Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Kepulangan Nathan


__ADS_3

Nathan telah kembali ke Jakarta, pria itu mengenakan kacamata hitam berjalan kearah cafe yang tidak jauh dari rumah sakit.


Pagi tadi dia berangkat, dan siang hari dia sampai di Jakarta, dan sore harinya dia ingin ke cafe bertemu dengan dokter Kiki.


Dia sudah memplening semuanya, dan malam nanti dia akan melakukan tindakan kemoterapti kepada Adelia.


Nathan langsung berjalan kearah meja paling sudut, saat melihat sosok perempuan sedang mengaduk minuamnya menunggu kedatangannya.


“Maaf, membuat anda menunggu lama,” kata Nathan melepaskan kacamata hitamnya lalu menggeser kursi duduk di hadapan dokter Kiki.


Dokter Kiki yang sedang menghayal sembari mengaduk minumanya di kejutkan dengan suara milik Nathan.


“Tidak apa-apa dok, lagian saya juga baru beberapa menit di sini,” kara dokter Kiki dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


“Langsung saja, saya ingin bertanya mengenai Adelia. Mengapa dia mau kemoterapi? Apa Rifal sudah siap menemaninya bertobat sehingga dia mau di kemo,” tanya Nathan membuat dokter Kiki menggelengkan kepalanya.


“Terus?” Lanjutnya.


“Ini berkaitan dengan Rifal, suami dokter Valen,” dokter Kiki mulai ingin menceritakan kepada dokter Nathan mengapa Adelia tiba-tiba setuju untuk pengobatan.


Nathan menunggu kelanjutan Kiki berbicara sembari menunggu pelayan membawakannya minuman.


“Saya dan Adelia mempunyai perjanjian. Adelia sangat kekeh ingin bertemu Rifal, dia memohon kepada saya untuk mengantarnya bertemu dengan Rifal dalam kondisi buta. Dia berjanji tidak akan bersuara agar Rifal tidak mengetahui kehadirannya. Namun saya tetap menolaknya karna saya merasa tidak enak hati pada Dokter Valen,” Dokter Kiki mulai menceritakannya kepada dokter Nathan.


“Dia selalu memohon kepada saya sampai menangis membuat saya tidak tega kepada dia, sampai saya mempunyai pikiran untuk memberikan penawaran kepada Adelia, jika saya membawanya bertemu dengan Rifal dia harus melakukan pengobatan kemo,” terang dokter Kiki membuat Nathan menjadi manggut-manggut.


“Semua alat untuk kemo Adelia sebentar malam apakah udah siap?” Tanya Nathan sembari meminum minumanya yang di bawakan oleh pelayan.


“Iya, saya sudah menyiapkan semuanya,” kata dokter Kiki dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


“Apakah Dokter Valen tidak ikut?” Tanya dokter Kiki. “Bagaimanapun dokter Nathan dan dokter Valen yang terlebih dahulu menangani Adelia,” lanjut Kiki membuat Nathan tersenyum simpul.


“Kamu adalah penggantinya dokter Valen, menemani saya menangani kondisi Adelia,” kata dokter Nathan membuat Kiki terdiam.


“Lagian pula, dokter Valen tidak bisa ikut dengan kondisi suaminya yang tidak memungkinkanya untuk bekerja.”

__ADS_1


Apa yang di katakan oleh Nathan memang lah benar, tidak mungkin juga Valen meninggalkan suaminya dalam kondisi buta.


“Jadi, nanti malam kita sudah mulai?” Tanya dokter Kiki memastikan.


“Yah, lebih cepat lebih baik, apa lagi penyakit Adelia sudah komplikasi. Harus di tangani segera mungkin,” kata Nathan.


Mereka berdua mengobrol di cafe, dokter Kiki bertanya pada dokter Nathan dalam rangka apa dia keluar kota.


“Oh iya, saya penasaran, dalam rangka apa yah dokter Nathan keluar kota?“ tanya Kiki sembari memakan cake diatas meja.


“Saya hanya butuh refresing saja,” canda Nathan di sertai dengan tawa kecilnya membuat Kiki berhenti bertanya.


Dia tau, jika ada keperluan tersendiri Nathan keluar kota, dan itu menjadi privasi untuknya membuat dokter Kiki tidak bertanya lebih lanjut lagi.


Mereka berdua melanjutkan makanya, di cafe. Sekali- kali mengobrol ringan.


***


Lea melihat Agrif di dekat Daniel, dari semalam Daniel belum juga sadarkan diri.


“Kakak cantik,” panggil Agrif.


“Semua badan papah sama wajah biru, banyak sekali luka di wajah papah sama badanya,” kata anak itu dengan sedih membuat Lea mengusap rambutnya yang hitam legam.


Tubuh milik Daniel membiru akibat pukulan dari Elga, bahkan sudut bibirnya robek membuat siapapun yang melihatnya akan bergedik ngeri.


“Agrif masih ingat wajah om jahat itu mukul wajah papah,” kata Agrif sembari melihat Daniel yang masih sibuk memejamkan matanya.


“Nggak boleh dendam,” nasehat Lea.


Agrif membalikkan badanya sehingga bertatapan dengan Lea. Lea mensejajarkan tingginya dengan Agrif.


“Tapi om itu jahat, dia nggak berhenti mukulin papah yang udah nggak gerak lagi,” kata Agrif membuat Lea langsung memeluk Agrif.


“Kamu yang sabar yah,” kata Lea membuat Agrif tidak menganguk, wajah Elga masih Agrif ingat jelas bagaimana pria itu menghajar Daniel seperti orang keserupan saja.

__ADS_1


Baru-baru saja Lea keluar dari rumah sakit karna menjaga orang yang dia kenal, yaitu Rifal. Namun dia kembali lagi kerumah sakit menjaga seseorang yang berbeda, yaitu Daniel papah Agrif.


“Kamu di sini dulu yah, biar kakak cantik beliin kamu makanan,” kata Lea kepada Agrif.


Lea membalikkan badanya untuk pergi ke kantin, namun panggilan Agrif langsung menghentikan langkahnya.


“Kakak cantik,” panggil Agrif sehingga Lea menghentikan langkahnya.


Agrif berjalan menghampiri Lea, lalu mengambil sesuatu di kantong celananya.


ATM black card!


Yah, anak kecil itu langsung memberikan kartu black card kepada Lea. “Kakak cantik pegang yah, kalau ada kebutuhan papah sama Agrif kakak cantik yang beliin pake kartu ini,” kata Agrif menyerahkan kartunya namun belum di ambil oleh Lea.


Lea melototkan matanya saat melihat jika kartu itu beneran kartu black card yang sangat jarang orang gunakan, hanya kalanagan atas saja yang bisa memegang ini dan anak kecil ini memegang kartu black kard yang selama ini Lea tidak pernah pegang.


“Agrif, kenapa kartu ini sama kamu?“ tanya Lea.


“Kata papah ini kartu buat biaya untuk Agrif sampai Agrif selesai, kata papah isi dalam atm ini banyak,” kata anak itu.


“Kenapa kamu yang megang sayang?” Tanya Lea, dia takut saja jika anak sekecil Agrif menjadi incaran orang jahat.


“Kata papah biar saat papah pergi kerja, Agrif bisa beli sesuatu tanpa meminta lagi sama papah karna semuanya sudah ada di sini,” kata anak itu membuat Lea menganguk kakuh.


“Kakak cantik simpanin Agrif kartu ini yah,” kata Agrif lagi.


“Iya,” jawab Lea.


“Kamu tunggu kakak di sini, yah. Kakak beliin kamu makanan dulu,” kata Lea dan dibalas anggukan kepala oleh Agrif.


Setelah kepergian Lea, Agrif langsung menghampiri bansal milik Daniel.


“Pah, om itu jahat banget sama papah. Sampai-sampai papah nggak bangun-bangun,” kata anak itu sembari menggenggam tangan Daniel.


“Pah, apakah orang jahat selalu menang? Dan orang baik selalu kalah?” Menolog anak itu.

__ADS_1


Suara monitor menjadi penghias ruangan yang di tempati oleh Daniel. “Agrif sayang sama papah, jangan ninggalin Agrif yah pah,” kata Agrif sembari memeluk Daniel.


Isakan kecil keluar dari mulut Agrif, dia sangat sedih melihat kondisi papahnya seperti ini.


__ADS_2