Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Memandikan Rifal


__ADS_3

Pagi ini Valen ingin memandikan Rifal, karna sudah satu minggu pria itu tidak mandi. Sehingga dia tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri yang lengket.


“Aku mandiin yah,” kata Valen mendorong kursi roda ke dekat bansal milik Rifal.


Rifal tersenyum meremehkan, dengan kondisinya seperti ini, Rifal tidak bisa apa-apa. Makan saja di suap oleh Valen ingin ke kamar mandi di tuntun oleh Valen.


“Yakin?” Goda Rifal membuat Valen menganggukkan kepalanya meski Rifal tidak dapat melihatnya dia tetap mengangguk.


“Entar kamu tergoda,” lanjut Rifal membuat Valen tertawa.


“Mana mungkin kamu tau kalau aku tergoda?” Tanya Valen kembali menggoda Rifal membuat Rifal juga ikutan tertawa.


“Nggak usah mandiin aku,” kata Rifal dengan santai. “Suruh aja perawat cewek mandiin aku, pasti dia mau.”


“Fal!” gemes Valen. “Kamu yah, kondisi kayak gini banyak tingkah banget,” kesalnya lalu menggenggam tangan Rifal.


“Aku juga serius, kamu nggak perlu repot mandiin aku. Kamu harus banyak istirahat, dan ingat jaga kondisi kamu, karna kamu sedang hamil,” kata Rifal membuat Valen mencubit pipih Rifal.


“Iya, aku tau.”


“Tapi aku mau mandiin kamu, aku nggak rela dunia akhirat kalau perawat cewek yang mandiin kamu,” kata Valen lagi.


“Emangnya kenapa?”


“Entar kamu tergoda!”


Rifal terkekeh, dalam keadaan gelap dia bisa memastikan jika wajah Valen saat ini kesal padanya.


“Aku cuman bercanda.”


“Yaudah, aku bantuin kamu turun dari bansal. Kamu harus mandi pagi. Nggak baik mandi siang,” kata Valen.


“Makasih,” kata Rifal.


“Sama-sama,” balas Valen dengan senyuman menerkah di wajahnya.


Valen menuntun Rifal turun dari bansal, untuk segera duduk di kursi roda. Dia yang akan mendorong Rifal untuk ke kamar mandi untuk segera mandi.


“Kenapa?” Tanya Valen saat Rifal memegang tanganya, sehingga dia tidak bisa mendorong kursi roda.


“Makasih kamu masih mau di sini, dengan kondisi aku kayak gini,” kata Rifal dengan matanya menuju kedepan dan hanya melihat kegelapan saja. Dia masih menggenggam tangan Valen.


Valen menggenggam tangan Rifal lalu duduk di hadapan Rifal. “Aku yakin, kamu bakalan segera melihat.” Valen berusaha meyakinkan Rifal.


Rifal mengangkat sudut bibirnya tersenyum,”kalau kamu sampai ninggalin aku dalam keadaan seperti ini, sudah ku pastikan setelah aku melihat, aku bakalan ngejar kamu ke manapun kamu pergi, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun!” Seloroh Rifal kepada Valen membuat Valen terkekeh.

__ADS_1


“Dalam keadaan seperti ini, kamu masih lancar yang ngancamnya,” papar Valen membuat Rifal kembali menarik sudut bibirnya berbentuk senyuman.


“Kenapa? Kamu nggak suka?”


“Aku suka, segala apapun yang kamu bilang aku suka,” kata Valen lalu mendorong kursi roda Rifal.


Jika dia meladeni Rifal, bisa-bisa dia kesiangan memandikan Rifal.


“Mau saya bantu mandikan bos Rifal?” Tanya Nando yang tiba-tiba muncul di depan pintu ruangan Rifal membawa baju untuk Rifal.


Baru saja Valen ingin menutup kamar mandi, karna mendengar suara Nando dia mengurungkan niatnya menutup pintu.


Smenetara Rifal yang mendengar suara Nando, memasang raut wajah kesal.


“Nggak usah lo, Nan. Lebih baik lo urus urusan kantor!” sungut Rifal, terhadap Nando yang tidak dia lihat di mana pria itu.


“Andi bos Rifal tau, tidur saya bahkan hanya beberapa jam saja, karna mengerjakan tugas kantor yang seharusnya bos kerjakan,” dramatis Nando membuat Valen menggelengkan kepalanya.


Apa yang di katakan Nando memang benar, jika selama Rifal sakit dia yang menghandel pekerjaan kantor sehingga waktu tidurnya sangat kurang.


“Kenapa nggak nyuruh sekretaris pilihan lo itu buat bantu pekerjaan lo!” decih Rifal.


“Amora minta izin,” kata Nando dengan santai. Seakan-akan dia adalah bos.


“Terus?” Tanya Rifal dengan datar.


“Yang bos siapa? Gue atau lo?” Seloroh Rifal pada Nando. Meski dia tidak tau di mana pria itu berdiri.


“Heheheh….Selama pekerjaan bos yang saya lakuin, berarti saya bos…Lebih tepatnya bos sementara.”


“Nando!” geram Rifal.


Valen langsung menutup pintu kamar mandi. Jika membiarkan Rifal dan Nando berdebat akan membuang waktu begitu saja.


“Mandi air hangat yah,” kata Valen sembari menyiapkan air hangat untuk Rifal diatas buthub.


“Nando tengil mana?” tanya Rifal. Rifal masih di kursi roda, sementara Valen masih menyiapkan air untuk Rifal.


“Kenapa nyariin Nando? Apa jangan-jangan kamu mau beneran di mandiin Nando?” Canda Valen membuat Rifal tersenyum kecut.


“Ngapain aku nyuruh Nando mandiin aku, kalau kamu ada.”


“Va, apa kamu tau?” Tanya Rifal.


“Apa?”tanya Valen dengan santai,

__ADS_1


Rifal menyungkirkan senyuman jenakannya,”dalam agama, mandi sama suami bakalan banyak pahalanya loh, Va.”


Deg


Seketika tangan Valen terhenti mengambil sabun, dia berpikir, apakah Rifal mengodenya untuk mandi bersama?


“Mau nggak?”


Rifal melayangkan pertanyaannya, “mau,” jawabnya membuat Rifal langsung terkekeh.


Dia pikir, Valen akan menolak namun dia salah. Karna wanita itu mau mandi bersamanya.


Valen langsung membantu Rifal berdiri dari kursi roda, Rifal berdiri dengan tegak menunggu proses selanjutnya yaitu Valen membuka baju yang dia kenakan.


Valen berhadapan dengan Rifal, dia merasa gugup membuka baju Rifal.


“Kenapa diam?“ tanya Rifal karna Valen belum juga bergerak membuka bajunya.


“Eh iya…” gelagat Valen lalu mulai membuka baju yang di kenakan oleh Rifal.


Sehingga otot-otot tubuh Rifal dapat dilihat dengan jelas oleh Valen. Valen meneguk salivanya dengan susah payah melihat tubuh Rifal yang sangat putih bersih.


“Bawahnya lagi,” ucap Rifal karna Valen hanya diam saja.


“Fal, kamu nggak bisa buka sendiri?” Tanya Valen dengan ragu-ragu. Takut jika pria itu tersinggung.


Rifal tersenyum jenaka. “Kamu harus tanggung jawab, kamu yang membuka diatas, jadi kamu juga harus membuka yang di bawa,” kata Rifal dengan santai.


Tangan Valen langsung bergerak membuka celana Rifal, dia menutup matanya.


“Udah,” kata Valen setelah berhasil membuka seluruh pakaian Rifal, sehingga dia bisa melihat tubuh Rifal tanpa sehelai benang.


Valen langsung menuntun Rifal menuju bathub untuk mandi.


Rifal langsung memejamkan matanya, saat air hangat langsung menyentuh kulit tubuhnya, sudah satu minggu dia tidak bersentuhan dengan air membuatnya merasa legah.


Wangi sabun yang sangat wangi membuat pikiran Rifal jadi tenang, dia melupakan sedikit masalah mengenai dirinya yang buta.


Dia memejamkan matanya, meski dia tidak memejamkan matanya sama saja dia tidak melihat apapun.


Rifal membuka matanya, sembari merabah di dekatnya.


“Katanya mau mandi bareng, kok belum turun Disini?” Tanya Rifal sembari menyeritkan alisnya.


“Aku malu,” kata Valen dengan pipinya merah merona.

__ADS_1


Rifal tentunya terkekeh. “Kamu nggak usah malu. Kamu lupa kalau aku nggak bisa lihat?” kata Rifal dengan santai membuat Valen ikutan tertawa kecil.


__ADS_2