Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Kebahagiaan


__ADS_3

Nando memilih berjalan keluar saja, agar tidak melihat keromantisan Rifal dan Valen yang tercipta. Setelah satu tahun lamanya mereka terpisah dan baru di pertemukan saat ini.


Di ruangan tengah Villa, Nando melihat kakek Halan dan nenek Daro yang sudah memperkenalkan dirinya kepada Nando tadi, sebelum Rifal pingsan.


Saat Nando sampai di Villa, dia sudah melihat Rifal pingsan dan Valen sibuk menyadarkan Rifal. Tidak mungkin, kan, jika Valen mengangkat tubuh Rifal yang pingsan.


Bahkan Nando terkejut dan nyaris pingsan saat melihat dengan jelas wajah Valen, dia pikir hanya halusinasinya saja.


Sampai Nando di buat kaget oleh suara khas Valen, membuat Nando tersadar jika dia tidak mimpi bertemu dengan Valen.


Nando ikut bergabung dengan mereka. ''Ini ada sedikit uang.'' Nando menyerahkan amplop berwarna coklat diatas meja untuk kakek Halan dan nenek Daro.


''Nominalnya dua puluh juta.''


Pasangan tua itu melirik satu sama lain, saat Nando mengatakan jumlahnya.


''Tidak usah!'' Kakek Halan menggeser amplop coklat itu diatas meja, menjauh sedikit darinya.


''Kakek dan istri kakek ikhlas nolongin istri teman kamu,'' lanjut Halan.


''Kami hanya ingin bertemu Kianna, sebelum kalian pulang ke Jakarta.''


Daro menahan air matanya agar tidak mendobrak untuk segera keluar.


Kakek Halan dan nenek Dari sudah menceritakan semua kejadian bagaiamana ia menemukan Valen, dia menceritakan kepada Nando saat Rifal pingsan.


Dia menemukan Valen saat di tengah laut saat ia dan suami mencari ikan. Untung saja pelampung yang di kenakan Valen sangat kuat sehingga pelampung itu membuat nyawanya selamat.


Hanya saaj saat itu, dia melihat luka di kepala Valen karna benturan batu karang dan itu pula membuat Valen melupakan separuh ingatannya.


Dia tidak mengenal namanya sendiri, tapi dia mengatakan jika dia sudah menikah dan mempunyai suami namun dia lupa nama suaminya tersebut.


Untung saja Halan dan Daro menyelamatkan Valen saat itu. Dan membuat mereka semakin terkejut saat mengangkat Valen keatas perahu perut wanita itu sedikit besar.


Daro yang sudah berpengalaman langsung memegang perut Valen saat itu, dan terkejut saat mengetahui jika wanita yang ia tolong tengah hamil.


Untung saja dia menolang Valen tepat waktu, hanya saja kandungnya saat itu melemah.


Hingga satu tahun kemudian Valen tak kunjung mengenal dirinya dan tidak tau siapa suaminya.


Daro dan Halan menceritakan kepada Nando jika anak yang kecil mereka bawa itu adalah anak Valen.


Kemarin, Valen keluar membeli kebutuhan Kianna membuat wanita itu mengalami kecelkaan kecil, di sambar pengendara motor sehingga terdapat luka ringan di jidatnya.

__ADS_1


Dan saat itu juga Valen mengingat siapa dirinya, dan Halan langsung mengantar Valen saat Valen menceritakan karakter suaminya itu.


Dan benar saja, dia menemukan karakter yang di ceritakan Valen di Villa ini.


''Kakek sama nenek boleh bertemu dengan Kianna,'' ucap Nando. ''Kemungkinan kami akan kw Jakarta besok.''


Daro dan Halan mengangguk tanda setuju. Lalu Nando mengantar dimana Kianna sedang tertidur berada di kamar tengah.


Nando menunggu mereka didalam menggendong Kianna, Nando takut jika pasangan tua itu berubah pikiran mengambil Kianna yang memggemaskan.


Bahkan, Nando sempat berpikir jika anak bule itu bukan anak Rifal. Bagaimana tidak, jika Rifal tidak mempunyai keturunan seperti itu, namun dia langsung mengingat jika Valen adalah blasteran indo-Italia.


***


Rifal melepaskan ciumannya, menatap wajah Valen dengan jarak yang sangat dekat membuatnya seperti mimpi saja.


Wajah Rifal berubah, dia baru peka jika di samping jidat Valen terdapat luka yang di tutupi kain kasah.


''Ini kenapa?'' tunjuk Asrifal membuat Valen langsung melihat jari Rifal menunjuk sesuatu.


Rifal tertawa kecil membuat wanita itu semakin cantik. ‘’Seharusnya kamu ucapin Terimakasih sama luka ini,'' ucap Valen membuat kening Rifal tertaut. ''Karna luka ini aku jadi ingat kamu, karna luka ini ingatan aku kembali.''


Rifal langsung memeluk Valen kembali, sekarang dia tau jika selama ini Valen kehilangan ingatannya dengan kejadian yang menimpah dirinya di pantai.


''Husttt!'' Rifal langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Valen, mencegah wanita itu untuk meneruskan perkataanya.


''Jelasinya setelah kita pulang ke Jakarta,'' ucap Rifal dengan lembut. ''Aku mau hari ini kita menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan.''


Valen hanya tersenyum mengangguk.


''Kita pulang ke Jakarta besok,'' lanjut Rifal. ''Aku udah nggak mau injak Bali lagi setelah kita pulang dari sini.''


''Kenapa kita ngggak mau kesini lagi?''


''Gara-gara keinginan kamu untuk ke Bali, aku harus gila seperti ini. Pokoknya kamu harus mendengarkan apa yang aku bilang. Jangan pernah membantah, Len. Aku nggak mau ngulangin kesalahan yang sama karna terlalu—''


Kini giliran Valen yang menyimpan jari telunjuknya di bibir Rifal, sehingga pria itu tidak meneruskan perkataanya.


''Iya-iya,'' ucapnya. ''Aku bakalan nurutin apa yang kamu bilang, larangan kamu demi kebaikan aku.''


Rifal mengangguk, lalu netra matanya langsung melihat perut Valen. Dia tersenyum nanar melihat perut Valen yang tidak buncit seperti yang satu tahun yang lalu dia lihat.


''Len,'' panggil Rifal tanpa melihat wajah Valen.

__ADS_1


Valen melihat arah mata Rifal melihat ke perutnya, Valen tersenyum melihat arah pandang Rifal.


''Anak kita ng—''


''Kianna.'' Valen langsung memotong perktaan Rifal membuat Rifal langsung mendongakkan kepalanya.


Nama Kianna tidak asing bagi indra telinganya.


''Anak yang kamu gendong di rumah kakek Halan sama nenek Daro. Dia anak kita, Kianna.''


Deg


Rifal menggelengkan kepalanya. ''Len, kamu serius? Anak menggemaskan itu anak kita?''


Valen mengangguk membenarkan ucapan Rifal. ''Kamu nggak lihat wajah Kianna mirip dengan aku,'' ujarnya membuat Rifal terkekeh.


''Kalau Lea tau dia bakalan ngamuk,'' tawa Rifal.


''Astagah, aku sampai lupa. Gadis itu udah kasi inisial baby R untuk anak kita,'' gumam Valen.


''Tapi, kan, ingatan aku hilang, jadi aku nggak salah dong,'' ucap Valen lagi.


''Iya sayang,'' ucap Rifal.


''Len, aku merindukan mu,'' ucap Rifal dengan suara berat.


Valen terkekeh dengan ucapan Rifal barusan.


''Aku juga merindukan dirimu ini,'' ucapnya lagi.


Rifal langsung meggendong Valen ala bridal style.


''Kamu mau bawa aku kemana, Fal?'' tanya Valen mengalungkan tanganya di leher milik Rifal seraya celingukan.


Siapa tau ada orang di sini dan melihat dirinya di gendong oleh Rifal, dia akan sangat malu.


''Tentu saja ke kamar,'' jawab Rifal santai.


Rifal berjalan menuju kamar yang satu tahun lalu dia tempati bersama Valen sebelum wanitanya itu hilang.


‘’Kamu nggak punya rencanakan?''


''Maksud kamu punya rencana punya anak?'' tanya Rifal menaik nurunkan alisnya membuat Valen menjadi malu.

__ADS_1


Valen menyembunyikan wajahnya di dadah bidang milik Rifal, lalu Rifal mendorong pintu menggunakan kakinya.


__ADS_2