Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Bermain jetski


__ADS_3

Sudah menjelang Sore. Rifal dan Valen masih menghabiskan waktunya di pantai. Sudah berjam-jam mereka di pantai.


''Kita pulang,'' ajak Rifal kepada Valen.


''Yah, padahal aku belum cobain semua permainan di pantai ini,'' cemberut Valen dengan wajah seperti bayi.


‘’Satu lagi, baru kita pulang,'' tawar Rifal agar Valen tidak menawar lebih dulu.


''Dua yah,'' pintah Rifal.


‘’Kalau nggak mau satu, kita pulang sekarang,'' tantang Rifal dengan santai membuat mengangguk pasrah saja.


''Kamu mau main apa?''


''Aku mau naik jet Ski,'' tutur Valen dengan mata berbinar-binar. Sedari tadi dia ingin menaiki jet ski. Namun di larang oleh Rifal.


''Aku nggak ngizin kalau itu.'' Rifal menolak keras seraya berdiri dari pasir yang mereka duduki.


Pantai di Bali masih saja ramai, meski sudah sore hari. Bahkan pengunjung pantai semakin ramai.


‘’Please,'' mohon Valen dengan binar mata yang sangat memohon.


‘’Bahaya.''


''Aku nggak takut bahaya kalau ada kamu di sisi aku,'' ucap Valen dengan yakin kepada suaminya itu.


Rifal melirik Valen, yang tersenyum manis.


‘’Aku percaya sama kamu,'' lanjut Valen memegang tangan Rifal. ''Kita main jet ski yah.''


Rifal menimbang permohonan Valen sejenak. Istrinya saja percaya padanya, mengapa dia ragu kepada dirinya? Jika dia mampu menjaga dua nyawa.


Bermain jetski bukanlah suatu hal yang mudah. Di perlukan beberapa trik membawa jetski. Apa lagi jika kamu baru bermain jetski, jangan coba coba mencoba hal yang ekstrim apa lagi jika membawa pasangan kalian.


Maka dari itu, Rifal sangat tidak ingin memenuhi keinginan Valen yang satu ini. Dia tau, permainan ini sangat membahayakan nyawa jika belum mahir. Permainan jetski sudah membahayakan banyak nyawa karna banyaknya kendala.


Rifal sudah mahir bermain, namun jika membawa seseorang apa lagi istrinya membuat Rifal harus menimbang nimbang.


Apa lagi cuaca sore tidak menentu, Rifal melihat kearah laut. Melihat laut begitu tenang, namun bisa saja menipu.


''Fal,'' panggil Valen dengan penuh harap. '' ini permintaan terakhir aku ke kamu, buat menuhin keinginan aku. Aku mau banget naik jetski.'' Valen berkata seraya menggenggam tangan Rifal dengan kua. ''Aku percaya, kamu bisa jaga aku.'''


''Aku ambil pelampung dulu.'' Rifal akhirnya mau menuruti keinginan Valen yang sedari tadi ingin menaiki jet ski. Meski dia harus berpikir keras.


Rifal berlari mengambil dua pelampung, untuk dirinya dan juga Valen.


Setelah mengambil pelampung Rifal kembali menghampiri dengan membawa pelampung.


''Pakai pelampung dulu,'' tutur Rifal seraya memakaikan Valen pelampung.

__ADS_1


Dia sudah menyuruh seseorang untuk menyiapkan Jet ski. Terlebih dahulu Rifal menyuruh orang itu untuk memeriksa terlebih dahulu jet ski yang akan dia gunakan.


Dia tidak mau, jika Valen dan calon anaknya akan kenapa-napa.


Setelah memakai pelampung, Rifal menggandeng tangan Valen ke tempat jet ski.


Senangnya kalau keinginan di kabulin.


Valen tersenyum hangat melihat tanganya di genggam erat oleh Rifal.


Rifal naik keatas jet ski, yang siap dia pakai bersama Valen.


Rifal naik keatas jet ski di susul oleh Valen. ‘’Pegangan yang erat,'' perintah Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.


''Iya sayang,'' balas Valen.


Valen memeluk erat pinggang suaminya.


''Udah siap?'' Tanya Rifal memastikan jika istrinya sudah siap.


''Iya!'' Balas Valen dengan semangat empat lima.


Angin pantai akan semakin terasa jika mereka naik jet Ski.


Rifal memutar kunci jet ski, untuk menyalakan mesin jet ski lalu dia menekan tombol start. Rifal langsung menancapkan gas jet ski.


Rambut Valen berterbangan, jangan lupa pula tanganya memeluk erat Valen.


‘’Jangan banyak gaya, entar jatuh. Peluk erat aja!'' balas teriak Rifal seraya memainkan gas jet ski yang dia kendarai.


''Iya!''


Rifal merasa senang melihat Valen juga senang, sedari tadi istrinya itu menginginkan naik jet ski. Hanya dia saja yang takut.


Padahal, dia bisa meyakinkan pada dirinya sendiri jika dia bisa menjaga Valen. Apa lagi dia sudah mahir mengenakan Jet ski.


''Fal, aku mau rentangin tangan aku!''


Rifal mengundurkan gas jet ski. ‘’Jangan aneh-aneh,'' tegur Rifal.


''Makanya, kamu bawa jet ski pelan. Biar aku nggak jatuh. Aku mau kayak mereka!'' Tunjuk Valen pada pasangan kekasih yang menggunakan ket ski juga.


Wanitanya merentangkan tanganya seraya melepaskan tawanya, seperti melepaskan seluruh beban yang ada pada dirinya.


Rifal melirik arah yang di tunjuk Valen. ''Tapi sebentar saja,'' perintah Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.


Rifal mulai kembali menjalankan jet ski. Dengan lari sedang.


Valen mulai merentangkan tanganya dengan rambutnya yang berterbangan membuatnya semakin cantik.

__ADS_1


''Tuhan, aku bahagia bisa di cintai suami seperti Rifal. aku beruntung mempunyai suami seperti dia!'' teriak Valen lalu kemudian tertawa kecil.


Sementara Rifal tersenyum mendengar teriakan Valen.


''Aku mencintai suami ku!''


''Aku menyayangi Rifal!''


''Aku tidak ingin dia di miliki wanita lain!''


‘’Meskipun dia songong, aku tetap mencintainya!''


Valen tertawa lepas setelah berteriak. ''Tuhan, aku mencintai lelaki yang bersamaku sekarang. Jangan pisahkan aku dan dia karna manusia. Tapi pisahkan lah karna maut!''


Mendengar teriakan Valen membuat hati Rifal bahagia dan terenyah.


Valen sudah berhenti berteriak. ''Ambil lah aku lebih dulu. Karna aku tidak rela jika engkau mengambil lebih dulu orang yang aku cintai saat ini!'' Rifal tidak tinggal diam. Dia juga berteriak membuat Valen tertawa.


Lalu mereka berdua tertawa bahagia diatas jet ski.


''Aku mencintai Valen!''


''Aku tidak bisa hidup tanpanya, aku akan gila jika dia pergi meninggalkan ku, karna dokter Nathan!''


Valen semakin tertawa mendengar teriakan Rifal yang membawa nama Dokter Nathan.


''Aku akan menjadi siap siap siaga. Aku akan menjadi orang tua dan suami yang baik untuk calon anak ku dan istriku!''


''Akan ku pastikan, mereka berdua tidak akan kekurangan uang. Terutama kasih sayang!''


Valen hanya bisa tertawa mendengar Rifal. Rifal mulai songong kembali dengan harta yang dia miliki.


''Aku mencintaimu Valensia!''


Valen tersenyum bahagia, lalu kemudian Rifal melirik Valen yang tengah memeluk dirinya.


‘’Cium dulu,'' perintah Rifal menunjuk Pipihnya.


Cup


Ciuman mendarat di pipih milik Rifal.


‘’Tumben cium pipih pake lama,'' goda Rifal membuat Valen tersenyum geli. Dia belum menjawab pertanyaan Rifal.


Dia masih sibuk mencium pipih suaminya begitu kuat.


‘’Karna aku mencintaimu,'' balas Valen setelah beberapa menit mencium pipih suaminya.


‘’Kebahagian ku semakin bertambah, karna kehadiran buah hati kita, sayang. Aku mencintai kalian berdua.''

__ADS_1


Valen tersenyum. ''Aku juga bahagia, aku sudah tidak sabar melihat kehadiran anak kita. Dan melihat kamu menggendong dia.''


__ADS_2