Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Keterpurukan


__ADS_3

Rara masih berdiam diri di kamarnya, sedari tadi Frezan menenangkan Rara untuk sabar dengan semua ini.


Frezan tau, 13 tahun bukan waktu yang singkat untuk di jalani.


Frezan menghembuskan nafasnya berat melihat Rara berdiam diri diatas kamar dengan matanya terus saja mengeluarkan bulir air mata.


13 tahun.


Rara terus saja memikirkan waktu 13 tahun, itu artinya Elga akan keluar setelah anak-anak mereka sudah tumbuh dewasa.


Rara tidak bisa membayangkan bagaiaman nasib kedua anaknya, jika mereka tau papahnya di penjara selama itu.


Apa lagi mereka telah menyepakati tidak akan mengatakan ini kepada Dyra dan juga Dyta. Apa lagi Dyta yang sangat dekat dengan Elgara.


“Udah nangisnya, Sayang. Nanti kamu sakit,” kata Frezan namun tidak membuat Rara menghentikan air matanya.


Air matanya turun begitu saja tanpa bisa dia tahan. “Gimana nasib Dyra dan Dyta?” Kata Rara tanpa melihat wajah Frezan.


Frezan mengangkat dagu Rara dengan lembut sehingga matanya dengan mata Rara yang sembab akibat terus-terusan menangis saling bertatapan.


“Ada kamu dan aku,” kata Frezan menatap manik mata Rara.


Rara melepaskan tangan Frezan yang memegang dagunya. “ mereka bakalan cari bang El,” seraknya membuat Frezan langsung memeluk Rara.


“Mereka berdua masih kecil, dan harus di tinggalkan oleh Abang El,” isak Rara.


Frezan mengusap rambut Rara. “Suatu saat mereka akan mengerti,” kata Frezan.


Cup


Satu kecupan mendarat di kening milik Rara. “Kamu istirahat, jangan nangis lagi,” kata Frezan mengusap air mata Rara dengan ibu jarinya.


Rara langsung membaringkan tubuhnya, lalu Frezan memakaikan Rara selimut sembari mengusap rambut istrinya.


Rara memejamkan matanya, tidak memerlukan waktu lama dia langsung tertidur karna kecapean juga.


Frezan kembali mencium kening Rara, setelah di lihat Rara tidur, Frezan keluar dari kamar.


Sementara Kayla sedari tadi berada di dalam kamar mandi, megguyur tubunya dengan air shower sembari menangis.


Wanita dua anak itu terduduk di bawah lantai dengan air shower membasahi tubunya di sertai dengan air matanya yang terus saja mengalir.


Rasanya sangat sakit, harus melihat orang yang dia sayang harus mendekam di dalam penjara 13 tahun lamanya.


Tidak ada yang bisa menenangkannya, peran suaminya telah hilang karna suatu kesalahan.

__ADS_1


“El!” isak Kayla dalam guyuran air shower.


Seperti mimpi!


“Mamah!”


Panggilan dari luar kamar mandi membuat Kayla langsung berdiri, dia mematikan air shower lalu menatap wajahnya di cermin. Matanya memerah.


Ceklek


Kayla langsung membuka pintu kamar mandi, dia sudah melihat anaknya Dyra berada di depan pintu kamar mandi sembari menatap dirinya dengan tatapan lucu.


“Mamah nangis?” Tanya Dyra.


Anak itu rapih, menggunakan baju yang sangat cantik. Sudah di pastikan Dyra di pakaikan baju oleh Siska.


Kayla menundukkan tubunya mensejajarkan tubunya dengan anaknya.


“Nggak kok, sayang,” kata Kayla membuat Dyra mengusap mata Kayla.


“Mamah jangan sedih, ada Dyra di sini,” kata anak itu membuat Kayla tersenyum.


Kayla tersenyum, namun butiran air matanya turun di pipihnya begitu saja melihat wajah Dyra. Dia harus kuat, dia harus jalani hidupnya karna ada dua anak yang harus dia besarkan dan mendidiknya dengan baik.


“Mamah baik-baik aja, kamu nggak usah khawatir,” kata Kayla menyakinkan anak di hadapnya.


Perkataan polos anaknya membuatnya tidak bisa menahan tawanya. “Kamu ada-ada aja. Papah kamu nggak kayak gitu,” kata Kayla membuat Dyra menganggukkan kepalanya dengan lucu.


“Kamu tunggu di kamar yah, mamah mau lanjut mandi dulu,” kata Kayla kepada Dyra.


“Tapi janji jangan nangis,” kata anak itu memberikan jari kelingkingnya kepada Kayla.


Kayla tersenyum lalu menyambut jari kelingking Dyra. “Mamah janji.”


Kayla masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan tubunya menggunakan sabu kesukaannya.


Sementara Dyra menunggunya di kamar, Dyra melihat Foto Dyta di gendong oleh Elga dan fotonya di cium oleh Elga.


Dyta masuk kedalam kamar kayla, kebetulan pintu kamar tidak tertutup.


“Mamah mana?” Tanya Dyta kepada Dyra yang sedang duduk diatas kasur.


“Mandi,” jawabnya lalu Dyta keluar dari kamar Kayla saat dia mendapatkan jawaban dari Dyra.


“Curiting!”

__ADS_1


Dyta yang baru saja keluar dari kamar Kayla langsung mendengar seseorang memanggilnya curiting. Siapa lagi kalau bukan Farel yang selalu memanggilnya dengan sebutan curiting.


“Kita main bola basket yuk!” ajak Farel dengan semangat empat lima, terlebih dahulu dia ingin bermain dengan Dyta berdua sebelum sore nanti Nathan menjemputnya untuk kembali ke apartemen.


Dyta menggelengkan kepalanya. “Aku nggak mood main,” kata anak itu melenggang pergi meninggalkan Farel.


Farel langsung mengejar Dyta.


“Ayolah curiting, ini terakhir kalinya kita main berdua. Sebentar sore Abang Nathan udah jemput aku untuk pulang,” kata anak itu membuat pergerakan kaki Dyta terhenti.


“Kalau aku udah pulang, udah nggak ada yang jahilin kamu, dan nggak ada lagi yang manggil kamu curiting,” kata Farel sembari tersenyum.


“Kita mau main apa?” Tanya Dyta.


“Kita main yang ini,” kata Farel memperlihatkan bola basket yang di hadiakan Frezan untuknya.


“Ayok.” Kata Dyta.


“Ikutttttt!!”


Suara menggelegar itu langsung saja membuat Farel dan Dyta melihat kearah belakang, dia melihat Hasya datang menghampirinya sembari membawa boneka kesukaannya.


“Hasya mau ikutan main juga,” kata anak itu.


“Emangnya kamu pintar main bola ginian?” Tanya Farel menunjuk bola yang berada di tanganya.


“Hasya nggak tau,” kata anak itu. “Makanya om Farel ajarin Hasya,” lanjutnya.


Farel nampak berpikir, dia ingin bermain berdua dengan Dyta tanpa tambahan pemain. Tiba-tiba saja satu ide terbesit dalam dirinya. Dia tersenyum.


“Kamu boleh ikutan, tapi kamu panggil Dyra supaya kamu punya teman, aku sama Dyta kamu sama Dyra,” kata Farel sembari tersenyum manis kearah Hasya.


“Hasya panggil Dyra dulu,” kata Hasya lalu pergi meninggalkan Farel dan juga Dyta untuk segera memanggil Dyra.


“Ayok lari!”


Farel langsung menggandeng tangan Dyta lalu lari. “Hati-hati,” peringat Dyta karna mereka menuruni anak tangga dengan Farel masih menggenggam tangan Dyta.


Siska merupakan baby sister langsung saja berteriak saat melihat kedua anak itu menuruni anak tangga dengan tidak hati-hati.


“Farel, Dyta. Turunya pelan-pelan!” Teriak Siska.


Kedua anak itu berhasil melewati tangga, dia langsung menggandeng tangan Dyta menuju garasi.


“Kita naik sepeda,” kata Farel memberikan bola basket itu pada Dyta.

__ADS_1


“Kita mau kemana, kita kan mau main bola basket,” kata Dyta sementara Farel mengambil sepeda.


“Kita main bola basket dekat tk, tempat kamu latihan sama papah kamu saat kita pulang sekolah,” kata Farel yang sudah siap dengan sepedanya membuat Dyta langsung terdiam.


__ADS_2