
''VALEN!''
Rifal langsung bangun dari tempat tidurnya, dengan nafas memburuh, keringat bercucuran di wajahnya.
Dia kembali memimpikan Valen, dan mimpi yang tadi terasa sangat nyata. Rifal memegang pipihnya lalu menarik nafasnya berat lalu menghembuskanya.
''Gue pikir ini bukan mimpi,'' lirih Rifal seraya beranjak dari tempat tidurnya.
Dia melirik jam di dinding kamar ini pukul tiga sore, dia melapskan bajunya untuk segera mandi karna tubuhnya berkeringat padahal di kamar ini AC menyala.
Mungkin karna mimpi tadi, membuatnya menjadi panas. Setelah beberapa menit mandi, Rifal memakai kaos oblong dengan celana seluruhnya.
Dia sudah menyewa mobil selama dia tinggal di Bali, untuk mencari Valen. Rifal mengambil kunci diatas nakas lalu lalu keluar dari Villa.
Sore ini dia akan ke pantai yang pernah dia kunjungi bersama Valen. Rifal akan memberikan semangat pada dirinya untuk mencari Keberadaan Valen.
Mimpinya yang tadi, seperti nyata membuat Rifal harus mencari Valen dengan sepenuh hati dan menyimpan kepercayaan lebih jika istrinya itu masih hidup.
Rifal menyalakan mesin mobil lalu memakai kacamata hitamnya. Dia memutar mobilnya untuk pergi meninggalkan Villa ini.
Di sepanjang perjalanan Rifal sibuk dengan pikiranya, dia harus mencari Valen lebih dulu di mana?
Dia akan ke pantai, tempatnya terakhir bersama dengan Valen sebelum istrinya itu menghilang.
Cit….
Rifal hampir saja menabrak kakek-kakek yang ingin menyeberang, karna pria itu sibuk dengan pikiranya.
Untung saja jalan di sini tidak terlalu padat, sehingga mobil bisa lewat tanpa ada drama sahutan klakson karna Rifal singgah mendadak.
Rifal menepikan mobilnya, lalu turun untuk menghampiri kakek itu.
''Apa kakek tidak apa-apa?'' tanya Rifal kepada kakek tersebut.
''Tidak apa-apa, nak. Hanya saja cucuku menangis,'' ujar kakek itu seraya menenangkan anak kecil yang berada dalam gendonganya.
Rifal membimbing kakek itu untuk menepi, takut jika ada kendaraan yang menyenggolnya di pinggir jalan.
Anak kecil itu menangis kearah Rifal, wajahnya sangat imut, putih bersih, serta sedikit kebule-bulean.
Rifal tersenyum kearah anak itu, entah mengapa melihatnya membuat Rifal merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan.
''Dia umur berapa?'' tanya Rifal tanpa mengalihkan pandanganya dari anak kecil yang imut itu.
''Umurnya sudah ingin memasuki satu tahun,'' jawab sang kakek.
__ADS_1
Rifal tersenyum kecut, andaikan saja dia dan istri tidak mengalami kecelakaan mungkin saja anak mereka sudah sebesar anak kecil yang menangis kearahnya ini.
''Kek, Ayok pulang! Ibunya Kianna udah nungguin Anna untuk minum susu!'' teriak wanita yang usinya sudah tidak muda lagi.
Sehingga Rifal menatap ke seberang jalan.
''Saya duluan, ibunya Anna sudah menunggu anaknya untuk menyusui Anna,'' pamit kakek itu kepada Rifal.
Rifal menatap punggung sang kakek, dan yah Rifal menarik sudut bibirnya melihat anak kecil itu tersenyum padanya dengan isakan-isakan kecilnya.
''Kianna,'' gumam Rifal lalu berjalan menuju mobilnya. ''Andaikan kecelakaan ini tidak ada, anak ku pasti sudah sebesar anak itu dan gue pasti udah gendong anak ku, dan menjadi sosok pria yang sempurna.''
Rifal kembali melanjutkan perjalananya menuju pantai, bertemu dengan anak kecil itu tadi membuat Rifal merasakan sedikit kelegahan padahal dia tidak melakukan apa-apa.
Di sepanjang perjalanan menuju pantai, Rifal selalu membayangkan wajah menggemaskan anak itu, namanya juga sangat unik.
Kianna!
Mobil yang di kendarai Rifal, mulai bergerak lambat ketika jalanan macet karna di pinggir jalan banyak penjual.
Rupanya masih ada juga penjual sore-sore begini, Rifal menutup kaca mobilnya karna bau amis masuk kedalam indra penciumannya.
Bagaiamana tidak, jika pasar kali ini banyak yang menjual seafood. Mulai dari ikan, cumi, udang, kerang dan hasil laut lainya.
Mata Rifal mengerjap melihat sosok wanita menyeberang membawa bakul ikan dengan rambutnya terikat.
Rifal menggelengkan kepalanya. ''Dia nggak mungkin Valen,'' hembus Nathan melihat wanita yang sedikit mirip dengan Valen.
Hanya saja, penampilanya sedikit berbeda.
Rifal mulai kembali menjalankan mobilnya karna jalan sudah tidak seramai tadi.
Rifal memukul stir mobilnya, sosok anak kecil tadi mampu membuat hatinya berdesir dan wanita yang mirip dengan Valen membuatnya banyak mengalami hal yang tidak-tidak.
Rifal menepikan mobilnya tidak jauh dari pasar seafood di adakan. Dia turun dari mobilnya mencari wanita yang membawa bakul sosok wanita itu sangat mirip dengan Valen.
''Permisi!'' Rifal menerobos masuk kedalam pasar. Mencari sosok wanita yang tadi dia lihat mirip dengan Valen.
Tidak ada salahnya jika dia berpikir jika wanita tadi adalah istirnya. Rifal tidak mempedulikan berbagai macam bau di pasar seafood ini.
Rifal mengarahkan pandangnya ke seluruh penjuru pasar. Namun dia sudah tidak melihat wanita yang dia duga adalah Valen.
''Gue yakin, Valen masih hidup. Dia berkeliaran di sini!'' gumamya dengan yakin.
Rifal kembali mencari keberadaan Valen di seluruh penjuru pasar, dia tidak peduli jika bau amis masuk ke indra peciumanya.
__ADS_1
Bruk
Hingga tubuh tegaknya menubruk seseorang sehingga terjatuh kebawa tanah.
''Maaf,'' ucap Rifal dengan cepat membantu orang yang dia tabrak berdiri.
''Kakek bukanya yang tadi?'' tebak Rifal memperhatikan raut wajahnya.
Belum ada beberapa jam dia melihat kakek itu, dia kembali bertemu.
''Iya, kamu, kan, yang hampir tabrak saya,'' ucap kakek seraya membersihkan bajunya.
''Dan sekarang kita bertemu lagi.''
''Saya minta maaf, Kek,'' ucap Rifal.
‘’Sepertinya kamu mencari sesuatu,'' ucap kakek itu.
''Saya sedang mencari ist—''
''Kakek Halan, ada orang mau beli ikan!'' teriak pedagang yang sesama penjual ikan.
''Saya tinggal dulu, ada pembeli yang ingin saya ladeni,'' pamit kakek itu melenggang pergi meninggalkan Rifal.
Entah mengapa ada sesuatu yang mendorong Rifal untuk tetap Disini.
''Ibunya Anna sudah balik?'' tanya kakek Halan kepada sesama penjual ikan di sampingnya.
''Dia baru-baru pergi, katanya mau menyusui, Anna,'' jawabnya.
Kakek Halan adalah nelayan dan merupakan nelayan yang menjual hasil tangkapannya di pasar.
Dari jarak dari sini, Rifal memperhatikan kakek Halan melayani para pembeli ikan.
“Entah mengapa hati gue nyuruh gue buat dekat sama kakek tua itu.”
''Bagaimana hasil penjualan mu hari ini?'' tanya Kakek Halan setelah melayani para pembeli ikan.
''Aduh kek, apa kakek tau. Semenjak ibunya Anna membantu kakek menjual ikan di pasar ini, hampir smeua pembeli semuanya lari ke kakek. Siapa yang tidak tergiur di layani oleh ibunya Anna yang cantik seperti bule itu,'' ujar pria yang berusia 50 tahun itu.
Kakek Halan terkekeh.
''Itu rejeki kakek,'' ucapnya.
''Sampai kapan kakek menyembunyikan dia?''
__ADS_1
Kakek terdiam lalu menjawab. ''Sampai dia mengenal dirinya sendiri.''