Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Pelukan hangat


__ADS_3

Sedari tadi Valen hanya menatap nasi goreng dimeja makan. Tanpa berniat menyentuh nasi goreng tersebut. Akibat perkataan Nathan tadi membuatnya memikirkan Rifal.


Huft


Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulut Valen. Entahlah, dia merindukan Rifal.


"Buat apa gue mikirin Rifal, kalau dia udah senang-senang sama Adelia," menolognya pada dirinya sendiri.


Valen melengkupkan wajahnya diatas meja ," gue munafik kalau gue bilang nggak mikirin, Rifal!"


Padahal tadi sore, Valen memberikan hukuman kepada Rifal untuk besok tidak bekerja dan menatap dirumah. Namun, Valen kembali sadar jika perkataannya tidak akan pernah didengarkan oleh Rifal. Siapa dirinya dengan lancangnya menghukum Rifal?


Bahkan Valen menertawakan dirinya sendiri mengingat perkataan-nya tadi sore, Rasanya dia ingin memutar waktu untuk tidak mengucapkan kata seperti itu pada Rifal yang membuat dirinya malu sendiri.


"Dasar bodoh!" menolognya pada dirinya sembari tersenyum kecut.


Valen berjalan meninggalkan meja makan, dengan nasi goreng yang belum dia sentuh sama sekali didalam plastik tersebut.


Dia tadi lapar, namun memikirkan Rifal membuat rasa laparnya hilang begitu saja.


Valen mematikan lampu kamarnya untuk segera tidur, dia berusaha menyingkirkan Rifal dalam otaknya namun wajah pria itu selalu saja terngiang-ngiang dalam ingatan Valen.


Setelah hampir satu jam bergelut dengan pikirannya, akhirnya Valen tertidur dengan pulas. Memikirkan Rifal tadi membuatnya tertidur lelap.


***


Rifal membuka matanya secara perlahan-lahan, dia melihat Adelia sedang tertidur lelap dengan dirinya duduk dikursi dekat bansal milik Adelia, sehingga Adelia tertidur memegang tangan Rifal.


Dengan hati-hati, Rifal melepaskan tangan Adelia agar gadis itu tidak terbangun karna tindakan yang dia lakukan.


Rifal melirik jam dipergelangan tangannya, sudah pukul 2 dini hari, pikirannya langsung terarah pada Valen membuatnya beranjak dari kursinya untuk segera pulang.


Rifal menelfon salah satu perawat untuk menjaga Adelia, karna dia ingin pulang. Entah mengapa dia langsung teringat dengan Valen. Apa mungkin karna perilaku Valen tadi membuatnya kepikiran?


Rifal berjalan cepat dikoridor rumah sakit, sampai di parkiran dia langsung melajukan mobilnya Keluar dari parkiran rumah sakit.


Kota Jakarta yang sunyi karna sudah pukul 2 dini hari, biasanya Rifal selalu ketiduran namun kali ini ada rasa khawatir menjelajah dirinnya.


Tidak butuh waktu lama, pria itu langsung memasukkan mobilnya kedalam pekarangan rumahannya. Tidak butuh waktu lama mengemudi karna jalan begitu sunyi tadi.


Rifal sempat terdiam saat membuka pintu utama tidak terkunci. Apa Valen tidak memikirkan keselamatannya jika dia tidak mengunci pintu?

__ADS_1


Rifal langsung masuk kedalam rumahnya setelah dia mengunci pintu utama yang tidak dikunci oleh Valen.


Manik mata Rifal menangkap kantong kresek diatas meja makan yang tidak asing bagi matanya.


Dia menghampiri kantong kresek diatas meja tersebut. Rahangnya mengeras saat mengingat bahwa kantong kresek tersebut sempat dia lihat dikoridor rumah sakit dibawa oleh Nathan.


Pria itu membuka isi dari kantong kresek tersebut. Dia membuka isi dalam kotak berwarna putih itu.


"Nasi goreng." menolog Rifal melihat nasi goreng tersebut yang belum disentuh sama sekali.


"Jadi, yang dibawa Nathan tadi untuk Valen," menolog Rifal lagi membuatnya menyimpan nasi goreng tersebut.


Rifal melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Dia melewati kamar Valen membuat dia memberhentikan langkah kakinya. Dia berjalan kedepan pintu kamar Valen.


Dia membuka handel pintu kamar Valen yang tidak dikunci. Rifal menggelengkan kepalanya, Valen begitu berani tidak mengunci pintu utama dan juga pintu kamarnya malam-malam begini. Bagaimana jika ada seseorang yang masuk dan hanya dirinya saja di rumah ini.


Didalam kamar Valen sangat gelap, hanya ada lampu tidur yang tidak begitu terang. Meski gelap, Rifal masih bisa melihat wajah Valen


sedang tertidur nyenyak.


Rifal menyungkirkan senyum tipisnya, melihat Valen tertidur membuat gejolak dalam dirinya tadi langsung redah saat mengetahui semalam Nathan datang kesini padahal dirinya tidak ada.


"Lo cantik," menolog Rifal melihat wajah Valen, "nggak ada alasan lain pria suka sama lo terutama Nathan." Mengucapakan nama Nathan membuat Rifal ingin menghajar adik Frezan itu.


Valen sempat menggeliat membuat Nathan tanpa sadar memeluk Valen. Rifal ikutan berbaring didekat Valen.


Rifal menutup matanya hingga hitungan ketiga dia membuka matanya. Dia lupa mandi sebelum tidur apa lagi dia dari rumah sakit.


Meski dalam keadaan ngantuk, pria itu tetap bangun dan berjalan kearah kamar mandi untuk mandi.


Sekitar tiga puluh menit dia mandi, Rifal keluar hanya menggunakan handuk lalu kembali berbaring didekat Valen.


Dia membawa Valen kedalam dekapannya, dia kembali merasakan pelukan meski dia yang memeluk Valen.


Rifal menyungkirkan senyum tipisnya.


Cup


Satu kecupan mendarat di kening milik Valen. Rifal memeluk Valen seakan-akan tidak ingin melepaskan sosok gadis yang dia peluk.


Rifal ikutan tertidur dalam keadaan memeluk Valen, tentunya Valen merasakan kenyamanan dari pelukan Rifal.

__ADS_1


Valen membuka matanya sedikit sipit, dia merasa jika dia sedang bermimpi dipeluk dan dicium oleh Rifal Sehingga dia kembali memejamkan matanya karna rasa kantuknya.


"Andai ini bukan mimpi."


***


Pagi-pagi begini, Rara sedang menunggu seseorang dibandara. Rara ingin mengajak Valen untuk menjemput seseorang namun nomor Valen tidak aktif membuat Rara berpikir jika Valen sedang sibuk, apa lagi dia sedang hamil.


Rara hanya membawa Tegar, sementara Hasya dia tinggalkan dirumah bersama dengan Farel dan juga baby sister untuk Hasya.


Ada ras bahagia dalam diri Rara, yang akan bertemu dengan seseorang yang sangat dia rindukan selama ini.


"Tegar sayang. Kamu duduk disini yah," kata Rara kepada Tegar agar anaknya itu tidak kesana kemari.


Frezan sempat melarang Rara untuk membawa Tegar karena takut jika Rara kelelahan dengan apa yang dilakukan oleh Tegar.


Namun Rara membantah perkataan Frezan, dia mengatakan jika dia tidak membawa Tegar dia akan kesepian dibandara menunggu karna tidak ada Valen.


Sudah pukul sembilan, namun Rara belum juga mendapatkan kabar dari seseorang yang dia tunggu. Jika Frezan tau Rara menunggu begitu lama Frezan akan datang kebandara menjemput anak dan juga istrinya.


Drt....


Rara langsung melirik handponenya, baru-baru saja dia memikirkan Frezan pria itu sudah memanggilnya dengan Video cal.


"Gawat!"


Rara ingin menggeser tombol hijau, namun dia takut melihat wajah sangar sang suami.


"Tarik nafas dalam-dalam, Ra," intruksinya pada dirinya sendiri.


Rara langsung mengangkat video call dari Frezan.


"Halo sayang," sapa Rara dengan Cengengesan membuat Frezan menatap istrinya itu dari layar handphone.


"Udah ada?" tanya Frezan membuat Rara mengangguk sekaligus menggelengkan kepalanya membuat Frezan menyeritkan alisnya.


Rara langsung melototkan matanya." Maksud Rara, nggak lama lagi kok," ucap gadis itu membuat Frezan menatapnya dengan tatapan sangar.


"Balik!" perintah Frezan.


"Nggak mau!"

__ADS_1


__ADS_2