
Valen masih memikirkan apa yang Rifal katakan kepadanya, jika dia menemani Rifal disini menunggu Nando otomatis dia tidak akan ke rumah sakit.
Karna Rifal mengatakan dia mau menunggu Nando sampai bangun jika Valen menemani dirinya.
"Tapi aku piket malam, Val," kata Valen membuat Rifal mengangkat kedua bahunya.
"Kalau gitu yaudah, biarin aja Nando sendiri disini," kata Rifal santai membuat Valen langsung melototkan matanya kearah Rifal.
"Kamu tungguin, Fal. Kan kamu yang buat dia kayak gini," kata Valen menunjuk pada Nando yang sudah tertidur lelap.
"Kalau kamu nggak nemenin, aku nggak mau jagain sih Nando. Udah buat kesalahan jadi beban lagi!" desis Rifal membuat Valen langsung melemparkan Rifal bantal.
"Kamu tega banget sih!" kesal Rifal.
"Jangan marah sama aku, marah sama dia," Rifal menunjuk Nando yang tertidur pulas tanpa beban.
"Yah nggak bisa salahin asisten kamu. Karna dia lagi dalam pengaruh obat bius," kata Valen membuat Rifal memutar bola matanya malas.
"Kenapa nyalahin aku sih, Va?" kata Rifal.
"Aku nggak nyalahin kamu, Fal. Kan emang salah kamu nyenggol lengan aku sampai dia beneran di suntik pake bius. Jadi itu kesalahan kamu. Jadi kamu harus nemenin dia sampai pagi," kata Valen yang tak ingin kalah oleh Rifal.
"Tapi yang buat kesalahan pertama itu Nando. Dia bohong sama bosnya sendiri dengan alasan sakit."
"Tetap aja kamu yang salah, Fal!"
"Iya, aku yang salah. Kamu yang benar," kata Rifal finis membuat Valen tersenyum kearah Rifal.
Akhir-akhir ini Valen sangat suka berdebat dengan Rifal membuat Rifal harus mengakhiri debat jika tidak ingin berdebat lama-lama dengan Valen.
"Jadi, kamu yang harus temenin Nando sampai dia bangun," kata Valen.
"Asal ada kamu."
"Tapi aku ada piket mal-"
"Aku nggak suka di bantah, Valensia," kata Rifal dengan pelan namun penuh dengan penekanan membuat nyali Valen menciut.
"Kalau aku mau egois. Sejak aku tau kamu hamil aku udah nggak bakalan kasi kamu izin buat kerja. Tapi aku pikir lagi, tugas kamu mulia, tapi tugas kamu jangan sampai membuat kamu lupa kewajiban kamu sebagai seorang istri terhadap suaminya," kata Rifal membuat Valen semakin mati kutu dengan perkataan pria itu.
"Jadi gimana? Semuanya terserah kamu sih," kata Rifal santai kepada Valen."
"Yaudah," kata Valen dengan lesuh.
"Yaudah apa?"
"Yaudah aku temenin kamu disini." Sebentar malam Valen tidak akan piket bersama dengan Nathan karna dia akan menemani Rifal.
__ADS_1
Rifal tersenyum manis kearah Valen. "Istri yang baik."
Valen tersenyum masam kearah Rifal lalu Valen mendekat kearah Nando.
"Eh, mau ngapain?" tanya Rifal dengan cepat padahal belum sempat tangan Valen menyentuh selimut namun perkataan Rifal jauh lebih cepat daripada pergerakannya.
"Mau selimutin asisten kamu. Aku yakin besok pagi dia bakalan demam," kata Valen.
"Biar aku aja. Selama kita nikah aku belum pernah kamu perhatiin soal selimut. Dan kamu mau lakuin sama orang lain," ketus Rifal lalu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh milik Nando.
Valen tersenyum manis. "Kamu cemburu?" tanya Valen sehingga Rifal menatap Valen.
"Menurut kamu?" tanya balik Rifal.
"Cemburu."
"Nah, itu kamu udah tau jawabannya," kata Rifal menggenggam tangan Valen lalu menatap manik matanya.
"Sama Nando aja aku cemburu, apa lagi kalau kamu sama, Nathan," kata Rifal menyebut nama Nathan dengan tidak suka.
Valen tertawa kecil. "Aku cuman cinta sama kamu," kata Valen menatap manik mata Rifal lalu berkata dengan yakin.
Cup
Satu ciuman mendarat dibibir milik Valen.
"Oh ya," kata Valen dengan pura-pura tidak percaya kepada Rifal.
"Gimana dengan, Adel?" tanya Valen lagi membuat Rifal tertawa.
"Aku udah lupain Adel."
"Aku cuman perhatian sama Adel sebagai bentuk permintaan maaf aku. Karna udah berjanji bakalan aku nikahin kalau dia sadar," lanjutnya membuat Valen manggut-manggut.
"Bagaiamana kalau Adel nggak nerima kalau kamu batalin semuanya."
"Perasaan nggak bisa dipaksa."
***
Malam hari pun tiba, saat ini Lea berada didepan pintu rumah Valen. Sedari tadi gadis itu membunyikan bel namun tidak ada yang menyahut.
Para art dan satpam tidak akan bekerja jika malam hari, kecuali waktu tertentu. Lea mengeluarkan handponenya untuk menghubungi Valen.
Drt.....
Valen yang tengah berpelukan dengan Rifal dikamar tamu langsung mengambil handphonenya diatas nakas. Dilayar handponenya tertuliskan nama Lea.
__ADS_1
"Halo dokter Valen. " sapa Lea diseberang telfon.
"Iya Lea, kenapa?". Tanya Valen diseberang telfon.
"Dokter ***Valen kemana? Lea depan pintu rumah dokter Valen nggak dibukain pintu."
"Maaf, Lea. Saya lagi di apartemen asistennya Rifal***," balas Valen sembari mengusap rambut milik Rifal yang sudah lebih dulu tertidur.
"Dokter Valen ngapain disitu?" jiwa kepo milik Lea telah terbuka.
"Dia lagi sakit."
Mendengar kata sakit membuat Lea langsung membeku, jangan sampai karna dirinya yang mengajak Nando keluar pria itu sampai sakit. Lea berpikir, mengapa Nando langsung sakit padahal mereka tidak main hujan-hujanan di taman bermain tadi atau panas-panasan.
"***Dokter Valen, tolong kirim alamat apartemen milik kak Nando. Lea mau jenguk kak Nando
juga."
"Saya sharllock."
"Makasih, dok."
"Sama-sama***."
Valen memutuskan telponnya lalu mengirimkan Lea alamat apartemen milik Nando. Lepas itu Valen kembali tertidur.
"Jangan ganggu tidur aku, Va. Aku lagi capek," kata Rifal membuat Valen tersenyum.
Dia tau jika pria itu capek, baru kali ini Rifal ambil cuti hanya ingin menjenguk Nando namun ternyata pria itu mengkibulinya. Dan sekarang pria itu benar-benar sakit.
Lea terlebih dahulu memesan ojek online karna uangnya hanya cukup untuk bayar ojek tidak cukup jika dia menggunakan taxi.
Dia kembali kerumahnya mengambil makanan yang dia beli Indomaret yang masih tersisa untuk dia bawakan kepada Nando yang tengah sakit.
"Loh Lea, makanannya kok dimasukin dikantongan plastik lagi?" tanya mama Lea yang melihat Lea mengambil buah dari kulkas.
"Mau jenguk kak Nando," Jawabnya kepada mamahnya.
"Siapa lagi itu Nando? Pacar kamu? Bagus dong kalau kamu punya pacar." kata mama membuat Lea memutar bola matanya malas.
"Bukan pacar, mah."
"Lebih baik kamu sama Nando itu, daripada nungguin pangeran kamu yang tidak kasi kamu kepastian."
"Lea yakin, kalau pangeran Lea entar bakalan suka sama Lea."
"Yang enak itu, udah menunggu dari lama dan nggak dapat juga. Orangnya nggak dapat tapi sakitnya yang dapat," kata mamah membuat Lea Menghentakkan kakinya.
__ADS_1
"Lea maunya sama cowok dewasa. Kalau Lea sama kak Nando Lea yakin setiap hari bakalan berantem mulu," kata Lea sembari menggelengkan kepalanya sembari berkhayal jika dia menikah dengan Nando maka perang bakalan terjadi setiap saat.