
''Maaf dokter, biar saya yang mengantar calon istri saya untuk pulang,'' ucapnya tanpa beban membuat Lea melotokan matanya karna ucapan Nando.
''Bohong,'' sanggah Lea dengan cepat. Dia tidak mau jika Nathan salah paham dengan dirinya.
Meski Lea tidak tau, apakah Nathan peduli dengan ucapan Nando tadi atau tidak.
‘’Lea cuman calon istri dokter Nathan,'' lanjutnya.
Nando menarik tangan Lea untuk segera pergi dari koridor rumah sakit ini.
‘’Dokter Nathan, lea juga suka sama dokter Nathan, doain Lea cepat lulus, ya,'' teriak Lea sebelum jaraknya dengan dokter Nathan semakin jauh karna langkah kaki Nando sangat panjang.
''Bocah ingusan,'' kesal Nando tanpa melepaskan tanganya dari Lea.
''Kak Nando kenapa sih ngaku-ngaku jadi calon Lea?'' kesal Lea, bahkan kekesalannya lebih dari Nando saat ini.
Saat ini mereka berdua berada di parkiran.
''Nggak usah geer,'' jengkel Nando membuat Lea langsung memukul lengan pria itu.
''Gimana Lea nggak geer, Lea dengar kak Nando ngakuin Lea sebagai calon istri kak Nando!'' Lea menghentakkan kakinya.
''Kalau kamu mau,'' ucap Nando dengan santai.
''Nggak mau!'' tolak Lea dengan cepat.
''Terus....kalau kamu tidak mau kenapa harus di permasalahkan?'' tanya Nando lagi.
''Lea nggak mau apa yang Lea incar dari dulu hilang gitu aja, karna ucapan kak Nando barusan!''
''Katanya mau fokus kuliah. Katanya nggak mau mikirin cinta-cinta dulu!'' cibir Nando membuat Lea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
''Yah...kan, Lea bilang. Kalau Lea lulus nantinya,'' balas Lea.
''Kamu kelamaan kalau di tunggu sama dokter Nathan. Ingat Lea, umur dokter Nathan sama saya beda tipis. Udah nggak bisa nunggu lama-lama. Bisa punya uban tuh dokter Nathan baru kamu lulus kuliah!'' cemooh Nando.
Lea memutar bola matanya malas. ''Terus, ngapain kak Nando ajak Lea kesini?''
''Saya mau ajak kamu ke rumah Rifal, saya mendapatkan kabar dari orang tua Rifal, jika Rifal sudah sadar,'' jawab Nando membuat Lea bernafas legah.
Setidaknya Rifal sudah sadar.
''Kak Nando kesini jemput Lea? Begitu?''
''Iya, Lea!''
__ADS_1
''Kamu terlalu banyak pertanyaan, buruan masuk,'' perintah Nando lalu berjalan menuju kursi pengemudi.
''Iya-iya!''
Lea langsung masuk kedalam mobil, duduk di samping Nando.
Nando mulai menyalakan mesin mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit.
''Jadi, kak Rifal kondisinya udah baik?'' tanya Lea.
Nando menggelengkan kepalanya. ''Rifal seperti singa yang mengamuk,'' jelas Nando yang hanya dianggap candaan oleh Lea saja perkataan Nando barusan.
Tidak butuh waktu lama, mobil Nando sudah masuk kedalam pekarangan rumah Rifal. Terlebih dahulu, Lea mengirimkan pesan kepada Novi jika dia sedang menjenguk Rifal.
Dia takut jika mamahnya khawatir dan berpikir macam-macam karna sudah hampir pukul sepuluh malam, dia belum juga pulang ke rumah.
''Mau saya buka, kan, pintu?'' canda Nando karna Lea belum juga keluar.
Lea melirik Nando. ‘’Nggak usah kak, Nan. Lagian Lea juga ngirimin pesan sama mama.''
''Saya cuman bercanda, nggak usah di bawa serius,'' decak Nando keluar dari mobil.
Lea juga menyusul turun dari mobil, lalu mengikuti langkah kaki Nando untuk masuk ke dalam rumah.
''Kak Nando, ini nggak apa-apa jenguk orang sakit tengah malam?''
Nando menekan bell rumah, sehingga Sukma langsung membuka pintu utama.
''Silahkan masuk,'' ucap Sukma.
Dia mempersilahkan Nando untuk masuk karna Nando sudah sering keluar masuk rumah ini.
Nando mengangguk lalu berjalan masuk. Dia dan Lea duduk diatas sofa seraya menunggu Aska datang.
''Kita kenapa duduk di sini? Emangnya om Rifal yang akan turun kesini?'' tanya Lea kepada Nando.
Nando tersenyum masam kearah Lea. ''Nggak mungkin Lea. Dimana-mana kalau orang sakit, kita yang nyamperin. Bukan orang sakit yang nyamperin kita!'' ringis Nando melihat tingkah Lea yang patut di pertanyakan, mengapa gadis itu sampai kuliah dengan otak yang tidak sampai.
Nando menggelengkan kepalnya, bisa-bisanya dia menyukai gadis di depanya. Padahal dia sudah tau bagaiamana menjengkelkan nya gadis di hadapnya.
‘’Ngapain kita duduk di sini? Kan, kita mau jenguk om Rifal!''
''Saya, kan, sudah bilang. Kalau Rifal itu seperti singa yang mengamuk kalau melihat orang!'' tegas Nando agar Lea berhenti bertanya.
‘’Omong kosong,'' decak Lea membuat Nando hanya mengedikkan bahunya saja.
__ADS_1
Aska ikut bergabung dengan mereka.
''Maaf, Dad. Kalau menganggu waktunya istirahat,'' ucap Nando.
''Tidak apa-apa.''
''Om, gimana kondisi om Rifal?'' tanya Lea.
''Kondisinya sangat prihatin,'' Aska tersenyum tipis.
''Jika Valen sudah tidak ada, Daddy tidak tau bagaimana nasib anak Daddy kedepan,'' keluh Aska.
Membuat Lea prihatin dengan apa yang di katakan oleh Aska saat ini.
''Lea harap, dokter Valen cepat ketemu,'' sedih Lea membuat Aska menarik nafasnya dalam-dalam.
''Perilaku Rifal membuat Daddy dan mommynya kesusahan,'' terang Aska. ''Dia menjadi pemarah.''
Aska sudah menceritakan bagaimana Rara di bentak oleh Rifal tadi. Jika mau di pikir lagi, hubungan Rara dan Rifal sangat dekat.
Namun tetap saja Rifal tidak memandang jika itu orang terdekatnya. Aska tau, karna dia sempat menghubungi Rara.
Nando dan Lea yang mendengar cerita Aska jadi takut untuk menemui Rifal malam ini. Apa lagi sudah larut, bisa saja pria itu mengamuk karna telah menganggu jam istirahatnya.
''Bukan hanya Rara saja,'' ucap Aska seraya tersenyum tipis. ''Bahkan Daddy dan mommynya dia bentak dan dia usir.''
Nando dan Lea langsung terkejut, jika kedua orang tuanya saja di usir oleh Rifal. Bagaiamana dengan dirinya.
''Rifal benar-benar parah,'' gumam Nando mendengar cerita dari Aska.
''Jadi om, Lea dan kak Nando nggak bisa lihat om Rifal sekarang?'' tanya Lea.
Jujur saja, Lea sangat ingin melihat kondisi Rifal saat ini. Namun dia juga akan takut di bentak dan di usir oleh Rifal.
Apa lagi, selama ini Lea mengenal Rifal baik, suka bercanda denganya. Tidak srek saja, jika tiba-tiba dia melihat sisi lain dari Rifal.
''Daddy saranin jangan sekarang,'' ucap Aska. ''Jangan sampai Rifal kembali marah dan mengamuk sehingga dia susah untuk istirahat. Apa lagi Rifal sama tahap pemilihan. Jika dia selalu begini, itu akan semakin sulit.''
Nando dan Lea hanya menganguk. Mereka berdua kasihan kepada Rifal saat ini.
''Nando,'' panggil Aska.
''Iya, Dad,'' jawab Nando.
''Sementara perusahaan kamu kembali yang urus, ya,'' pinta Aska kepada Nando.
__ADS_1
''Saya tidak ter—''
''Om percaya sama kemampuan kamu. Apa kamu lupa, di saat anak saya mengalami kebutaan, kamu yang menghandel urusan kantor, dan semuanya berjalan dengan baik,'' potong Aska dengan cepat.