Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Nasi kuning begadang


__ADS_3

Bali


Pukul sepuluh malam, Rifal belum juga bangun. Pria itu masih terbaring lemas diatas bansal rumah sakit.


Sedari tadi Rina menangis, menunggu anaknya itu bangun. Sementara Aska sedang menerima Telfon dari Aryo di balkon kamar tempat Rifal di rawat.


‘’Gimana, Yo? Menantuku sudah ketemu?''


Aryo bicara di seberang Telfon, dia sedang bicara dengan rekannya Aryo, yang masih berada di lokasi kejadian.


Jawaban dari Aryo membuat Aska menarik nafasnya dalam-dalam.


Aska memutuskan Telfonya, lalu berjalan menghampiri Rina yang mencium kening anaknya yang masih memejamkan matanya.


‘’Gimana, apa Valen sudah ketemu?'' Tanya Rina dengan penuh harap kepada suaminya itu.


Aska menggeleng lemah, membuat Rina semakin terisak. Menantunya belum ketemu, padahal dari kemarin magrib menantunya itu hilang.


Apa lagi kondisi Valen sedang mengandung, ditambah lagi Rifal belum juga bangun.


''Kita sama-sama mendoakan, Valen. Semogah saja besok ada kabar baik. Semogah saja anak dalam kandungannya baik-baik saja.''


Dengan lemah Aska menggandeng Rina menuju sofa, belum ada yang mengetahui berita ini di Jakarta. Keculi Novi dan juga Lea yang mengetahui kabar Rifal, dan juga Nando.


''Bagaiamana jika Valen tidak ketemu?'' Rina semakin terisak membuat Aska mengusap punggung istrinya itu.


''Kita sama-sama mendoakan Valen dan anaknya dengan baik, selebihnya kita serahkan sama yang diatas.'' Bijak Aska membuat Rina semakin tidak tenang.


Rina semakin terisak, mengingat momennya bersama Valen di Mall membeli pelengkapan bayi mereka.


Dimana, dirinya yang paling semangat belanja perlengkapan untuk calon cucunya.


Rina sudah tidak menangis, membuat Aska mengembuskan nafas berat. Dia peka, jika istrinya kembali pingsan karna sudah tidak terdengar Isakan tangis Rina.


Aska membaringkan Rina diatas sofa yang panjang, lalu mengambil minyak kayu putih untuk mendekatkanya di hidung Rina.


Beberapa menit pingsan, akhirnya Rina bangun dengan kepalanya bergerak. Aska memakaikan Rina selimut. Dia tau, jika istrinya itu sudah bangun dari pingsanya. Hanya saja mata Rina sangat berat untuk terbuka.


Dengan berjalan gontai, Aska melangkahkan kakinya menuju bansal Rifal. Air matanya jatuh. Dia tidak tau, bagaimana kondisi Rifal jika nanti sadar dan istrinya belum di temukan juga.


Padahal, mereka baru saja bahagia di tambah kehadiran calon anak mereka. Namun Tuhan, memberikan ujian kepada pernikahannya.


Pukul 12 malam, Nando baru sampai di Bali.


Dia langsung menuju pantai tempat kejadian, dan melihat pangai begitu ramai dengan keberadaan polisi dan juga tim basarnas, untuk mencari Valen.

__ADS_1


Tim basarnas terbaik sudah turun tangan mencari Valen, itu semua sudah di bayar oleh Aska untuk mencari menantunya hingga ketemu.


Nando menitihkan air matanya melihat lautan di depanya, senter di tengah laut membuat Nando berpikir, jika tim basarnas dan polisi masih mencari Valen hingga detik ini.


Nando sudah mendapatkan kabar jika Rifal sudah di temukan dalam keadaan selamat, dan di larikan ke rumah sakit. Hanya saja, kondisinya sangat lemah.


Nando tidak bisa membayangkan wajah Rifal saat sadar, istrinya tidak ada. Nando berharap, Valen di temukan dalam keadaan selamat hingga Rifal bangun.


Wajah Nando saat ini sangat lesuh, bagaimana tidak, dia mengendarai mobil dari Jakarta yang memakan banyak waktu di perjalanan.


Nando memutar tubuhnya untuk menuju mobil, dia akan menuju rumah sakit tempat Rifal sedang di rawat.


Beberapa menit mengendarai mobil, akhirnya mobil yang Nando sudah sampai didepan rumah sakit tempat Rifal di rawat.


Dia langsung masuk kedalam rumah sakit untuk menuju ruangan Rifal.


Ceklek


Ruangan Rifal di buka oleh Nando dengan keadaan lesuh. Aska yang sedang memejamkan matanya membuka mata karna mendengar seseorang membuka pintu.


Dengan langkah gontai, Nando menghampiri Rifal yang masih tidur.


‘’Cepat bangun, Fal. Saya harap, saat kamu bangun, kamu bisa menerima ini semua dengan lapang dada.'' Nando mengusap air matanya kasar melihat bosnya tengah berbaring lemas.


Aska yang melihat kedatangan Nando bernafas legah, bagaimana tidak jika pria itu nekad berangkat hari itu juga, padahal perjalan yang dia tempuh tidaklah dekat.


Nando melangkahkan kakinya menuju Aska.


''Bagaiamana dengan, Valen?'' Tanya Nando duduk di sebelah Aska.


Matanya melirik Rina yang tengah tertidur diatas sofa, wajahnya sangat letih.


''Sampai sekarang, Valen belum di temukan,'' jawab Aska dengan lirih.


''Ganti baju dulu.'' Aska menyerahkan paper bag kepada Nando.


Tadi dia keluar untuk membeli makanan, dan singgah di salah satu tokoh baju untuk membelanjakan Nando baju. Karna dia tau, pria itu tidak mempunyai persiapan saat ke Bali.


‘’Makasih, om.''


''Jangan panggil saya, om. Panggil Daddy saja, sama seperti Rifal memanggil saya.''


Nando mengangguk kakuh lalu pamit untuk masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karna sangat lepek.


Rasanya Aska tidak ingin waktu berlalu degan cepat, karna dia tidak ingin melihat wajah sedih milik Rina esok pagi.

__ADS_1


Nando keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih baik, tapi wajahnya sangat letih.


''Apa kamu sudah makan?'' Tanya Aska.


‘’Belum,'' jawab Nando. Dari saat mendengar kabar Rifal dan Valen. Nando sudah tidak nafsu makan lagi.


‘’Makanlah dulu,'' perintah Aska.


Nando mengangguk, namun dia tidak beranjak dari sofa yang dia duduki bersama dengan Aska.


Ting


Ponsel Nando bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Nama yang terterah mengirim pesan bernama Lea.


''Kak Nando, gimana kondisi om Rifal?''


''Apa dokter Valen udah ketemu?''


Tak lupa pula, Lea memberikan emotikon menangis di setiap pesan yang di kirim


Sudah mau jam 1, namun Lea tetap mengirimkan pesan kepada Nando.


''Rifal belum sadar, kondisinya sangat lemah.''


''Sampai sekarang, dokter Valen belum ketemu.''


‘’Tidurlah, sudah tengah malam, Lea.''


Lepas membalas pesan, Lea. Nando meletakkan ponselnya diatas meja. Dia sangat letih, dan membutuhkan waktu untuk istirahat.


‘’Istirahat dulu, Daddy kebawa dulu beli coffe.'' Aska beranjak dari sofa yang dia duduki.


''Om…maksud saya, Dad. Biar saja yang turun beli coffe, kebetulan saya juga ingin makan.''


‘’Baiklah.''


''Apa kamu tidak membawa ponsel mu?'' Tanya Aska dan dibalas gelengan kepala oleh Nando.


Dia tidak ingin di ganggu dengan notif siapapun, meskipun itu dari notif Lea.


Nando keluar dari kamar Rifal, lalu masuk kedalam lift. Tengah malam begini, dia akan mencari tempat makan. Meski dia tau, jam begini hanya ada warung makan sederhana yang buka.


Nando keluar dari lift, lalu berjalan menuju pintu utama rumah sakit. Dia menyeberang jalan, saat melihat warung kecil masih buka di sebelah.


''Masih ada nasi dan lauk?'' Tanya Nando setelah sampai di warung tersebut.

__ADS_1


''Yang ada sisa nasi kuning,'' jawab yang punya warung. Hanya tersedia nasi kuning jika sudah tengah malam begini, namanya nasi kuning begadang.


__ADS_2