
Valen keluar dari ruangan operasi pukul 23:40 WIB. Peralatan medis yang dia kenakan langsung dia lepaskan lalu dia buang di tempat sampah alat yang hanya sekali pakai.
Valen terlebih dahulu mencuci tanganya menggunakan sabun cair dengan bersih. Lepas itu dia mengeringkan tanganya.
“Makasih atas kerja samanya dokter Valen!” kata dokter Hamka.
Valen tersenyum kearah dokter paruh baya di hadapnya. “Sama-sama dok!” balas Valen.
“Kalau begitu saya duluan. Selamat beristirahat!” pamit dokter Hamka dan dibalas anggukan kepala oleh Valen disertai dengan senyuman.
Valen langsung pergi untuk segera ke ruangan rawat Rifal, dia ingin melihat kondisi suaminya sendiri. Valen harap Rifal sudah sadar.
Valen masuk kedalam ruangan Rifal, dia melihat perawat tersebut sedang duduk sembari memperhatikan Rifal.
“Dokter Valen,” sapa perawat tersebut.
“Makasih sudah menjaga suami saya,” ucap Valen pada perawat tersebut.
“Sama-sama dok. Oh iya dok. Suami dokter tadi tanganya bergerak, Seperinya pasien berusaha untuk bangun,” kata perawat tersebut membuat Valen langsung mendekati Rifal dan memeriksa tangan Rifal yang sudah tidak bergerak lagi.
“Seperinya tanganya sudah tidak bergerak lagi, padahal tadi tanganya bergerak, saya ingin memanggil dokter Valen namun dokter sedang melakukan operasi,” jelas perawat tersebut pada Valen.
“Tidak apa-apa,” kata Valen sibuk memperhatikan kondisi suaminya. Valen bernafas legah karna kondisi Rifal sudah membaik, tinggal menunggu pria itu membuka matanya dan mengajaknya bicara.
Perawat yang menjaga Rifal tadi langsung pamit untuk segera keluar karna ingin segera beristirahat. Dokter Kiki sudah mengatakan pada perawat tersebut untuk tidak mengatakan jika dia yang tadi menggantikan posisinya sejenak. Dokter Kiki tidak ingin sampai Valen jadi salah paham.
Valen mendekatkan bibirnya di dekat telinga Rifal. “Ayo bangun sayang, anak kamu rindu usapan tangan kamu,” bisik Valen sembari terkekeh geli.
“I love you Asrifal,” bisiknya lagi lalu menjauhkan tubuhnya dari Rifal karna ingin membersihkan tubuhnya dulu sebelum beristirahat.
Valen langsung masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi, tanpa dia perhatikan jika tangan milik Rifal bergerak.
Valen sedang berendam diatas bathtub sembari memejamkan matanya dengan wangi sabun yang memenangkan pikirannya setelah bekerja semalaman.
Di tambah lagi pikirannya yang berkelana.
__ADS_1
Valen membuka matanya sembari mengusap Perutnya. “Mama udah nggak sabar lihat kamu hadir di dunia ini,” menolog Valen seorang diri sembari mengusap perutanya .”Pasti Daddy kamu semakin senang!” lanjutnya sembari terkekeh memanggil Rifal dengan sebutan Daddy.
Karna Rifal sendiri yang ingin jika anaknya lahir nanti, anaknya itu memanggilnya dengan sebutan Daddy.
Valen langsung menyiram tubuhnya dengan air Shower, karna dia sudah hampir satu jam di dalam kamar mandi berendam, sebenarnya dia masih ingin berendam karna mampu menghilangkan sedikit bebanya namun ini sudah tengah malam tidak baik untuk kesehatannya dan juga bayinya, apa lagi jika Rifal tau dia berendam tengah malam selama ini.
Valen memakai baju tidurnya, karna dia sudha membawa pakaian masuk kedalam kamar mandi tadi.
Valen sudah memakai pakainya, dia langsung keluar kamar mandi. Dia mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
“Harus berapa lama aku menunggu?!”
Deg
Suara lemah namun terkesan tegas membuat pergerakan tangan Valen yang mengeringkan rambutnya terhenti.
Dia tidak salah dengarkan?
Valen langsung membalikkan badanya, matanya dengan mata Rifal bertemu membuat Valen langsung membuang handuknya dan langsung berlari kearah bansal Rifal.
Wangi tubuh Valen yang wangi membuat Rifal menghirupnya dengan dalam menbuatnya semakin tenang dengan wangi badan Valen.
Rifal membalas pelukan Valen. “Kamu kira cuman kamu yang rindu? Aku juga merindukan mu!” Balas Rifal membuat Valen semakin terisak. Baru ada lima hari Rifal tidak sadarkan diri membuat Valen merindukan pria itu. Apa lagi jika Rifal pergi meninggalkan dirinya karna kecelakaan ini dengan kondisinya yang sedang hamil anak pertama mereka.
Rifal mengusap air mata Valen, menangis di tengah malam membuat Rifal ingin menyuruh Valen untuk mengakhiri tangisnya.
“Jangan menangis tengah malam begini,” kata Rifal sembari mengusap air mata Valen dengan ibu jarinya.
“Aku khawatir sama kamu hiks….Hiks!” tangis Valen lalu kembali memeluk Rifal membuat Rifal tersenyum.
Dia mengusap punggung Valen.
“Kamu khawatir sama aku, tapi kamu lama di kamar mandi!” Kesal Rifal pada Valen.
“Apa kamu tidak tau, saat kamu masuk kamar mandi aku sudah bangun!” kata Rifal dengan kesal membuat Valen tertawa kecil.
__ADS_1
“Aku bersyukur kamu sudah sadar!”
Rifal tersenyum sangat manis. “Aku senang kamu bahagia, tapi kamu cuman mimpi!” ucap Rifal sembari tersenyum membuat Valen semakin terisak.
“Aku nggak mimpi. Kamu udah sadar!” tangisnya pecah begitu saja.
“Valen!” Nando berulang kali menepuk pipi Valen dengan lembut karna perempuan itu sedari tadi menangis.
“Aku nggak mimpi, kamu udah sadar!”
Seperinya Valen sedang bermimpi.
“Dokter Valen bangun!”
Valen langsung membuka matanya, jangan lupa matanya yang berlinang air mata.
Valen langsung memeluk Nando sembari terisak, membuat Nando mengerti apa yang di rasakan oleh Valen saat ini.
“Gue kira gue nggak mimpi Rifal udah bangun!” Isaknya membuat Nando terhanyut dengan apa yang di katakan oleh dokter Valen.
“Kamu harus banyak istirahat, kamu mimpi karna kamu kecapean memikirkan ini, jangan terlalu di pikirkan Rifal akan baik-baik saja,” nasehat Nando dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
Saat Valen mimpi tadi dia tertidur di sofa, lepas mengeringkan rambutnya dia menyandarkan kepalanya di sofa memejamkan matanya hingga tidak terasa dia tertidur.
Sudah pukul tiga dini hari, Valen melanjutkan tidurnya diatas sofa yang luas dan empuk. Untung saja Nando datang dan langsung kaget saat membuka pintu mendengar isakan tangis dari dalam.
Nando baru slesai mengerjakan pekerjaan kantor, yang selama lima hari ini di tinggalkan oleh Rifal. Apa lagi dia hanya sendiri mengerjakannya karna Amora izin sementara untuk mengurus Adelia yang sedang sakit juga.
Nando belum tidur, selesai dari kantor dia langsung kesini. Nando duduk di sofa paling sudut lalu memejamkan matanya untuk segera tidur karna besok dia akan kerja lagi di kantor.
Terlihat dari wajah Nando yang sangat letih, seharian tidak beristirahat karna sibuk menghandel pekerjaan kantor. Apa lagi hanya dia saja orang kepercayan Rifal untuk mengurus kantor.
Nando mendudukkan bokongnya di kursi sofa sebelah sana untuk istirahat sejenak. Karna tidak lama lagi pagi akan tiba.
Nando memejamkan matanya untuk tidur sebentar sebelum dia akan bekerja untuk mengandel pekerjaan Rifal selama pria itu tidka bangun dari semenjak dia kecelakaan.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama Nando tertidur.