Valen mengambil handuk tak lupa pula dia melihat kertas bertuliskan sesuatu dikertas berwarna putih itu.


Tangannya bergerak mengambil kertas putih itu untuk dia baca.


"Dokter Valen, es Kelapanya udah Lea buatin. Es Kelapanya Lea simpan dikulkas buah. Sebenarnya Lea mau bangunin dokter Valen tapi Lea nggak enak karna dokter Valen tidurnya nyenyak. Semogah aja dokter Lea suka es kelapa buatan Lea."


Valen tersenyum simpul membaca surat dari sosok Lea, yang merupakan tetangga rumahnya sendiri. Dia menyimpan surat itu didalam laci lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mandi.


Valen memejamkan matanya membiarkan air shower membasahi seluruh tubuhnya. Sekitar tiga puluh menit, Valen keluar kamar mandi menggunakan baju piyama berwarna merah marun.


Dia mengeringkan rambutnya lalu memakai sandalnya untuk segera turun.


Sementara Rifal sudah meninggalkan meja makan untuk segera naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Dianak tangga, Valen dan Rifal saling bertatapan dengan Valen ingin turun kebawah sedangkan Rifal sebaliknya. Mereka berdua saling bertatapan sehingga langkah kaki keduanya terhenti.

__ADS_1


Valen langsung melanjutkan langkah kakinya membiarkan Rifal menatap dirinya yang lebih dulu memutuskan kontak mata. Rifal memperhatikan Valen hingga gadis itu menginjak tangga terakhir dan berjalan ke dapur.


Rifal langsung melanjutkan langkah kakinya untuk segera naik keatas kamarnya.


Valen membuka kulkas buah dan dia tidak melihat es kelapa yang di tuliskan oleh Lea di surat tadi.


Dia hanya melihat buah-buahan yang berada dalam kulkas tidak ada es kelapa.


"Lea bilang di kulsa buah, kok nggak ada sih!" ucap Valen menutup kulkas buah itu sembari berkacak pinggang.


Dari tadi dia sudah membayangkan es kelapa yang akan dia santap, namun saat membuka kulkas buah sama sekali tidak ada.


Valen berjalan kearah kulkas air, siapa tau saja Lea menyimpan es kelapa itu didalam kulkas air bukan kulkas buah.


Valen menutup kembali kulkas itu, karna tidak mendapatkan apa yang dia cari.


Valen membuka handponenya dan menekan salah satu kontak yang tersimpan di Handphonya.


"Hal-" belum sempat seseorang itu meneruskan perkataannya Valen sudah mengoceh.


"Lea, es kelapa dikulkas mana?" tanya Valen diseberang telfon dengan tidak sabaranya membuat Lea menjauhkan handponenya dari telinganya karna suara Valen yang memekik.


"Es Kelapanya ada dikulkas buah kok," balas Lea diseberang telfon dengan mengusap matanya karna dia juga baru bangun saat mendengar handponenya berbunyi.


"Lea simpan di kul-"


"Kamu kesini, buktiin kalau ada!" Lepas mengatakan itu Valen mematikan handphonya dengan raut wajah kusut.


Sementara Lea membuka mulutnya sedikit karna kegalakan Valen yang tidak pernah Lea lihat selama mereka bertetangga.


Lea langsung bangun dari tempat tidurnya untuk mencuci wajahnya untuk segera kerumah Valen mencari es kelapa.


Jelas-jelas Lea menyimpan es kelapa itu didalam kulkas buah, dan Valen mengatakan tidak ada.


Dan tidak masuk akal jika es kelapa itu hilang begitu saja.


Tidak mungkinkan jika Art dirumahnya dengan lancangnya mengambil sesuatu yang diidamkan oleh Valen.


Tok....Tok....Tok....


Valen langsung melirik pintu yang diketuk, Valen langsung berjalan untuk membuka pintu dengan lesuh. Dia sudah tau jika yang mengetuk pintu adalah Lea sendiri.

__ADS_1


Ceklek


Valen langsung membuka pintu dan sudah melihat Lea dengan Cengengesan diambang pintu.


"Es Kelapanya udah ada, Dok?" tanya Lea dan dibalas gelengan kepala lesuh oleh Valen.


Pasalnya, Valen sudah membayangkan es kelapa itu menyentuh lidahnya.


"Biar Lea yang cari," kata Lea berjalan menuju dapur untuk mencari es kelapa.


Mata gadis itu melihat isi dalam kulkas, dan diapun tidak mendapatkan apa yang dia cari.


"Es kelapanya mana? Perasaan Lea simpan disini," menolog gadis itu menunjuk tempat yang sudah tidak ada apa-apa.


"Udah ketemu?" tanya Valen dari belakang dan dibalas gelengan kepala oleh Lea.


Lea menutup kulkas itu Lalu berhadapan dengan Valen dengan wajah kusut.


"Lea simpan kok es Kelapanya didalam. Kok nggak ada sih?" oceh gadis itu sembari mengingat jika dirinya tidak salah simpan.


"Apa jangan-jangan ada yang makan?" tanya Lea dengan menatap mata Valen.


"Siapa?" tanya Valen.


"Om Rifal," tebak Lea dengan mulut sedikit terbuka.


"Rifal nggak suka makan es kelapa," kata Valen masih dengan nada lesuh sembari berjalan ke meja makan dengan Lea mengekor dibelakang.


Valen langsung duduk dengan menaikkan tangannya diatas meja, memikirkan es kelapa yang sudah menjadi angan-angan belaka.


Mata Lea menyipit melihat benda yang tidak asing bagi matanya berada diatas meja makan.


"Nah ini dia!" pekik Lea melihat benda yang tidak asing baginya.


"Ini dia es kela....panya...." Perkataan gadis itu tercekat dilehernya melihat tempat itu sudah kosong sudah tidak ada isinya.


"Mana?" tanya Valen tidak melihat es kelapa ditempat yang dipegang oleh Lea, hanya ada bekas air gula merah sedikit.


"Es kelapanya dimakan sama seseorang," kata Lea dengan yakin," ini tempat es kelapa yang Lea simpan didalam kulkas. Dokter Valen bisa lihatkan sisa air didalam tempat ini," sambungnya dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.


"Tapi siapa yang makan?" tanya Valen.

__ADS_1


"Lea yakin, yang makan pasti om Rifal. Siapa sih nggak tergiur dengan makanan buatan, Lea," bangga gadis itu membuat Valen memutar bola matanya jengah.


__ADS_2