
Lea langsung saja kembali keruangan Rifal, setelah dia bertanya pada dokter Kiki di mana Nathan. Karna sudah satu mingguan ini dia tidak bertemu dengan Nathan di rumah sakit.
“Lea!”
Lea langsung menghentikan langkah kakinya saat dokter Valen memanggilnya.
“Dokter Valen,” sapa Lea kepada Valen yang menghampiriNya.
“Kamu dari mana?” Tanya dokter Valen.
Lea mengerucutkan bibirnya kearah Valen. “Lea datang ambil ini vitamin,” kata Lea menunjukkan vitamin yang diberikan tadi. “Cuman ambil ginian Lea nunggu hampir dua jam,” lanjutnya.
“Vitamin?” Menolog Valen mengambil vitamin itu di tangan Lea.
“Rifal nggak butuh vitamin,” heran Valen. “Yang nyuruh kamu ambil vitamin siapa?”
“Perawat yang jaga om Rifal,” kata gadis itu.
Valen menggelengkan kepalanya. “Mungkin saja dia salah dengar.”
Valen dan Lea jalan bersamaan untuk menuju ruangan Rifal. Tidak ada rasa curiga sama sekali dalam diri Valen mengenai ini.
Perawat yang sudah melihat kedatangan Valen pamit undur diri, Valen berterimakasih kepada perawat tersebut.
Valen melihat Rifal sedang tertidur, dia mendudukkan bokongnya di sofa sementara Lea menyimpan vitamin diatas nakas.
“Kak Nando mana?” Tanya Lea karna tidak melihat Nando di sini, padahal dia melihat pria itu tadi mengobrol dengan dokter Kiki sebelum dia ke apotek.
“Ngantor,” jawab Valen sembari membaringkan tubuhnya diatas sofa, dia juga membutuhkan istirahat setelah menjalankan operasi tadi.
“Tadi Lea lihat kak Nando ngobrol sama dokter Kiki,” kata Lea membuat Valen tersenyum tipis.
“Kamu cemburu?”
“Nggak!” kilah Lea dengan cepat, “Lea cuman cinta dan suka sama dokter Nathan, kalau sama kak Nando nggak!” kata Lea lagi.
“Beneran?”
“Iya beneran.”
Valen hanya mengangguk, karna dia percaya jika cinta Lea masih untuk Nathan.
“Om Rifal jadi pulang nanti atau besok?” Tanya Lea.
“Nanti. dia minta pulangnya nanti,” kata Valen membuat Lea menjadi lesuh.
“Kamu kenapa?” Tanya Valen yang melihat raut wajah Lea yang lesuh.
“Sudah satu minggu ini, Lea nggak lihat dokter Nathan di rumah sakit,” lemahnya membuat Valen menggelengkan kepalanya.
“Gimana kamu nggak lihat, dia orangnya keluar kota,” kata Valen.
“Seharusnya dokter Nathan pamit sama Lea. Biar Lea nggak cari dia terus di rumah sakit ini,” keluhnya.
“Emangnya kamu siapanya yang harus di beritahukan?” Canda Valen membuat Lea langsung menutup wajahnya dengan bantal sofa.
“Lea calon istrinya!”
__ADS_1
Valen hanya tertawa melihat tingkah Lea saat ini, seperti anak kecil saja. Entahlah, mengapa Lea lebih menyukai pria lebih dewasa ketimbang pria seumuran dengannya.
“Kata Nando, kamu punya pacar yah?” Tanya Valen sembari mengambil cemilan di atas meja, “kalau nggak salah namanya Agrif,” lanjutnya sembari mengunyah cemilannya.
“Ihk, bukan!!!” Kesal Lea, bisa-bisanya Nando mengatakan jika dirinya berpacaran dengan Agrif, seorang anak kecil.
“Terus. Agrif itu siapa? Kata Nando pacar kamu, karna kamu sering gunain kata sayang,” kata Valen lagi.
Lea menarik nafasnya panjang. “Agrif itu anak kecil. Dia masih sd,” kata Lea.
“Dia selalu nelfon Lea. Bahkan dia minta sama Lea untuk jadi mama sambungnya!” kata Lea lalu kembali menutup wajahnya dengan bantal.
Valen tertawa keras mendengar apa yang di katakan oleh Lea.
“Kamu nggak bercanda kan?” Tanya Valen sembari menghentikan tawanya.
“Nggak!” kilah Lea dengan cepat.
“Namanya siapa?” Tanya Valen penasaran.
“Dan-“
“Valen!”
Perkataan Lea langsung terhenti karna mendengar suara Rifal yang memanggil Valen.
“Bentar yah Lea,” kata Valen beranjak dari tempat duduknya menghampiri Rifal.
Pria itu sudah bangun.
“Kamu udah selesai?” Tanya Rifal.
“Udah.”
“Yaudah, kita pulang!”
“Sekarang?”
“Sekarang, aku udah nggak betah disini,” keluhnya dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.
Valen mulai membereskan barang-barangnya yang dia bawa dari rumahnya.
Valen menelfon dokter Hamka jika dia sudah ingin pulang, tak lupa pula dokter Kiki membantu mereka.
Valen langsung pulang bersama dengan sopir dan juga Lea. Dia sudah menelfon Rata jika Rifal sudah keluar dari rumah sakit.
***
Rara berjalan menuruni anak tangga, dia melihat saudara kembarnya sedang menonton televisi.
“Bang El,” panggil Rara lalu duduk di dekat Elga.
“Kak Rifal udah pulang,” kata Rara.
“Serius?”
“Iya. Valen nelfon Rara tadi kalau mereka udah pulang.”
__ADS_1
“Gimana dengan matanya?”
“Emmm…Kata Valen belum ada pendonor mata untuk Rifal yang cocok. Pihak rumah sakit bakalan hubungin mereka jika mereka sudah mendapatkanya.”
Wajah Elga menjadi datar. Membuat Rara tau apa yang di pikirkan oleh Elga saat ini.
“Nathan kapan balik?” Pertanyaan itu langsung di lontarkan oleh Elga.
“Sekitar dua hari lagi,” kata Rara.
“Bang El, jangan buat macam-macam yah,” mohon Rara, sementara Elga tidak membalas perkataanya lagi.
Elga langsung beranjak dari sofa yang dia duduki.
“Saudara kamu memang keras kepala, Ra,” kata Kayla yang tiba-tiba muncul membawa coffe. Tadi Elga menyuruhnya membuat coffe namun pria itu langsung pergi.
“Aku takut, Kay. Bang Elga bakalan lakuin yang nggak-nggak sama Nathan,” khawatir Rara.
Kayla langsung memeluk Rara. “Tenang aja, gue yakin Elga nggak bakalan melampaui batas,” ucap Kayla.
“Anak-anak mana?” Tanya Kayla melepaskan pelukannya sembari matanya celingak-celinguk melihat sekelilingnya tidak melihat anak-anak mereka.
“Mereka lagi main di taman,” kata Rara.
“Yang jaga mereka siapa?”
Rara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Mereka sendiri,” kata Rara sembari cengengesan membuat Kayla ingin menampol sahabatnya sekaligus iparnya itu.
“Gue lapor lo sama kam Eza. Biarin anak-anak main sendiri,” ancam Kayla berdiri dari sofa yang dia duduki.
“Mereka nggak sendiri, mereka kan berlima,” kata Rara.
“Terserah lo, Ra!” kesal Kayla berjalan meninggalkan Rara untuk menuju taman.
Hiks….Hiks….Hiks
Saat sampai di taman, Kayla sudah di suguhkan suara tangisan anak kecil. Dia yakin yang menangis itu adalah Dyra.
“Dyra kenapa, Sya?” Tanya Kayla menghampiri kedua anak itu yang sedan main masak-masak.
“Hasya marahin, Dyra. Karna dia ingin mau makan ini,” kata Hasya menunjuk dedaunan yang dia letakka di tempat masakan mereka.
Kayla menggelengkan kepalanya. “Sayang….ini bukan makanan. Tapi ini rumput,” kata Kayla memberikan nasehat kepada Dyra.
“Makan yang ini aja yah, sekarang berhenti nangis nya,” kata Kayla memberikan biskuit untuk Dyra dan juga Hasya.
Anak itu diam.
“Hasya. Farel, Tegar dan Dyta main di mana?“ tanya Kayla ingin menghampiri ketiga anak itu. Karna dia tau, Dyta dan Farel selalu bertengkar dan Farel sangat jahil kepada ada keritingnya itu.
“Mereka lagi main di lapangan basket,” kata Hasya sembari memakan biskuit yang diberikan oleh Kayla.
“Kalian Disini yah, mama mau nyamperin mereka bertiga.”
“Iya tante.”
“Iya, Ma.”
__ADS_1