
"Kalau sakit nggak usah kerumah sakit buat kerja," kata Nathan kepada Valen membuat Valen hanya mengangguk kecil.
"Makasih sudah kasi obat," kata Valen kepada Nathan.
Nathan tersenyum ke arah Valen dengan senyuman manisnya," gue bakalan selalu nungguin lo, Len," kata Nathan membuat Valen jadi terdiam.
Apa benar masih ada laki-laki seperti Nathan? Yang ingin bersama dengan perempuan yang sudah tidak apa-apa berharga dari dirinya karna sudah direnggut oleh sang suami. Tapi, apakah Nathan benar-benar serius kepada Valen? Jika dia menerima perempuan itu apa adanya.
Seorang perawat datang membawa nampan berisi makanan. Perawat itu pamit dengan Nathan dan juga Valen setelah meletakkan bubur diatas meja Valen.
"Gue tau lo mual," kata Nathan kepada Valen. "Jadi gue bawaain makanan," sambungnya dengan senyuman melekat diwajahnya.
Valen menatap Nathan. Benar saja dia sedang lapar saat ini karena pagi tadi dia tidak mood untuk sarapan pagi.
Mata Valen dan Nathan saling bertemu, entah mengapa Valen sangat sensitif mendapatkan perhatian yang tulus dirasakan oleh Valen dari Nathan.
Air mata Valen turun di pipihnya, entah mengapa perhatian Nathan mampu membuat hatinya teriris.
Deg
Jantung Nathan berdesir saat Valen memeluknya dengan tiba-tiba. Ada apa dengan Valen yang memeluk Nathan dengan tiba-tiba?
Nathan belum membalas pelukan dari Valen saat ini. Dia masih mencernah apa yang sedang terjadi saat ini juga.
Tangan Nathan bergerak untuk membalas pelukan Valen. Valen menangis dalam pelukan Nathan padahal perhatian kecil dari Nathan mampu membuatnya sesedih ini. Valen tidak tau kenapa dia refleks memeluk Nathan. Fikiran dan hatinya tidak sejalan saat ini juga.
Sekian mereka saling berpelukan dalam ruangan Valen. Valen melepaskan pelukannya dari Nathan dengan matanya yang sembab karna menangis.
Katakan jika hari ini hatinya sangat sensitif, moodnya serasa dimainkan.
Nathan menghapus jejak air mata Valen. Valen tidak bergerak sama sekali, dia mengizinkan Nathan untuk melakukan tindakanya.
"Valen, gue terima lo apa adanya."
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, tangan seseorang yang bersembunyi dari balik tembok dekat pintu ruangan Valen terkepal kuat. Dia menyaksikan semuanya, mulai dari perhatian yang diberikan Nathan hingga mereka berpelukan .
Dia langsung pergi begitu saja, niatnya ingin menghampiri Valen karna dia juga khawatir dengan keadaan Valen. Karna Valen dia tidak konsen bekerja di kantor, namun saat dia sampai dia disuguhkan pemandangan yang membuat kepalanya seperti ingin mengeluarkan asap.
Yah, dia adalah sosok Rifal.
Rifal langsung masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya untuk segera pulang. Valen dan Nathan tidak mengetahui kehadiran Rifal tadi.
***
Rara sedari tadi membujuk Farel untuk makan. Namun anak berusia 9 tahun itu menolak keras untuk makan. Dia hanya ingin makan jika yang menyuapi dirinya adalah Reta, sang Mamih.
"Farel." Rara mulai membujuk anak sembilan tahun itu, dengan makanan berada ditangannya. Agar anak itu mau makan.
"Kamu makan yah sayang, entar kamu sakit," bujuk Rara namun Farel menggelengkan kepalanya tanda dia tidak ingin makan saat ini.
Farel berada di Jakarta, ikut besama Frezan dan juga Nathan, karna Alex sudah meninggal dan Reta sudah menikah dengan orang lain. Rara juga masih tidak percaya jika Reta sudah menikah jauh sebelum Alex sakit. Pantas saja jika Reta selalu keluar negeri.
Rara tidak mempunyai hak untuk melarang Reta menikah lagi. Namun, perbuatan Reta yang menikah dengan orang lain padahal dia masih sah dengan pernikahannya dengan Alex.
"Farel, Mamih kamu sibuk sayang," kata Rara dan dibalas gelengan kepala oleh Farel.
"Farel udah kenal Mamih, sesibuk apapun Mamih pasti bakalan ingetin Farel buat makan di vc," kata anak itu membuat Rara tidak bisa membantah perkataan anak itu lagi.
Rara meletakkan makanan Farel diatas meja.
"Kamu tunggu disini yah, Tante bakalan nyuruh kak Eza buat telfon Mamih kamu," kata Rara meski dia tidak yakin dengan perkataannya. Karna Frezan sangat sensitif jika menyangkut Reta.
Apa lagi, dia tambah membenci Reta karna menikah padahal dia masih mempunyai suami saat itu, dan dia lebih memilih bersama suaminya daripada bersama anaknya.
Farel melirik Rara," beneran, Tante Rara bakalan nyuruh bang Eza telfon, Mamih?" kata anak itu dengan antusias serta senyuman diwajahnya.
Rara semakin bersalah jika dia tidak berhasil menyuruh Frezan untuk menelfon Reta. Pasalnya, Farel tidak ingin makan jika Reta tidak vc denganya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Tante usahain, yah." Sepertinya Rara juga sudah terbawa suasana dengan perkataan Farel yang selalu memanggilnya Tante.
It's Oky, tidak masalah bagi Rara selagi masih wajar.
Rara sedang berada diruangan keluarga, sembari menunggu kedatangan Frezan pulang dari kantor.
Rara tidak tau, apakah Frezan akan menghubungi Reta nantinya atau tidak? Namun, Rara akan berusaha demi Farel.
***
BRAK
Terdengar suara pintu ditutup dengan kasar, sang pelaku tak lain dan tak bukan adalah sosok Rifal yang membanting pintu kamarnya penuh dengan kemarahan. Untung saja pintu kamarnya tidak murahan.
Rifal langsung mendudukkan bokongnya di kursi sofa kamarnya. Dia melirik jam di dinding kamarnya. Dia ingin secepatnya malam, karna dia ingin ke club.
Perkataan Nathan tadi membuat Rifal terngiang-ngiang. Entahlah, apakah dia cemburu? Bakalan ada yang memeluk Valen jika Rifal melepaskan sosok Valen. Bahkan, Nathan menerima Valen apa adanya meski dia sudah tau apa yang sudah dialami oleh Valen dan Rifal setelah menikah. Karna bagaimanapun sosok Rifal merupakan pria dewasa.
Rifal tersenyum samar, dia tidak menyangka jika yang memulai memeluk Nathan adalah sosok Valen.
"Dasar murahan!" desis Rifal dengan tangan terkepal mengingat dimana Valen memeluk Nathan.
Padahal, niat Rifal tadi baik untuk mengecek keadaan Valen. Namun apa yang dia dapatkan? Dia melihat istrinya berpelukan dengan pria lain.
***
Nathan sudah keluar dari ruangan Valen, karna Valen ingin beristirahat karna dia letih. Padahal dia tidak melakukan apa-apa tapi gadis itu merasakan kecapean seperti bekerja setiap saat.
Nathan menutup pintu ruangan Valen. Dia memejamkan matanya, didepan pintu ruangan Valen. Sebagai seorang dokter Nathan sudah peka apa yang dia alami. Meski tidak terlalu yakin, namun Nathan mempunyai kemungkinan besar tentang Valen. Apa lagi Valen merupakan seorang istri.
"Semogah hanya fikiran gue," menolog Nathan lalu pergi.
Nathan berjalan di koridor rumah sakit, langkah kakinya membawanya untuk segera ke kantin. Karna dia juga lapar belum sempat sarapan pagi tadi.
__ADS_1
"Takdir sudah ada yang atur," menolog Nathan lalu membuka pintu kantin yang terkhusus untuk para dokter.