Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Suami saya bukan barang (Valen)


__ADS_3

Valen masih mematung dalam dekapan Rifal Bahkan mengeluarkan sepatah katapun mulutnya menjadi kakuh seperti sekarang ini.


Perkataan Rifal tadi sukses membuat Valen terdiam dsn mencoba mencernah apa yang baru saja Rifal katakan kepadanya. Rifal menyayanginya? Dia tidak salah dengar 'kan jika Rifal baru saja mengeluarkan kata-kata itu barusan.


Mereka berdua berpelukan didepan pintu ruangan milik Valen.


Rifal melepaskan pelukannya dari Valen lalu kembali menatap wajah cantik milik Valen saat ini.


"Percaya sama aku. Semua akan baik-baik saja." Valen tidak tau, mengapa Rifal mengatakan seperti itu. Apa yang akan terjadi sehingga pria itu mengatakan kata seperti itu kepada Valen.


"Tap_" Belum sempat Valen meneruskan perkataannya, suara yang tidak asing bagi mereka memasuki gendang telinganya.


"Adelia , membutuhkan mu." Nathan masih setia mengenakkan jas kebanggaannya yaitu jas dokternya. Dia berdiri tidak jauh dari keberadaan Valen dan Rifal.


Perkataan Nathan tadi sukses membuat Valen bertanya-tanya. Ada apa dengan Adelia? Bukannya Adelia baik-baik saja tadi, dan kenapa Nathan mengatakan jika Adelia membutuhkan Rifal.


"Saya harap kau akan datang menemui, Adelia," lanjut Nathan kepada Rifal.


Lepas menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan Nathan membalikkan badannya untuk segera pergi. Melihat Rifal dan Valen berduaan membuat hatinya berkvamui.


Cemburu? Tentu saja Nathan cemburu melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Valen dan Rifal berpelukan.


Nathan bisa melihat dari bola mata Valen yang sangat bahagia disertai rasa haru saat Rifal memeluknya, dimata Nathan ada cinta yang sangat besar untuk Rifal dari Valen.


Valen masih melihat punggung Nathan yang semakin menjauh. Valen tau jika Nathan mencintainya.


"Istirahat. Aku keruangan Adelia dulu," pamit Rifal tanpa menunggu jawaban dari Valen dia langsung berlalu pergi meninggalkan Valen.


Valen tersenyum getir, rasanya perasaannya seperti digantung oleh Rifal saat ini. Menyangi dalam artian apa? Hati Valen bertanya-tanya mengenai tadi.


Valen masuk kedalam ruangannya, lalu menutup pintu ruangannya.


1


2


3


Dalam hitungan ketiga Valen membuka kembali pintu ruangannya dengan buru-buru. Dia melupakan tugasnya apa lagi Nathan mengatakan tadi jika Adelia membutuhkan Rifal.


Padahal Rifal bukan dokter. Mungkin saja Adelia ingin melihat wajah Rifal agar dia bertahan dengan sakitnya sebagai penyalur tenaga untuk Adelia.

__ADS_1


Valen ingin membuka pintu ruangan Adelia, namun dari belakang seseorang mencekal pergelangan tangannya.


"Jangan menganggu."


Seseorang itu mencekal pergelangan tangan Valen, sehingga Valen membalikkan badannya sehingga dia bisa melihat siapa yang mencekal pergelangan tangannya sehingga dia tidak jadi membuka pintu ruangan Adelia.


Valen melihat seorang wanita cantik dengan lipstik merah dibibirnya dan jangan lupa make up yang dia kenakan sedikit tebal.


Dia menggunakan sepatu hak tinggi serta tas bermerek yang dia kenakan. Pakaiannya yang sedikit sexy membuat seseorang akan megira jika perempuan ini salah memasuki suatu tempat.


Wanita itu menatap Valen dari bawah sampai ujung kaki membuat Valen sedikit risih diperhatikan seperti itu. Dia tidak tau siapa wanita dihadapannya yang menurut Valen sedikit menyeramkan.


"Siapa?" tanya Valen. Karna dia berpikir dia tidak pernah bertemu dengan orang ini apa lagi berpapasan dengan wanita dihadapannya.


"Wow, ternyata kau berprofesi dokter!" wanita itu sedikit takjub dengan Valen, lalu kemudian tersenyum sinis kearah Valen.


Sementara Valen masih bingung dengan wanita dihadapannya. Dia belum juga menjawab pertanyaannya. Jika dilihat-lihat wajah wanita dihadapanya mirip seseorang hanya saja make up yang dia kenakan sedikit tebal.


"Siapa, yah?" sekali lagi Valen bertanya karena wanita dihadapannya membuat Valen semakin risih.


"Orang yang akan menyingkirkan mu."


Valen semakin tidak tau dengan apa yang dikatakan wanita yang baru saja dia lihat.


"Saya kakak, Adelia."


Deg


Valen langsung mematung saat wanita dihadapannya ini mengaku sebagai kakak Adelia.


"Saya harap kau tidak menggangu waktu Rifal untuk Adelia." Kakak Adelia memberikan peringatan untuk Valen membuat Valen semakin disudutkan.


Sekian tahunya Adelia berbaring dirumah sakit, wanita dihadapannya baru saja muncul. Kemana saja dia selama ini?


"Saya Amora," wanita itu mulai memperkenalkan dirinya kepada Valen tanpa mengulurkan tangannya kearah Valen. "Kakak dari Adelia yang menyelamatkan mu 10 tahun yang lalu."


Deg


Tak dipungkiri, wanita dihadapan Valen bernamakan Amora mengungkit kejadian masa lalu itu.


"Apa kau masih ingat?" tanyanya kepada Valen yang masih mematung. "Yah....Tentu saja kau masih ingat kejadian yang hampir merenggut nyawa mu itu," lanjutnya tanpa memperdulikan perasaan Valen.

__ADS_1


"Seharusnya kau tau diri dan tau caranya balas budi!" kata Amora membuat Valen semakin terdiam kakuh.


Sepertinya sifat Amora sangat kasar tanpa menyaring perkataannya terlebih dahulu.


"Jika bukan karna Adelia, mungkin saja kau sudah tidak berdiri disini dan tidak akan mengenai jas kebanggaan mu itu," lanjutnya sembari tersenyum meremehkan. "Seharusnya kau mengingat itu setiap kau ingin tidur!"


"Apa kau tidak ingin memberikan hadiah atas apa yang dilakukan Adelia padamu?" lanjutnya membuat Valen tidak bisa berpikir jernih.


"Contohnya saja melepaskan Rifal untuk Adelia."


Deg


Perkataan Amora seakan-akan menyuruh Valen untuk pergi meninggalkan Rifal.


"Ahk iya saya sampai lupa. Kalau kau yang merebut Rifal dari Adelia saat dia berjuang dengan nyawanya sendiri," lanjutnya sembari menatap Valen yang masih berdiri tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Amora kakak Adelia yang usinya sudah 29 tahun, sosok wanita karir.


"Apakah kau tidak berniat membalas kebaikan Adelia? Yang menyelamatkan nyawa mu itu?"


Mata Valen dan Amora bertatapan membuat Amora tak ingin kalah menatap Valen.


"Kau perlu ingat. Nyawamu diselamatkan oleh Adelia!"


Sekali lagi Amora menegaskan kata itu. "Jadi...kau bisa balas budi kepada Adelia dengan cara meninggalkan Rifal." Amora menekan setiap perkataannya untuk Valen.


"Saya tidak akan pernah meninggalkan, suami saya!" Valen menekan perkataannya saat mengatakan kata suami kepada Amora.


"Suami saya bukan barang yang harus saya hadiahkan kepada seseorang." Valen berkata sembari menatap Amora yang menatapnya dengan tatapan nyalang.


"Biarkan suami yang meninggalkan saya. Asal bukan saya terlebih dahulu meninggalkan suami saya!"


"Kau!" tangan Amora terangkat ingin menampar Valen karna jawaban yang dia dapatkan tidak sesuai dengan yang dia pikirkan.


Tangan Amora bergelantungan di udara karena seseorang menahan tangannya. Seseorang itu langsung menghempaskan tangan Amora.


"Tolong sopan dengan aparat kesehatan. Apa kau tidak tau jika yang ingin kau tampar seorang dokter?" Nathan berkata dengan tegas menatap Amora yang hampir saja menampar Valen.


Untungnya saja Nathan mendengarkan suara yang sedikit ribut dari luar sehingga dia bisa melihat ada apa diluar.


Tangan Amora terkepal karna hampir saja dia menampar Valen namun Nathan datang lebih cepat.

__ADS_1


Nathan langsung menarik pergelangan tangan Valen pergi dari ambang pintu ruangan Adelia..


__ADS_2