
Lea sudah melihat sosok pria yang mengenakan jas berwarna putih sedang memegang pagar pembatas rooftop rumah sakit.
"Dokter Nathan!"
Suara cempreng tersebut langsung masuk kedalam gendang telinga milik Nathan, dia membalikkan badannya dia sudah melihat sosok gadis yang tingginya sekitar 160cm yang mengenakan baju perawat serta almamaternya memanggilnya.
Mereka berdua saling bertatapan, perlahan-lahan Lea menghampiri Nathan.
"Dokter Nathan punya masalah apa?" tanya gadis itu membuat Nathan menyeritkan alisnya tanda dia bingung dengan gadis di hadapannya.
Memang dia punya masalah tentang perasaan, namun heran saja jika gadis di hadapannya ini bertanya kepadanya.
"Maksudnya?" tanya Nathan membuat Lea menatap manik mata Nathan.
"Dokter Nathan punya masalah?" tanya Lea serius.
"Bukan urusan mu," jawab Nathan lalu menatap kembali kedepan memegang pagar pembatas rooftop.
Lea langsung berdiri berdampingan dengan Nathan, sementara Nathan hanya masa bodoh dengan kejadian Lea disini.
Lea juga memegang pagar pembatas rooftop dengan pandangannya kearah depan, membiarkan angin menerpah wajahnya.
Sepuluh menit berlalu, mereka berdua saling diam-diam hingga Lea mengangkat bicara.
"Kalau dokter Nathan punya masalah, cerita. Biar nggak jadi beban pikiran Terus-menerus, kan nggak baik buat kesehatan juga," kata Lea memberikan pemahaman agar Nathan berbicara.
"Bagaiamana kamu bisa tau, kalau saya sedang punya masalah?" tanya Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
Lea tersenyum tanpa melihat kearah Nathan.
"Setau Lea, hanya orang banyak masalah doang yang ke rooftop," kata Lea membuat Nathan tersenyum tipis. "Dia ke rooftop buat hilangin masalah yang dia alami, walau cuman sementara doang."
Nathan tertawa membuat Lea menikmati senyuman dokter Nathan.
"Nggak salah lagi, kalau Lea dari dulu naksir sama dokter Nathan," kata gadis itu tanpa beban membuat Nathan menggelengkan kepalanya sementara Lea hanya tertawa kecil.
Tak apa, memang kenyataannya jika dia mencintai sosok Nathan tanpa alasan.
"Jadi.... Apa masalah dokter Nathan?" Lea kembali mengajukan pertanyaan.
"Soal hati," jawab Nathan membuat Lea terdiam.
__ADS_1
Soal hati? Itu berarti dokter Nathan sedang memikirkan tentang perasaannya kepada seseorang.
"Saya menyukai dokter Valen," lanjutnya melirik Lea yang berada di sampingnya sehingga mereka berdua saling melirik satu sama lain.
Lea tertawa membuat Nathan juga ikutan tertawa, menurut Nathan hal yang dia katakan memang patut untuk di tertawakan karna telah lancang menyukai istri orang.
"Maksud dokter Nathan, dokter Valen?" tanya Lea meski dia sudah tau jawabannya dan siapa yang dimaksud oleh dokter Nathan saat ini.
Nathan mengangguk kecil, sementara Lea masih setia tertawa.
"Ngapain sih suka sama orang yang udah punya suami? Mending suka sama Lea aja, belum ada yang punya," ucapnya dengan pd membuat Nathan menggelengkan kepalanya melihat Lea mengatakan hal tersebut dengan sangat santainya.
"Lea serius," kata gadis itu lagi.
"Tidak ada urusannya dengan saya," balas dokter Nathan.
Lea cengengesan kearah Nathan membuat Nathan berpikir jika gadis di sampingnya ini sedang kerasukan arwah rooftop rumah sakit ini.
"Dokter Nathan mau nggak jadi pacarnya Lea?" gadis itu berkata tanpa beban sehingga dia lupa tujuannya ke rumah sakit menemui dokter Nathan untuk minta bantuan.
"Masa muda sudah saya lewati," kata dokter Nathan. "Jadi.... Sekarang, bukan waktunya saya untuk pacaran lagi karna masa pacaran di masa muda sudah saya lewati," lanjutnya.
Lea mengangguk mengerti. "Jadi, maksud dokter Nathan mau langsung nikah aja, nggak mau pacaran?" tanya Lea memastikan dan dibalas anggukan mantap oleh Nathan.
"Yaudah kalau gitu, dokter Nathan mau nggak jadi suaminya lea?"
***
Hari ini Kayla dan Rara sedang ke mall, mereka berdua membawa salah satu anaknya. Rara membawa Tegar sementara Kayla membawa Dyra karna dia sangat cengeng jika ditinggalkan lama oleh Kayla.
Sementara Dyta, dia tidak cengeng meski Kayla meninggalkannya. Hasya dijagain oleh baby sister.
"Ra, gue bawa anak-anak ke tempat bermain dulu yah, lo duluan aja belanjanya," kata Kayla dan dibalas anggukan kepala oleh Rara.
Kayla menggandeng tangan Dyra dan juga Tegar untuk menuju area tempat bermain yang berada dalam mall ini.
Rara melihat baju berwarna merah yang sangat cantik membuat dia tertarik untuk membelinya. Dia mengambil baju tersebut tanpa melihat harganya terlebih dahulu.
Rara mengambil beberapa baju dan juga celana dan perlengkapan yang dia perlukan selama dia akan ke Bali minggu depan.
Sementara Elga dan juga Kayla belum tau jika Rara akan ke Bali minggu depan bersama dengan Frezan.
__ADS_1
"Baju ini cocok deh buat Hasya, lucu banget," menolog Rara melihat baju berwarna pink yang sangat pas jika dipakai oleh putrinya.
Selain membeli perlengkapan untuk dirinya ke bali, dia juga membeli perlengkapan untuk kedua anaknya dan juga suaminya.
"Yang ini cocok buat Tegar," ucapnya lagi lalu mengambil baju tersebut.
"Yang ini cocok buat Frezan," lanjutnya.
Ada banyak barang-barang dibeli oleh Rara, sementara Kayla masih menjaga Tegar dan juga Dyra ditempat bermain.
Rara menuju ke kasir untuk membawa seluruh belanjaannya, saking banyaknya belanjaannya di bantu oleh satpam mall untuk dibawa ke kasir.
"Makasih pak," kata Rara kepada satpam yang membantu membawa belanjaannya.
Satpam tersebut mengangguk. "Sama-sama, bu," balasnya lalu pamit pergi.
Beberapa jam Rara membeli barang yang sangat memanjakan matanya hingga tidak terasa waktu sudah sore.
Kasir tersebut menyebutkan total belanjaan Rara.
"Totalnya 250 juta ," kata kasir tersebut membuat Rara meneguk salivanya susah payah.
Apa saja yang dia beli hingga totalnya sebanyak itu? Perasaan dia hanya membeli baju sepuluh untuk Frezan, dan kedua anaknya, serta baju yang dia beli untuk dirinya entah berapa. Dia juga membeli permainan untuk kedua anaknya yang akan dia mainkan jika mereka telah sampai di Bali.
Jadi wajar saja jika totalnya sebanyak itu, di rambah lagi saja tas brendit yang dia beli kemahalan.
Rara menyerahkan kartu ATM nya kepada kasir tersebut.
"Buset dah, Ra. Belanjaan lo banyak banget." Kayla menggelengkan kepalanya melihat belanjaan Rara sebanyak itu.
"Aku keasikan belanja," jawabannya tanpa beban.
Kasir tersebut memberikan kembali ATM Rara.
Ting
Handphone milik Frezan bunyi, menandakan adanya pesan masuk. Dia mengecek handphonenya dan melihat jumlah uang yang terpakai di ATM milik Rara.
"Rara beli apa sebanyak ini?" heran Frezan melihat total belanjaan Rara ratusan juta.
Frezan hanya heran saja melihat Rara belanja sebanyak itu, baginya itu tidak masalah demi kebahagiaan Rara, namun dia heran saja.
__ADS_1
Ini pertama kalinya Rara belanja sebanyak ini, pulang nanti Frezan akan bertanya. Dia juga penasaran Rara telah beli apa sebanyak ini.