Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Satu tahun puasa


__ADS_3

Nando saat ini kesal, bagaiamana tidak jika Rifal menitip Kianna kepada dirinya, padahal selama imi dia tidak pernah menjaga anak kecil.


Dan sekarang dia meggendong Kianna membuatnya mendengus.


''Kamu yang sabar, ya, di jaga sama om tampan. Papah kamu lagi renggut kekuasaan kamu.'' Nando mengoceh kepada Kianna.


Jika tadinya Nando menolak Rifal, untuk menjaga Kianna. Sudah di pastikan jika gajinya akan di potong beberapa persen oleh Rifal.


Nando mengajak anak kecil itu mengobrol dengan menjadikan dirinya seperti anak kecil saja.


Rifal membuktikan ucapannya tadi jika dia ingin seperti Kianna, dan menggeser posisi Kianna untuk saat ini.


''Papah kamu lagi bercocok tanam untuk buatin kamu, adek,'' celetuk Nando.


Satu jam yang lalu Rifal menitipkan Kianna kepada Nando. Dan pada akhirnya Nando mau-mau saja jika tidak mau gajinya akan di potong beberapa persen.


Nando melirik kearah jendela, langit sudah berubah menjadi warna jingga. Nando menatap Kianna lalu berjalan menuju tempat tidur karna dia sedang menimang-nimang Kianna saat ini.


''Baring di sini dulu ya, anak cantik.'' Nando mulai membaringkan tubuh mungil Kianna diatas tempat tidur.


Lalu dia berjalan menutup gorden kamar yang saat ini dia tempti. Tidak baik membiarkan gorden terbuka terang-terangan menjelang magrib.


Setelah menutup gorden kamar, Nando kembali berjalan menuju tempati tidur, tempat dia membaringkan Kianna tadi.


''Papah mu itu sangat menyebalkan, Kianna,'' gumam Nando mendekatkan wajahnya dengan Kianna.


Nando tertawa terbahak-bahak melihat wajah Kianna yang nampak panik karna dia mendekatkan wajahnya.


Nando meredahkan tawanya melihat Kianna sudah mulai menangis keras. Nando panik, dia buru-buru menggendong Kianna jangan sampai Rifal mendengar suara tangisan Kianna lalu menyalahkan dirinya karna tidak becus menjaga Kianna, dan jangan sampai Rifal memotong gajinya karna Kianna menangis.


''Lama-lama saya akan beralih profesi menjadi bapak pengasuh anak, bukan tangan kanan bapakmu lagi,'' gumam Nando seraya menepuk pantat Kianna dengan lembut agar anak itu berhenti menangis.


''Kianna cantik, jangan nangis, ya, nanti gaji om di potong sama papah kamu.'' Nando berusaha menenangkan Kianna.


Jangan sampai suara Kianna mengundang Rifal untuk kesini dan ujungnya dia kena semprotan Rifal.


Sementara Rifal tengah tertidur lelap didalam pelukan, Valen. Dia membuktikan ucapannya untuk menggantikan posisi Kianna.


Valen melepaskan sesuatu dari mulut Rifal yang seutuhnya sudah milik Kianna, pria itu benar-benar menggantikan posisi Kianna.


Valen bernafas legah setelah berhasil melepaskan punya Kianna dari mulut Rifal. Dia melepaskan tangan Rifal secara perlahan-lahan yang memeluk tubuhnya.


Dia takut jika pria itu bangun dan mencekat dirinya karna belum puas di manja oleh Valen.


Valen lebih dulu melihat penampilanya di depan cermin sebelum ke kamar sebelah melihat Kianna.

__ADS_1


Karna samar-samar tadi dia mendengar suara tangisan Kianna. Untung saja Rifal sudah tidur, jika tidak suaminya itu akan menyalahkan Nando karna tidak becus menjaga anaknya.


Valen meringis melihat dirinya, lehernya penuh dengan kecupan mesrah dari Rifal tadi.


''Nggak mungkin gue ke kamar Kianna dengan kondisi begini?'' gumam Valen menatap lehernya di depan cermin penuh dengan bekas kiss mark dari Rifal. ''Apa lagi ada Nando di sana.''


Valen membuka laci meja rias, semoga saja make up nya saat berlibur ke sini satu tahun yang lalu masih ada di sini. Sehingga dia bisa menggunakannya untuk menutupi bekas ciuman Rifal.


Senyum mengambang di wajah Valen, saat membuka laci meja rias,make upnya masih ada di dalam.


Dia pikir penjaga Villa sini sudah membersihkan seluruh barangnya di sini.


Valen langsung memakaikan bedak lehernya untuk menutupi bekas ciuman Rifal.


Setelah sudah cukup, Valen merapikan rambutnya lebih dulu lalu pergi dari sini.


Cup


Sebelum pergi Valen mengecup bibir Rifal singkat, untung saja pria itu tidak bangun. Jika dia bangun sudah di pastikan Valen akan kembali berbaring di buat Rifal.


Valen dengan cepat keluar dari kamar lalu menutup pintu dengan pelan, agar tidak tercipta suara yang akan membangunkan Rifal.


Tok


Tok


''Nando,'' panggil Valen karna Nando belum meyadari kedatangan Valen.


''Eh, Valen.'' Nando langsung bangun dari tempat tidurnya.


''Makasih udah jagain, Anna,'' ucap Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Nando.


''Tidak apa, asal jangan setiap hari,'' ucapnya. ''Karna Kianna sangat cerewet, sama seperti bapaknya.''


Valen tertawa. ''Padahal Kianna belum bisa ngomong.''


Nando menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ''Maksud saya, Kianna sangat rewel.''


Valen hanya mengangguk lalu mengambil Kiana. ''Mau dibawa kemana, Kianna?'' tanya Nando setelah Valen menggendong Kianna.


''Keseblah, Nan. Mau nyusuin Kianna,'' jawab Valen.


''Memangnya tugas kau sudah selesai?'' tanya Nando santai.


''Tugas apa?'' tanya balik Valen dengan bingung.

__ADS_1


Nando tertawa, rupanya otak Valen belum sampai kesana. ''Nyusuin bayi besar kamu.'' Nando berkata fulgar membuat Valen langsung melotokan matanya kearah Nando.


''Aku laporin kamu ke, Rifal, biar gaji kamu di potong.'' Ancam Valen membuat Nando kembali gelagapan.


''Saya cuman bercanda, jangan di ambil hati dong.''


Valen hanya mengabaikan lalu pergi meninggalkan Nando seorang diri di kamar. Valen berjalan menuju kamar yang tadi dia tempati seraya menggendong Kianna.


Valen membuka knop pintu, sehingga dia melihat Rifal tengah duduk diatas tempat tidur dengan wajah dan mata yang baru bangun tidur.


Entah sejak kapan pria itu sudah bangun.


''Kenapa ninggalin aku, Len?'' tanya Rifal dengan suara khas bangun tidur.


''Aku ambil Kianna, udah waktunya dia nyusu.'' Valen menjawab seraya berjalan menuju tempat tidur. ''Sana-sana, aku mau baringin kianna.''


Rifal menggeser tempatnya, lalu Valen membaringkan Kianna yang masih memejamkan matanya.


Anak itu sangat menggemaskan bagi Valen dan Rifal.


''Anak aku cantik, sama kayak aku,'' gumam Valen menatap wajah kianna yang menggemaskan.


''Percampuran orang tampan dan cantik,'' timpal Rifal membuat Valen menggelengkan kepalanya.


''Iyain, deh.''


''Anak lagi tidur di bawa kesini.'' Rifal menggeleng tak habis pikir.


''Biarin.''


''Aku nggak mau, ya, Len. Posisi aku tersingkirkan sama, Kianna,'' ucap Rifal dengan cemberut.


''Kianna nomor satu, kamu nomor du—''


''Tidak!'' potong Rifal dengan cepat.


''Posisi aku nomor satu dan...'' Rifal menggantung ucapannya. ''Dan Kianna nomor dua,'' sambungnya seraya menoel dagu Kianna yang tengah tertidur.


Valen melotot garang kearah Rifal. ''Mana bisa kayak gitu!'' Protes Valen tak habis pikir posisi anaknya di nomor duakan dan posisi bapaknya nomor satu.


''Aku suami kamu, aku yang lebih dulu.''


''Kamu udah puas, sementara Kianna belum.''


Rifal menatap Valen. ''Mana ada aku puas, satu tahun puasa Len, kamu bilang itu puas?''

__ADS_1


__ADS_2