Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Memulai pertanyaan


__ADS_3

“Apakah saya bisa bertanya mengenai Adelia?” Lanjut Kiki karna belum mendapatkan respon dari Rifal.


“Saya tidak ingin membahas perempuan itu!” Rifal berkata dengan tegas membuat Adelia tersenyum getir.


Dokter Kiki terkekeh. “Mengapa pura-pura benci jika dia tidak ada?” Dokter Kiki berkata dengan santai.


Rifal menarik nafasnya panjang.


“Anda ingin bertanya apa?” tanya Rifal dengan dingin membuat Dokter Kiki ingin memulai pertanyaanya.


“Apakah kamu ingin menemui Adelia sebelum keluar dari sini atau tidak?” tanya dokter Kiki mulai bertanya pada Rifal.


Rifal menyungkirkan senyuman tipisnya, meski dia tidak bisa melihat dia bisa merasakan sesuatu.


“Saya sama sekali tidak ingin melihat gadis itu lagi!” ucapnya dengan tegas membuat hati Adelia menjadi nyeri.


Dokter Kiki melirik Adelia, Adelia menganggukkan kepalanya dengan kaku agar dokter Kiki melanjutkan perkataanya.


“Kenapa? Apakah karna dia lumpuh? Apa karna di berpenyakitan? Anda sudah tidak ingin bertemu dengannya?” Sepertinya Dokter Kiki menambahi, dia juga penasaran mengapa pria ini sangat tidak mau bertemu dengan Adelia.


Rifal berdecih. “Saya tidak mencintainya lagi, saya sudah mencintai istri saya Valen, jika saya mendekatinya itu semakin membuat dia berharap. Dan itu tidak akan saya biarkan berharap dengan saya lagi,” kata Rifal dengan tegas. “Dia hanya masa lalu, masa depan saya sudah ada, yaitu Valen.”


Air mata Adelia kembali jatuh di pipihnya sembari fokus menatap Rifal. Perkataan Rifal kembali sukses membuat air matanya jatuh. Rasanya sakit sekali, lebih sakit dari rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya ini.


Dokter Kiki menggenggam tangan Adelia, guna memberikan kekuatan gadis itu untuk menyiapkan mentalnya menerima jawaban dari Rifal.


“Terimakasih atas jawabnya,” kata dokter Kiki, sementara Rifal hanya diam saja.


Perawat yang membantu dokter Kiki mendekati dokter Kiki membisikkan sesuatu. Dokter Kiki mengangguk lalu mendorong kursi roda Adelia keluar dari ruangan Rifal.


Gadis itu hanya diam saja saat dokter Kiki sudah mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan Rifal.


Dia hanya diam saja, dengan air matanya turun di pipihnya begitu saja. Lantas untuk apa dia bertahan hidup? Untuk apa dia memperjuangkan hidupnya lagi? Rasanya jika dia hidup dia hanya mendapatkan rasa hampah dan kesakitan.


Dia ingin selalu bersama dengan Rifal, namun Seperinya sudah tidak bisa lagi. Bahkan untuk menemuinya saja Rifal tidak mau.


Dokter Kiki mendorong kursi roda Adelia menuju ruangan gadis itu. Perawat membantu dokter Kiki membaringkan Adelia di atas bansal.

__ADS_1


Gadis itu belum mengeluarkan suaranya semenjak meninggalkan ruangan Rifal, dia hanya menitihkan air matanya saja tanpa suara.


Bagaiamana rasanya menangis tanpa suara? Rasanya sangat sesak sekali.


“Adel,” panggil dokter Kiki dengan lembut, namun gadis itu enggan untuk membalas panggilan dokter Kiki.


Dokter Kiki menarik nafasnya panjang, Adelia belum mengeluarkan sepatah katapun namun matanya mengeluarkan butiran air mata.


Dia kasihan melihat kondisi gadis ini, selain fisiknya yang sakit, mentalnya juga bermasalah.


“Kamu istirahat dulu,” kata dokter Kiki lalu mengambil suntikan yang di dalamnya berisi obat tidur.


Dia melakukan ini agar Adelia tidur.


“Besok lusa kamu sudah mulai melakukan kemo,” peringat dokter Valen lalu menyuntikkan obat bius tersebut ke dalam impus.


Seperinya obat itu sudah mulai berjalan, karna mata Adelia sudah layu di tambah lagi dia sedang menangis.


Perlahan-lahan mata Adelia tertutup. Langsung saja dokter Kiki meninggalkan ruangan Adelia. Dia juga ingin istirahat mumpung ada waktu istirahat di rumah sakit.


“Makasih atas kerjasamanya,” kata Valen kepada dokter dan juga perawat yang bekerjasama dengannya di dalam ruangan operasi tadi.


“Sama-sama,” ucap mereka dengan serentak.


Valen langsung pamit untuk segera keruangan Rifal. Sementara Lea langsung berdiri dari tempat duduknya, hampir dua jam lamanya dia menunggu dan baru di ladeni, yang membuatnya kesal, sudah lama dia menunggu dan yang di berikan hanya vitamin satu papan saja yang membuat bokongnya menjadi keram akibat menunggu terlalu lama.


Lea berjalan di koridor rumah sakit, sembari membawa kantongan kresek berisikan vitamin. Dia melihat sekelilingnya, dia mencari keberadaan dokter Nathan karna sudah hampir satu minggu ini dia tidak melihat dokter Nathan di area rumah sakit.


“Dokter Nathan kemana sih?”


“Apa Lea tanya sama dokter Kiki aja? Pasti dia tau kan mereka sesama dokter,” menolognya. Kebetulan dia melewati ruangan dokter Kiki dia langsung berbelok untuk menuju ruangan dokter Kiki.


Lea sudah didepan pintu ruangan dokter Kiki, dia langsung mengetuk pintu ruangan dokter Kiki.


Tok….Tok….Tok


Dokter Kiki yang baru saja menyandarkan tubuhnya di kagetkan dengan ketukan pintu tersebut.

__ADS_1


“Siapa?” Tanya dokter Kiki tanpa meninggalkan kursinya.


“Maaf dok menganggu waktunya, saya Lea!” Sahut Lea dari luar membuat dokter Kiki langsung beranjak dari kursinya.


Entah ada keperluan apa gadis itu mengunjunginya di ruangannya.


Ceklek


Dokter Kiki membuka pintu, dia sudah melihat sosok gadis imut dengan tingginya yang tidak sepadan dengannya cengengengesan kearahnya membawa kantong plastik berisi vitamin.


Dokter Kiki berpikir, jika gadis ini baru kembali.


“Ada apa Lea?” Tanya dokter Kiki dengan ramah.


“Hmmm…Saya ingin bertanya, apa boleh?” Tanya Lea.


“Boleh, mau ngobrolnya di dalam?” Tanya dokter Kiki mempersilahkan Lea untuk masuk.


Namun dengan cepat gadis itu menggelengkan kepalanya,” tidak usah dok, Disini saja. Lagian Lea juga cuman sebentar,” papar gadis itu dan dibalas anggukan kepala oleh dokter Kiki.


“Yaudah kalau gitu, kamu mau bertanya apa?” Tanya dokter Kiki.


Lea meremas ujung bajunya. “Apa dokter Kiki tau, dokter Nathan kemana? Soalnya sudah semingguan ini Lea nggak lihat dokter Nathan,” tanya gadis itu sembari cengegengan memperlihatkan gigi rapinya.


Dokter Kiki tertawa, ternyata gadis di hadapnya tidak hanya mengenal dokter Valen saja namun dia juga mengenal dokter tertampan di rumah sakit ini, yaitu dokter Nathan.


“Kamu kenal sama dokter Nathan?” Tanya dokter Kiki.


“Iya, Lea kenal kok. Dia calon Lea hehehe,” tawanya membuat dokter Kiki juga tertawa.


“Dokter Nathan sedang keluar kota, entah urusan apa dia ke luar kota,” kata dokter Kiki membuat Lea menjadi lesuh, pantas saja dia belum pernah melihat pangerannya semingguan ini ternyata dia sedang keluar kota.


“Tapi kamu tenang aja, dokter Nathan bakalan pulang sekitar dua harian lagi,” lanjut dokter Kiki dengan senyuman.


Dia bisa mengetahui jika gadis imut di hadapnya ini menyukai sosok dokter Nathan yang di gulai banyak dokter di rumah sakit dan para perawat. Apakah dokter Kiki termasuk? Entahlah, hanya dirinya saja yang tau.


“Tapi om Rifal udah balik nanti.”

__ADS_1


__ADS_2