Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Emosi


__ADS_3

Dia tengah tertidur diatas bansal, lalu kemudian pria itu berusaha membuka matanya secara perlahan-lahan.


Pria itu perlahan-lahan membuka matanya, saat membuka matanya dia seperti merasakan baru bangun dari tidur panjangnya.


Dia melihat sekelilingnya, tempat yang tidak asing baginya akhir-akhir ini.


Dia menggerakkan tubuhnya, namun rasa sakit yang dia dapatkan.


Huft


Rifal menarik nafasnya dalam, dia sangat sulit menggerakkan tubuhnya. Dia seperti tidak pernah bangun, padahal dia hanya semalam di sini, karna seingatnya tadi malam dia menenggelamkan seluruh tubuhnya didalam bathub.


Ceklek.


Rifal memberhentikan aktivitasnya menggerakkan tubuhnya yang sedikit kakuh saat pintu yang dia tempati di buka oleh seseorang.


''Rifal!''


Rina dengan cepat menghampiri putranya dan memeluknya dengan erat.


Air matanya kembali turun melihat putranya yang dia tunggu-tunggu membuka matanya.


''Nak...'' Rina mengusap pipih kurus Rifal, dia tidak sanggup meneruskan perkataanya dia kembali memeluk Rifal dengan air mata terus-terusan turun begitu saja.


Rifal membiarkan orang tuanya memeluk tubuhnya yang sedikit kakuh.


''Jangan seperti ini lagi yah, nak,'' tangis Rina memeluk Rifal.


''Kamu melakukan ini, sama saja kamu membunuh Mommy secara perlahan-lahan, nak,'' ucap Rina lagi masih setia memeluk tubuh Rifal.


Aska sudah memanggil dokter Zul saat dia melihat anaknya sudah membuka matanya. Sungguh dia sangat bahagia saat melihat anaknya sudah sadar.


Dokter Zul datang bersama dengan dokter Kiki dengan langkah terburu-buru.


''Permisi, ya, bu. Biar kami periksa dulu,'' ucap Kiki lembut kepada Rina yang masih memeluk Rifal.


Rina memundurkan tubuhnya untuk membiarkan dokter Kiki dan dokter Zul memeriksa kondisi Rifal saat ini.


Dokter Zul sudah memberikan stetoskop kepada dokter Kiki yang akan memeriksa kondisi Rifal.


Semenjak bangun, Rifal belum mengingat nama Valen. Mungkin karna lelah dia melupakan suatu hal.


''Tidak usah periksa saya!'' cetus Rifal membuat pergerakan tangan dokter Zul dan Kiki terhenti.


''Kami harus memeriksa anda, ini sudah kewajiban kami sebagai dok—''

__ADS_1


''Saya juga mempunyai hak untuk menolak!'' potong Rifal membuat dokter Kiki yang terkenal dengan sikapnya yang ramah menatap Rifal dengan tatapan tidak sukanya.


''Nak, biarkan dokter ini melakukan apa yang semestinya dia lakukan,'' ucap Rina dengan lembut kepada Rifal.


''Tidak perlu!'' tolak Rifal dengan cepat.


''Kondisi anda harus di periksa, bukan waktu yang dekat anda ko—''


Dokter Zul tidak melanjutkan ucapannya karna sudah di tatap tajam oleh Rifal, tatapan mata pria itu membuat nyali dokter Zul menjadi ciut.


''Saya tidak memerlukan pemeriksaan apapun! Saya baru pingsan satu hari, bukan satu bulan. Jadi jangan terlalu berlebihan!'' ringis Rifal kepada kedua dokter di hadapnya.


Dokter Zul dan Kiki saling berpandangan dengan apa yang di katakan Rifal.


Pingsan satu hari?


Sementara Aska membawa Rina kedalam pelukanya.


''Anda tidak pingsan,'' ujar Kiki ingin memperjelas. ''Tapi…Anda koma.''


Rifal terdiam mendengar apa yang di katakan oleh dokter Kiki. Dia menaikkan alisnya sebelah dengan raut wajah heran.


Dia tersenyum sinis kearah kedua dokter itu.


''Kalian dokter tapi tidak bisa membedakan. Mana pingsan satu hari dan mana ko—''


''Anda koma selama satu tahun, bukan pingsan satu hari!'' jelas dokter Zul menekan setiap perkataanya membuat Rifal masih mencernah apa yang di katakan oleh dokter yang bername tag ZulFadli.


Mulut Rifal kakuh, dia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun saat dokter Zul memperjelas.


Rifal melirik kedua orang tuanya, meminta jawaban.


''Mom,'' panggil Rifal dengan suara kecil.


Kepalanya menjadi pusing saat ini, air matanya turun begitu saja saat nama seseorang terbesit dalam pikirnya.


''Apa benar Rifal koma selama itu?'' Rasa-rasanya Rifal tidak percaya jika dia koma selama itu.


Satu tahun? Ahk, rasanya tidak masuk akal bagi Rifal.


Karna dia masih ingat, dia menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam bathub dan suara dobrkaan pinru masih teringat jelas di pikirnya sebelum saat itu kesadarannya hilang.


Rina mengangguk mengiyakan ucapan Rifal, jika dia koma selama satu tahun saat kejadian malam itu.


Rifal menggelengkan kepalnya, pantas saja seluruh tubuhnya sangat kakuh untuk dia gerakkan sampai membuatnya sangat lelah.

__ADS_1


Rifal mendongakkan kembali matanya kearah Rina dan Aska.


''Istri Rifal mana? Nggak mungkin kalau satu tahun ini Rifal koma dan Valen nggak ketemu?'' Rifal mengalengkan kepalanya.


''Mom, jawab Rifal! Valen sudah ketemu, kan, Mom!?'' tuntut Rifal meminta jawaban dari Rina.


‘’Valen belum di temukan, bahkan sampai kamu koma selama satu tahun kita belum menemukan Valen,'' Aska yang menjawab membuat Rifal menggelengkan kepalnya.


''Nggak mungkin!'' sarkas Rifal menolak keras apa yang di katakan sang Daddy.


Padahal, begitulah kenyataannya.


Kejadian malam itu membuat Rifal koma selama satu tahun, dan baru sadarkan diri saat ini.


Dan hingga saat ini pula Valen tak kunjung di temukan, bahkan tidak ada sedikitpun titik mengenai keberadaan Valen.


''Ini kenyataan yang harus kau terima!'' sahut seseorang dari belakang dengan tegas.


Suara yang tidak asing memasuki gendang telinga mereka.


Rifal langsung menatap tajam kearah dokter Nathan yang menyahut di sela-sela obrolan mereka.


Nathan tersenyum kearah Rifal membuat Rifal mencengkeram sprei kamarnya. Otaknya seakan-akan mendidih melihat kedatangan dokter Nathan di sini.


''Kau—''


''Seharusnya kau tidak bertindak bodoh!'' desis Nathan memotong ucapan Rifal membuat Rifal semakin mendidih saat Nathan mengatakan jika dirinya bodoh.


''Beraninya kau mengatai diriku bodoh, kau lebih bodoh dariku! Ck, kau mencintai istri orang sama saja kau tidak punya malu!'' terang Rifal membuat Nathan menanggapinya hanya angin lalu.


Karna baginya, itu hanya masa lalu. Kini dia sudah membuka lembaran baru bersama orang baru.


''Itu hanya masa lalu,'' ucap Nathan.


‘’Seharusnya kau berpikir luas, jangan berpikir sempit sampai ingin mengakhiri hidup mu dengan tindakan bunuh diri! Bahkan hal itu lebih bodoh daripada mencintai istri orang!'' balas Nathan tak kalau pedasnya.


''Kau pikir dengan mengakhiri hidupmu Valen bisa ketemu?''


Ahk, ucapan Nathan sungguh membuat Rifal ingin meninju wajah tampan itu.


Andai saja dia sehat, sudah di pastikan di wajah tampan Nathan sudah ada tanda bogeman dari Rifal saat ini.


''Ck, seharusnya kau keluar dari zona nyaman. Jika kau mencintai Valen dan ingin dia kembali carilah dia sampai ketemu. Tapi apa? Waktu yang berguna untuk mencari Valen hanya kau sia-siakan untuk berbaring lemah diatas bansal rumah sakit ini. Kau sungguh membuang waktu mu sendiri tidur diatas bansal selama satu tahun lamanya. Andai saja kau gunakan waktu mu itu untuk mencari Valen!'' Kini giliran Nathan yang berdecih.


Kepala Rifal seperti ingin meledak, Nathan sudah menginjak-injak dirinya.

__ADS_1


''Jika kau yakin Valen masih hidup, carilah! Bukan menghabiskan waktu memikirkan hal itu hingga membuat mu sakit!''


''STOP!'' teriak Rifal menatap tajam Nathan dengan tatapan membunuh.


__ADS_2