Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Rifal mengetahui


__ADS_3

Rara melihat punggung Kayla sudah menjauh, karna wanita itu buru-buru. Beberapa bulan ini Rara merasakan Kayla sedang menyembunyikan sesuatu.


Pernah saat itu, Rara tengah membuat susu untuk Frezan, dia tidak sengaja melihat Kayla muntah seperti seseorang yang hamil.


Rara sempat berpikir kearah sana, namun pikirnya dikalahkan jika Elga sedang tidak ada, mana mungkin Kayla bisa hamil.


“Mamah suka muntah,” ucap Dyra membuat Rara langsung melihat kearah Dyra.


Rara mensejajarkan tubuhnya dengan Dyra.


“Dyra sayang, apa mamah kamu sering muntah?” Tanya Rara dengan lembut dan dibalas anggukan kepala oleh Dyra.


“Mamah juga sering pegang peyutnya,” ucap dengan lucu seraya meniru menyimpan tanganya di perutnya lalu mengusapnya, “seperti ini,” lanjutnya.


Rara tersenyum simpul, dia yakin anak kecil ini tidak berbohong karna anak kecil selalu jujur.


“Bunda, itu ada om Rifal,” tunjuk Tegar kearah pria yang sedang memakan makananya dengan hambar, karna dia sedang memikirkan sosok istrinya yang belum juga mengaktifkan ponselnya.


Sontak saja Rara langsung melihat kearah yang di tunjuk oleh anaknya. Dia sudah melihat Rifal tengah memakan makananya dengan tatapan nanar.


Mungkin saja pria itu mempunyai masalah. Dia juga sudah tau keadaan Rifal sekarang bagaiamana, termasuk mata yang diberikan Adelia untuk Rifal.


“Aku boleh nggak samperin kak Rifal?” Tanya Rara kepada suaminya, terlebih dahulu dia minta izin kepada Frezan untuk menghampiri Rifal.


“Kamu kesana aja. Biar anak-anak aku yang bawa ke tokoh mainan,” ujar Frezan kepada Rara.


“Makasih,” senang Rara dan dibalas anggukan kepala Frezan.


“Kalian ikut sama om Frezan yah, tante mau ngomong dulu sama om Rifal,” ucap Rara dengan lembut kepada kelima anak-anak yang dia bawa ke Mall.


“Ok bunda.”


“Iya tante Rara.”


“Siap mbak.”


Kelima anak itu langsung mengikuti Frezan, sementara Rara langsung berjalan menghampiri Rifal.


“Kak Rifal,” panggil Rara didepan meja Rifal.


Namun pria itu tidak menyahut, sudah Rara tebak jika Rifal saat ini mempunyai masalah.


“Kak Rifal!”

__ADS_1


“Eh, Ra!” Rifal langsung saja refleks kaget mendengar suara Rara.


Dia pikir hanya halusinasi jika Rara memanggilnya, ternyata perempuan itu ada di sini.


“Rara boleh duduk di sini nggak?” Tanya Rara dengan tawa kecil.


“Boleh dong, Ra,” ucap Rifal.


Rara langsung duduk di kursi depan Rifal.


“Kak Rifal belanja di Mall?” Tanya Rara.


“Nggak, Ra. Aku nemenin Valen belanja sama Mommy,” ucap Rifal. Dia lupa memberitahukan kepada Rara jika kedua orang tuanya datang ke Jakarta.


“Tante Rina sama Om Aska ada di Jakarta?”


“Iya, Ra. Sory, aku lupa kasi tau kamu. Kemarin mereka datang mendadak pula,” ungkap Rifal seraya mengingat dimana kedua orang tuanya itu datang setelah keaadanya sudah cukup membaik.


“Aku Telfon bunda dulu, kalau Ok Aska ada di sini,” kata Rara mengeluarkan ponselnya dari tas.


Rifal menyeritkan alisnya. “Bunda saka ayah kamu ada di Indonesia?” Tanya Rifal memastikan dan dibalas anggukan kepala oleh Rara tanpa mengalihkan pandanganya dari ponselnya untuk menghubungi Rina.


“Bunda sama ayah juga datang mendadak. Sampai-Sampai Rara kaget dengan kedatangan mereka,” ucap Rara seraya menekan nomor ponsel Alvi.


“Bunda kamu pasti punya tujuan jauh-jauh dari luar negeri ke Indonesia,” ucap Rifal.


“Ayah sama bunda ke Indonesia karna masalah bang Elga yang di penjara.”


Rifal melotokan matanya saking terkejutnya dengan apa yang di katakan oleh Rara. Bahkan Rara langsung menggigit bibirnya karna dia telah keceplosan mengenai masalah Elga.


“Ra,” panggil Rifal dengan suara pelan. “Apa yang kamu bilang.”


“Emmm…” Rara tidak tau harus menjawab seperti apa. Dia sudah keceplosan dan dia yakin jika dia mengelak maka Rifal tidak akan percaya.


“Jadi, selama ini Elga nggak balik keluar karna urusan kerja?”


“Aku mohon kamu jawab yang jujur,” sudah tidak ada raut wajah main-main di wajah Rifal. Dia berbicara dengan serius. “Apa yang kamu bilang tadi benar? Jika Elga di penjara?”


Rara menarik nafasnya panjang.


“Iy-“ belum sempat Rara meneruskan perktaanya, suara ponselnya bergetar. Rupanya Alvi telah menelfon balik Rara karna dia mengerjakan sesuatu tadi jadi tidak mengangkat Telfon dari Rara.


“Bentar, Rara angkat Telfon dari bunda dulu,” ucap Rara.

__ADS_1


“Halo, bun,” sapa Rara di seberang Telfon.


“Kenapa sayang? Bunda mengerjakan sesuatu tadi jadi tidak mengangkat Telfon dari kamu,” jelas Alvi di seberang Telfon.


“Nggak apa-apa kok, Bund. Rara cuman mau bilang, kalau om Aska sama tante Rina ada di Jakarta. Sekarang dia ada di rumah kak Rifal,” ujar Rara.


“Yang bener, Ra? Kok mereka nggak kabarin bunda,” suara Alvi nampak kesal. Bagaimana tidak, jika dia dengan Aska sudah seperti saudara sendiri.


“Kata kak Rifal, mereka juga datang mendadak. Sama kayak bunda,” papar Rara kepada Alvi.


“Yaudah, Ra. Nanti bunda kesana sama ayah kamu.”


“Iya bun, kalau gitu Rara tutup Telfonya dulu.”


“Jaga anak-anak Ra, jangan sampai tertinggal,” peringat Alvi karna dia tau bagaiamana sifat Rara sedari SMA ceroboh, dan sampai sekarang sikapnya itu belum sepenuhnya menghilang meski dia sudah menikah dan mempunyai dua orang anak.


“Heheh, iya bunda. Rara bakalan jaga mereka.”


“Yasudah.”


Telfon tertutup.


“Lanjut,” ucap Rifal.


“Lanjut apa kak?” Tanya Rara.


“Yang tadi Ra, kamu jangan bercanda aku lagi serius ngomong sama kamu.”


Rara menarik nafasnya berat. “Bang Elga udah di penjara kurang lebih tiga bulan,” ucap Rara membuat Rifal langsung mengepalkan tanganya diatas meja.


Bahkan urat tanganya kini terlihat. Saking marahnya dengan pernyataan yang diberikan oleh Rara.


“Kenapa kamu nyembunyiin hal besar ini dari aku,” dingin Rifal. “Kamu tau kan Ra, kalau dari dulu aku sama kembaran kamu itu selalu bersama saat SMA, dan masalah sebesar ini kamu sembunyiin dari aku?” Ucapnya dengan tersenyum pedih.


“Jahat, kamu Ra. Kamu udah anggap aku kayak saudara kamu tapi hal besar kayak gini kamu sembunyiin dari aku,” Rifal berusaha menahan emosinya saat ini.


Rara semakin takut jika Rifal tau jika nengetahui Rifal di penjara bertahun-tahun lamanya.


Rara harap Rifal tidak akan berantem dengan suaminya jika mengetuai semuanya, meski kemungkinannya hanya kecil.


“Maaf,” cicit Rifal membuat Rifal menarik nafasnya panjang, “bilang sama aku, Elga buat kesalahan apa sampai di penjara,” tuntut Rifal sehingga Rara mendongakkan kepalanya.


Matanya bertatapan dengan mata Rifal yang menuntut jawaban darinya. Rara mengigit bibirnya, dia bingung harus memulai mengatakan hal besar ini dari mana.

__ADS_1


Sementara Rifal tengah menunggu jawabanya.


“Ra,” panggil seseorang dari belakang Rara sehingga Rara dan Rifal langsung melihat keasal suara.


__ADS_2