
Valen membukakan pintu Rifal, dia kaget melihat tubuh Nando yang sudah sempoyang di bopong oleh Rifal.
''Nando kenapa, Fal?'' tanya Valen seraya menutup pintu.
Rifal langsung membaringkan tubuh Nando diatas sofa panjang.
Huft!
Rifal menarik nafas dalam-dalam lalu duduk di atas sofa.
''Coba jelasin, kanapa Nando sampai kayak gini?''
''Mabuk,'' jawab Rifal singkat.
Karna membopong tubuh Nando menguras tenaganya, di tambah lagi bai alkohol di tubuh pria itu membuat Rifal ikutan mabuk.
Mungkin karna sudah lama tidak meminum alkohol, membuat Rifal ikutan mabuk dengan bau alkohol di tubuh Nando.
''Kalau orang mabuk punya masyaallah berat, kan? Kamu sendiri yang bilang.'' Rifal mengangguk dengan apa yang di katakan istrinya barusan.
''Jadi...Nando punya masalah berat dong?'' tebak Valen lagi.
''Lagi galau mikirin, Lea,'' jawab Rifal santai.
''Emangnya Lea ngapain Nando?''
''Nando aja yang lebay. Lea lebih milik si curut Nathan itu daripada sih Nando.''
Mulut Valen sedikit terbuka. ''Mereka jadian?''
''Bukan jadian lagi, malahan Nathan mau naik ngelamar Lea secepatnya.''
''Nando belum tau?''
Rifal melirik Nando yang tengah tertidur diatas sofa, dengan mulut sedikit terbuka serta serta mengigau nama Lea, membuat Rifal menggelengkan kepalanya melihat kondisi Nando.
''Mungkin aja Nando mulai tau kalau Nathan sama Lea bakalan segera menikah. Makanya dia mabuk berat.''
Valen mengangguk kecil dengan apa yang Rifal katakan barusan.
''Gercep juga sih, Lea?'' gumam Valen membuat Rifal menatap istirnya yang duduk di hadapnya dengan mata menyipit.
''Kenapa?'' tanya Rifal membuat Valen menaikkan alisnya sebelah.
''Apanya yang kenapa?''
''Kamu cemburu kalau Nathan sama Lea, jadi nggak ada yang ngejar kamu lagi?'' Nada suara Rifal terdengar tidak enak di dengar membuat Valen langsung membuangkan bantal sofa kearah Rifal.
''Ngomong suka ngada-ngada aja! Aku malah bersyukur kalau Nathan udah temuin wanita yang bakalan jadi pendamping hidupnya.''
Rifal memutar bola matanya malas. ''Percaya aja.''
''Anna mana?'' tanya Rifal.
''Udah Bobo.''
Rifal tersenyum penuh arti kearah Valen, membuat Valen bergedik ngeri dengan senyuman suaminya itu.
''Saatnya ki—''
''Aku masih halangan!'' potong Valen membuat senyuman di wajah Rifal memudar.
__ADS_1
Dia lupa satu hal jika istrinya sedang halangan, jadi tidak akan bisa melakukan hal yang semestinya mereka lakukan.
''Kayak Anna aja,'' ujar Rifal santai.
Valen memutar bola matanya malas. Dia paham apa yang du maksud suaminya barusan.
''Kita bopong tubuh Nando dulu naik keatas kamar tamu,'' sela Valen.
''Biarin Nando di sini.''
''Tap—''
Valen sudah tidak meneruskan ucapnya karna Rifal sudah menggendong dirinya, Rifal meggendong tubuh Valen menaiki anak tangga padahal di rumah mereka ada lift.
Valen mengalungkan tanganya di leher Rifal. ''Kasian Nando di bawa,'' cemberut Valen karna kasihan melihat Nando dibawa seorang diri dengan kondisi mabuk.
''Besok pagi dia udah sadar.''
Rifal membuka knop pintu lalu membaringkan tubuh Valen diatas tempat tidur mereka.
''Buka.''
''Apanya.''
''Buka kayak kamu bukain untuk, Anna.''
Valen menatap tajam Rifal membuat Rifal hanya terkekeh. ''Buruan, Len,'' tuntut Rifal.
''Matiin lampu dulu,'' ketus Valen.
''Kamu malu?'' tanya Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
''Kenapa harus malu sih, sayang. Aku, kan, udah lihat semuanya,'' goda Rifal mendekati tubuh Valen.
''Ok.''
Rifal akhirnya memutuskan untuk mematikan lampu, daripada Valen tidak memberikan apa yang ia minta.
Sekarang hanya tinggal lampu kamar saja yang menghiasi kamarnya malam ini.
Rifal langsung naik keras tempat tidur membuat Valen harus melakukan hal yang biasa ia lakukan kepada Kianna, untuk Rifal.
***
Frezan mengikuti Rara menuruni anak tangga, hanya gara-gara rendang Rara sampai cuek kepadanya.
''Lupain masalah kemarin,'' ujar Frezan dari belakang.
''Nggak semudah itu.''
''Ra, aku cuman jaga perasaan kamu.''
Frezan menghentikan langkah kaki Rara, Rara melihat kearah samping tidak ingin melihat wajah suaminya.
''Ra, aku minta maaf soal kemarin. Kamu udah susah payah buatin aku rendang, aku nggak mau sampai kamu kecewa kalau aku bilang rendangnya nggak enak, terus di buang. Kamu udah susah payah buatin rendang untuk aku dengan penuh cinta.''
''Bukan rendangnya nggak enak, cuman keasinan!'' protes Rara membuat Frezan mengangguk pasrah.
''Maksud aku gitu.''
''Kamu nggak mikir efek kedepanya kalau kamu makan sampai habis itu rendang yang asin. Bisa saja kamu sakit,'' beber Rara.
__ADS_1
''Nggak mungkin sayang, buktinya aku sekarang baik-baik aja, nggak sakit makan rendang buatan kamu.''
''Bisa aja, kan, efek rendang garam itu belum berjalan,'' protes Rara.
''Nggak mungkin, biasanya kalau udah makna-makanan yang nggak cocok untuk perut kita, beberapa jam kemudian perut akan sakit. Sedangkan ini nggak, kan?''
Frezan menjelskan panjang kali lebar.
''Terserah kak Eza aja.''
Rara berjalan naik keatas kembali karna Frezan selalu menghalangi jalanya.
Frezan mengacak rambutnya frustrasi, susah sekali membujuk Rara. Jika seperti ini dia tidak akan ke kantor.
Percuma saja jika dia ke kantor namun pikiranya terus-terusan terarah kepada Rara.
''Ra, aku nggak ke kantor, kalau kamu belum maafin aku.''
''Terserah kamu aja.''
''Sial.''
Frezan berjalan keatas untuk mengikuti Rara, hari ini dia tidak akan ke kantor padahal dia sudah siap dengan setelah kantornya.
***
Nathan memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah Lea. Pagi ini dia akan menjemput Lea untuk ke butik baju, mencoba baju yang akan dia kenakan saat pelamaran nanti.
Karna kebetulan Lea masuk kampus jam dua siang, dan Nathan ke kantor jam 2 juga.
Nathan menyalami tangan Novi untuk segera pergi, setelah Lea keluar dari rumah.
''Hati-hati,'' ucap Novi seraya mengusap punggung Nathan saat pria itu menyalami tanganya.
''Iya, Tan.''
''Mah, Lea pergi dulu,'' pamit Lea menyalami tangan Novi.
''Jangan repotin nak Nathan di sana.'' Novi memberikan peringat kepada Lea.
Lea mengacungkan jempolnya. ''Ok, Mah!'' Lepas itu Lea berjalan masuk kedalam mobil bersama dengan Nathan.
Nathan membunyikan klakson mobilnya lalu berlalu pergi meninggalkan pekarangan rumah Lea.
''Udah sarapan?'' tanya Nathan.
Dia menyetir mobil dengan santai, sehingga dia bisa berbicara seraya menatap Lea.
''Belum.''
''Kita singgah sarapan dulu.''
''Nggak usah.''
Nathan menyeritkan alisnya, tumben sekali Lea menolak ajakan makan, gadis itu akan sumringah jika di ajak makan, namun pagi ini dia menolak.
''Kenapa nggak mau? Padahal kamu nggak pernah nolak kalau soal makanan.''
''Aku udah makan roti tadi, udah kenyang.''
Nathan mengangguk, meskipun dia kurang percaya.
__ADS_1
Lihat saja, Lea akan mengeluh lapar dan mengadu pada Nathan. Nathan suka jika Lea meminta makanan pada dirinya dengan sedikit manja.