
"Sepertinya orang berkesan dalam hidup Kayla, udah datang."
Tentu saja seluruh mata melihat kearah Nathan, yang tiba-tiba saja mengucapakan kata-kata seperti itu. Sementara dia yang di tatap hanya memainkan handponenya.
Tentu saja, Elgara peka dengan apa yang dikatakan oleh Nathan, guna untuk memanas-manasi dirinya.
"Duduk dulu, Niel," kata Frezan mempersilahkan tamunya untuk duduk terlebih dahulu.
Daniel langsung duduk didepan Frezan dengan Rara masih menatap pria itu. Pikiran Rara dipenuhi dengan pertanyaan. Apakah Daniel sudah menikah? Apakah dia sudah mempunyai anak?
Sementara Kayla masih terdiam melihat sosok pria yang pernah masuk kedalam hatinya. Kenangan bersama Daniel saat itu bukan main banyaknya.
Dari pertama dia menerima Daniel karna dia saat itu Elgara, yang sekarang sudah menjadi suaminya meninggalkan dirinya ditengah jalan. Dan saat itu pula Kayla sangat jengkel kepada Elgara.
Sampai-sampai saat itu dia mengatakan, jika ada yang menolongnya. Kalau perempuan dia akan menjadikannya saudara, kalau laki-laki dia akan menjadikannya pacar.
Saat itu Kayla hanya iseng-iseng saja karna saking jengkelnya dengan Elgara, apa lagi hujan saat itu sangatlah deras. Dan, pada saat itu Daniel datang membuatnya terkejut, tentu saja perkataan Kayla didengarkan oleh seksama oleh Daniel saat itu.
Kayla sangat takut jika saat itu perkataannya dicatat oleh malaikat dan dia mengingkarinya. Daniel yang saat itu sudah berusaha mendapatkan Kayla tidak bisa, dengan jalan ini dia bisa memanfaatkannya.
Masa SMA memang menyenangkan, bukan hanya ada pelajaran saja, tapi juga canda, tangis kesedihan dan juga cinta tumbuh diantara mereka.
"Kay, lo tersenyum yah, lihat kedatangan, Daniel." Nathan langsung mengucapakan kata seperti itu, saat melihat Kayla menyungkirkan senyum tipisnya mengingat masa itu.
Tentu saja hal itu tidak luput dari penglihatan Elgara. Sementara Kayla langsung menutup mulutnya dengan rapat-rapat, dia tanpa sadar tersenyum mengingat masa itu.
Siapa sih yang tidak tersenyum saat mengingat masa-masa yang sangat berkesan dalam hidup kita ini.
Nathan tersenyum penuh kemenangan saat Elgara menatapnya dengan tatapan tajam. Katakan jika Nathan balas dendam kepada Elgara karna telah mengejeknya karna belum mempunyai anak. Bagaimana bisa dia mempunyai anak, jika istri saja tidak punya.
Sementara Daniel hanya cuek saja, Daniel berbohong jika mengatakan tidak merindukan sosok Kayla. Sampai sekarang dia belum bisa melupakan Kayla.
Namun dia sadar, karna dia sudah melepaskan Kayla saat itu untuk Elgara!
"Apa kita bisa mulai?" tanya Daniel membuat seluruh pasang mata terarah padanya. Kecuali Frezan.
Ternyata pria itu dari dulu sampai sekarang tetap sama, berpikiran dewasa yang membuat Kayla saat itu beruntung mempunyai Daniel.
"Ternyata lo masih tetap sama yah, Niel. Berpikir dewasa pantas aja Kayla nyaman sama lo saat itu," kata Nathan lagi membuat Elgara mengepalkan tangannya.
"Nathan," tegur Frezan membuat Nathan terdiam.
__ADS_1
Setidaknya, dia sudah membalas perkataan Elgara kepadanya.
Elgara menatap tajam Nathan!
"Farel mana, Ra?" tanya Nathan kepada Rara.
"Dia ada dikamar, Tegar," kata Rara. Nathan langsung beranjak dari sofa yang dia duduki untuk menghampiri Farel.
"Silahkan pergi," kata Frezan sembari membuka berkas yang dibawa oleh Daniel.
"Siapa?" sepertinya mereka bertiga kompak menjawab kata 'Siapa'
Frezan melirik mereka bertiga. "Kalian bertiga," kata Frezan santai lalu kembali memeriksa berkas yang dibawa oleh Daniel.
"Yah....." kata Kayla nampak lesuh. Dia baru melihat Daniel namun Frezan menyuruh mereka bertiga pergi. Padahal Kayla ingin menanyakan kabar Daniel saat ini.
"Apa?" kata Elgara yang dapat mendengar perkataan Kayla.
Kayla melirik Elgara, sehingga mereka berdua saling bertatapan. "Jangan macam-macam, Kay," kata Elgara kepada istrinya itu.
"Nggak kok, my husband," kata Kayla lalu pergi meninggalkan ruangan tamu dengan Elgara menyusulnya.
"Ra," panggil Frezan dengan lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas dihadapanya.
"Sayang...."
Frezan melirik Rara, sementara Daniel sibuk dengan berkas dihadapanya. Mengecek apakah masih ada yang perlu dibenahi atau sudah tidak ada lagi.
"Aku mau kerja dulu," kata Frezan lembut membuat Rara mengerucutkan bibirnya.
"Ini udah malam, masih aja mau kerja," kata Rara dengan manyun lalu pergi meninggalkan Frezan.
Frezan hanya dapat melihat punggung Rara yang sudah menaiki anak tangga untuk segera kekamarnya.
Frezan kembali melihat berkas dihadapanya.
"Apa kau sudah mengecek, kerja apa yang kosong untuk diisi oleh, Elgara?" tanya Frezan tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas tersebut.
"Sudah ada," jawab Daniel sehingga Frezan melirik Daniel.
"Apa?"
__ADS_1
"Menjadi karyawan biasa, adapun juga menjadi sekretaris jika anda menyetujuinya," kata Daniel membuat Frezan menghembuskan nafasnya berat.
"Besok saya akan pikir, dimana ditempatkan Elgara," kata Frezan dan dibalas anggukan kepala oleh Daniel.
Dari lantai atas, Kayla bisa melihat Frezan dan juga Daniel sedang sibuk dengan berkas dihadapanya.
Deg
Mata Daniel melihat keatas sehingga dia bisa melihat Kayla sedang menatapnya dari lantai atas. Kayla langsung membalikkan badannya lalu memukul kepalanya sendiri.
"Dasar, bego!" gerutunya kepada dirinya sendiri.
Sementara Daniel kembali melanjutkan pekerjaannya bersama dengan Frezan.
"Kay, anak kamu tuh nangis! Nggak usah lihat-lihat mantan kayak gitu. Sampai kamu lupa anak kamu sendiri!" teriak Elga dari kamar membuat Kayla menghentakkan kakinya lalu masuk kedalam kamar.
***
Ceklek
Pintu ruangan Adelia dibuka oleh Rifal, dia melihat Amora sedang duduk dikursi sofa. Amora melirik Rifal lalu kemudian kembali fokus pada handponenya.
"Sial, gue dipecat!" gerutu Amora menyimpan dengan kasar handponenya diatas meja.
Adelia melihat Rifal, lalu tersenyum kecil. Wajahnya yang sudah pucat masih bisa tersenyum membuat hati Rifal terenyah.
"Gimana keadaan lo, Del?" tanya Rifal duduk didekat bansal Adelia, karna ada kursi yang telah disediakan.
"Gue baik-baik aja," kata Adelia. Dia mengatakan kata baik-baik saja, sementara wajahnya masih pucat pasih.
"Gue tau, kalau lo nahan sakit, Del," kata Rifal dengan prihatin membuat Adelia tersenyum kearah Rifal.
"Gue bakalan baik-baik aja, kalau lo selalu ada disini, Fal. Sampai gue nggak ada," kata Adelia membuat Rifal menarik nafasnya panjang.
"Semogah lo lekas sembuh. Kalau keadaan lo udah baik-baik, gue bakalan beri tau sesuatu sama lo, Del," kata Rifal membuat Adelia menggelengkan kepalanya kakuh.
"Jangan tunggu gue sampai baik-baik aja, sampai lo mau ngomongin sesuatu," kata Adelia dengan senyum diwajahnya.
Rasa sakit yang dirasakan oleh Adelia saat drop sangat luar biasa sakitnya, sampai-sampai dia ingin pergi saja dari dunia ini daripada menahan sakit yang sangat luar biasa, tapi jika dia mengingat Rifal membuatnya ingin selalu hidup.
"Karna gue nggak tau, sampai kapan gue nahan sakit ini."
__ADS_1