
Dengan kakuh Valen bergerak ingin membuka bajunya. Rifal yang gemes dengan Valen yang bergerak terlalu lama langsung menyimpan shower tersebut.
Valen melototkan matanya saat Rifal mulai memegang bajunya dan mulai melepas kancing baju piyama yang dia kenakan.
Rifal berhasil melepaskan baju piyama yang dikenakan oleh Valen, dia meneguk salivanya melihat tubuh putih Valen dan mengenai bh berwarna hitam.
Rifal mengusap perut Valen yang sudah mulai membuncit. Kandungan Valen menghampiri empat bulan.
“Nggak kerasa, perut kamu udah besar,” ucap Rifal tanpa melihat wajah Valen karna dia sedang mengusap Valen dengan lembut.
“Heheh,” Rifal terkekeh saat merasakan sesuatu dari dalam perut Valen. “Dia gerak, Len,” kata Rifal dengan tawa kecil.
“Mana bisa bayi dalam perut gerak,” ucap Valen membuat Rifal mendongakkan kepalanya sehingga matanya bertatapan dengan mata Valen.
“Kamu sendiri kan yang bilang tadi,” lanjut Valen membuat Rifal menatap kesal kearah Valen membuat istrinya tersenyum kecil.
“Yang ini beda, Len.”
“Mana bisa kamu tau ini beda. Sementara yang mengandung adalah aku,” Sosor Valen.
“Intinya, dia gerak saat aku pegang perut kamu,” ucap Rifal lalu melanjutkan melepaskan pakaian Valen.
Dia melepaskan celana piyama yang dikenakan Valen dan hanya menyisahkan brah hitam dan celana segitiga berwarna merah yang menutupi intinya.
Rifal menatap Valen dengan tatapan nakal membuat Valen menjadi was-was. Takut jika Rifal melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan diatas ranjang bukan dikamar mandi.
Sebagai lelaki normal, tentu saja Rifal tergiur dengan lekuk tubuh Valen. Rifal mendekatkan wajahnya dengan wajah Valen.
Cup
Rifal langsung mencium bibir Valen dengan lembut membuat Valen merasakan sensasi nyaman saat Rifal menyentuh bibirnya.
Valen dan Rifal memejamkan matanya dan merasakan ciumannya satu sama lain.
Ughhhh
Suara lenguhan keluar dari mulut Valen, sehingga Rifal semakin panas mendengar suara Valen tadi.
Ciuman yang tadinya lembut kini menjadi sedikit kasar, bibir Valen bagaikan magnet yang selalu membuatnya tertarik.
Rifal mulai merabah setiap inci tubuh Valen, dia melepaskan brah yang dikenakan Valen agar lebih leluasa.
__ADS_1
Brah yang Valen kenakan langsung terlepas. Membuat Valen membuka matanya sehingga matanya dan mata sayu milik Rifal yang di penuhi dengan hasrat saling bertatap.
“Nikmati ciumannya, Len,” ucap Rifal dengan suara berat seperti menahan beban membuat Valen tau jika suaminya sedang ingin melalukan hal yang seharusnya suami istri lakukan.
“Fal,” panggil Valen dengan lembut. Sehingga Rifal melepaskan ciumannya.
“Kamu mau?”
Rifal langsung mengangguk seperti anak kecil yang ingin diberikan permen.
“Kita dikamar yah, nggak baik di kamar mandi,” ucap Valen dan dibalas gelengan kepala oleh Rifal.
“Aku mau disini. Entar malam baru di kamar,” ucap Rifal dengan suara berat membuat Valen meneguk salivanya dengan susah payah dengan apa yang dikatakan oleh Rifal.
Rifal memeluk erat Valen, sehingga perut Valen bisa Rifal rasakan yang sedikit sudah membesar.
“Aku lagi hamil, jadi nggak bisa kalau kita lakuin dikamar mandi,” Valen memberikan pengertian kepada Rifal seraya mengusap punggung Rifal.
Rifal melepaskan pelukanya lalu menatap Valen. “Gue bakalan hati-hati, karna aku tau kamu lagi mengandung,” ucap Rifal lalu menatap perut Valen.
Valen menggigit bibirnya dengan apa yang dikatak oleh Rifal. Apakah mereka berdua akan kembali bercinta dikamar mandi?
Rifal menyandarkan tubuh Valen di dinding kamar mandi lalu mengungkung istrinya itu. “Kamu mau kan?”
Rifal mulai membuka kain yang menutupi bagian inti istrinya, membuat Valen berusaha menahan gejolak.
Dia wanita normal, jadi dia tidak munafik jika ia juga menginginkan apa yang Rifal inginkan. Apa lagi dia dengan Rifal sudah sah, dan apa yang mereka lakukan akan menjadi pahala.
Rifal sudah memulai aksinya.
“Pelan-pelan, Fal.”
“Aku tau, Len. Kamu cukup diam dan nikmati aku akan hati-hati.”
….
Rina dan Aska sudah kembali dari taman.
“Rifal mana?” Tanya Aska melihat ruangan tv Sudah tidak ada manusia lagi.
“Mungkin lagi dikamar, lanjut tidur,” kata Rina.
__ADS_1
Kedua paruh baya itu menaiki anak tangga untuk segera ke kamar. “Katanya kamu mau ke Mall?” Tanya Aska sembari berjalan menaiki tangga bergandengan tangan dengan Rina.
Rina mengangguk. “Akua akan memanggil Valen setelah mengantar kamu ke kamar,” ucap Rina.
Rina membuka pintu kamar, lalu masuk bersama dengan Aska. Aska sudah baring diatas tempat tidur sementara Rina sedang mengambil baju dari lemari lalu masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti baju untuk segera ke Mall, dia tidak mandi lagi karna sudah mandi pagi hanya tinggal mengganti baju saja dan mengolesi wajahnya dengan bedak.
Rina sudah keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju merah rias. Dia mengambil bedak dan juga lipstik yang berwarna senada dengan pakaian yang dia kenakan.
Aska yang melihat Rina menggelengkan kepalanya, ternyata benar kata orang, jika seorang wanita tidak akan pernah luntur dari namanya make up. Buktinya saja dia melihat istrinya masih mengenakan make up tipis.
“Kamu selalu cantik, meski tanpa make up,” kata Aska tanpa mengalihkan pandanganya dari ponselnya.
Rina melirik suaminya, “tentu saja aku cantik, tidak akan mungkin pria seperti mu yang nakal menginginkan wanita yang tidak selevel dengan mu,” canda Rina. “Buktinya kamu mendapatkan ku karna kecantikan,” sambungnya dengan canda.
“Kecantikan itu hanya bonus, tapi hati yang selalu nomor satu. Kecantikan tidak akan selamanya abadi.”
Rina hanya tersenyum mendengar perktaan suaminya.
Rina mengambil tas lalu memasukkan atm kedalam tasnya.
Dia ingin menghampiri Valen untuk segera ke mall. Meski umurnya sudah tidak muda lagi tapi dia bergaya seperti menantunya namun tidak berlebihan karna dia tau batasan.
Rina sudah sampai didepan pintu kamar anak dan menantunya.
“Valen!”
Panggil Rina seraya mengutuk pintu kamar Valen.
“Valen,” panggil Rina. “Kita mau ke Mall sayang, untuk membeli perlengkapan bayi untuk anak kamu,” lanjut Rina dengan senyum mengambang sembari mengingat jika tidak lama lagi dia akan mempunyai cucu.
Tidak ada sahutan dari dalam, sehingga Rina memutar handel pintu kamar Rifal yang ternyata tidka k di kunci.
Rina berjalan masuk namun tidak melihat Rifal dan Valen. Suara gemercik air dari dalam kamar mandi membuat Rina tersenyum.
Dia berjalan menuju pintu kamar mandi, untuk megatakan kepada Valen untuk segera siap-siap. Dia pikir Rifal sedang berada diruangan kerjanya.
Tangan Rina bergerak mengetuk pintu kamar mandi. “Valen, sayang.”
Uhhh
Rina langsung terhenti mengetuk pintu kamar mandi saat mendengar suara keramat dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Bersamaan saat mengetuk pintu Valen mengeluarkan suara keramat.
Valen menggigit bibirnya saat mendengar ketukan pintu bersamaan dengan dia mengeluarkan suaranya.