Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Satu bulan kemudian


__ADS_3

1 Bulan kemudian


Sudah satu bulan lamanya Daniel belum juga sadar dari tidurnya, membuat anaknya selalu saja menangis menunggu dirinya bangun.


“Kakak cantik kenapa papah belum bangun?”


Pertanyaan Agrif selalu saja tentang mengapa papahnya belum bangun. Sudah satu bulan lamanya Daniel menutup matanya namun pria itu tak kunjung bangun.


Seringkali Agrif menangis karna Daniel tak kunjung bangun membuatnya malas ke sekolah karna ingin menunggu Daniel bangun,


Seperti sekarang ini, Agrif sedang memeluk Daniel dengan erat, seakan-akan tidak ingin melepaskan Daniel.


“Bangun pah. Hiks….Hiks!”


Suara tangisan Agrif yang keras membuat Lea yang berada di kamar mandi langsung keluar.


“Agrif,” kaget Lea saat melihat anak itu mengguncang tubuh Daniel.


“Apa yang kamu lakukan?” Lea langsung membawa Agrif menjauh dari Daniel, karna bisa saja alat yang terpasang di tubuh Daniel terlepas akibat Agrif.


“Apa yang kamu lakukan bisa bahayain nyawa papah kamu,” peringat Lea kepada Agrif.


“Hiks….Hiks!”


Anak itu semakin kencang menangis membuat Lea menarik nafasnya panjang, sudah satu bulan Daniel tidak sadarkan diri membuat Lea harus ekstra sabar menjaga Agrif yang selalu saja menangis.


Sudah satu bulan ini Lea mengikut kuliah online, karna harus menjaga Daniel. Untung saja pihak kampus mau jika sementara waktu Lea kuliah online.


Lea memperbaiki anak rambut Agrif, anak itu sangat tampan sama seperti Daniel.


“Jangan kayak gitu lagi yah, kasih papah kamu tersiksa,” nasehat Lea dengan lembut kepada Agrif.


“Siapa suruh papah nggak bangun, papah denger Agrif nangis tapi dia nggak bangun,” tangis anak itu.


“Papah kamu lagi berusaha bangun, dia sedang berusaha agar dia cepat bangun dan lihat kamu,” kata Lea membuat Agrif langsung memeluk Lea.


“Agrif kangen sama papah,” kata anak itu dengan isakan tangisnya.


“Kita bantu berdoa untuk kesembuhan papah kamu, supaya cepat sadar.”

__ADS_1


Lea dan Agrif berpelukan dengan erat, Lea juga tidak tau, apakah dengan kondisi Daniel masih bisa sembuh atau tidak.


***


Sedari tadi dokter Valen ingin menyuap Adelia dengan makanan, namun gadis itu tidak mau makan.


“Ayok Adel, kamu makan yah,” pintar dokter Kiki.


Namun di balas gelengan kepala oleh Adelia.


“Aku udah nggak nafsu makan,” kata Adelia membuat dokter Valen meletakkan mangkok berisi makanan diatas meja.


Sekarang rambut Adelia sudah tidak ada sama sekali. Sekarang kepala gadis itu tidak mempunyai rambut sehelaipun.


Yah, gadis itu botak. Rambutnya semua rontok akibat penyakit yang di deritanya.


“Aku akan pergi,” kata Adelia sembari tersenyum tipis.


Dokter Kiki tidak membantah, dia tidak ingin memberikan harapan kepada Adelia jika dia akan sembuh dengan kondisinya seperti ini.


“Aku bakalan ninggalin semua orang, terutama orang yang aku sayang,” kata Adelia tanpa mengalihkan pandanganya dari depan.


“Semogah orang yang aku sayang bahagia sama pilihanya,” kata Adelia lagi.


“Aku cuman punya kak Amora, tapi dia udah di penjara karna udah buat celaka kak Rifal,” kata Adelia lagi.


Sementara dokter Kiki hanya fokus mendengarkan apa yang di katakan oleh Adelia, mendengar cerita perempuan itu.


Adelia melirik dokter Kiki dengan senyuman. “Makasih dokter Kiki mau temani aku buat ketemu sama kak Rifal,” kata Adelia dengan tulus.


Dokter Kiki menganggukkan kepalanya. “Sama-sama.”


“Kalau aku udah nggak ada, aku mau mata aku di donorin buat kak Rifal. Biar aku selalu bersamanya walaupun aku udah nggak ada di sini.”


***


Sudah satu bulan pula Rifal tidak melihat, pria itu sudah terbiasa dengan kegelapan akhir-akhir ini, dia selalu menunggu kabar dari Valen apakah sudah ada pendonor mata untuk dirinya atau belum ada.


Rifal juga sudah terbiasa dengan kehadiran Valen di dekatnya selama dia buta, perempuan itu selalu gercep mengerjakan sesuatu yang tidak bisa di lakukan oleh Rifal.

__ADS_1


Sekarang ini Rifal tengah berada di meja makan, menunggu kedatangan Valen membawa makanan.


“Gimana, Va?” Tanya Rifal kepada Valen. Dia mendengar Valen menggeser kursi di sampingnya.


“Belum ada yang cocok,” sedih Valen menbuat Rifal menarik nafasnya panjang.


“Apa aku bakalan kayak gini selamanya?” Keluh Rifal lalu Valen memegang tangan Rifal.


“Kamu nggak boleh ngomong gitu, aku yakin hari baik akan tiba, dan kamu bakalan melihat kembali,” Valen berusaha menyakinkan Rifal.


“Aku sangat penasaran melihat perut kamu Len, perut kamu pasti udah besar,” kata Rifal sembari tersenyum.


“Udah besar, waktu berjalan begitu cepat,” kata Valen membuat Rifal menganguk setuju.


“Aku ingat Lea, dia yang ngotot kasi nama untuk anak aku, padahal aku dady.Nya,” kesal Rifal mengingat jika tetangganya itu langsung memberikan inisial nama untuk anaknya yang belum seberapa itu.


Baby R.


Inisial nama itu yang di berikan oleh Lea, Rifal tidak tau sekeren apa nama anaknya yang di berikan oleh Lea dengan baby R.


Valen terkekeh. “Tapi kamu setujukan kalau inisial bayi kita baby R,” kata Valen sembari mengusap perutnya yang sudah membesar.


“Aku bakalan setuju, kalau namanya sekeren nama aku atau nama kamu,” kata Rifal membuat Valen kembali terkekeh.


“Dan Aku yakin, jika anaknya perempuan dia akan secantik kamu, dan jika anaknya laki-laki dia akan setampan aku. Kita berdua kan bibik unggul, sudah tidak di ragukan lagu kualitasnya. Apa lagi kamu keturunan Italia,” kata Rifal dengan bangga membuat Valen hanya tertawa saja.


Mereka berdua memang belum mengecek ke dokter kandungan apakah anaknya perempuan atau laki-laki, karna Valen tidak ingin mengetahuinya sebelum anaknya lahir


Valen ingin menjadi suprise tersendiri, saat anaknya lahir apakah perempuan atau sebaliknya.


“Len, jika seandainya aku bakalan seperti ini seterusnya, aku harap kamu selalu setia di dekat aku,” pinta Rifal dengan serius membuat Valen menghentikan tawanya.


“Aku nggak bakalan ninggalin kamu, Fal. Aku udah bahagia sama kamu, dan tidak lama lagi kita akan mempunyai anak dan menjadi orang tua. Aku yakin kamu bakalan melihat lagi kayak dulu.”


Valen langsung memeluk Rifal, “kita makan yah,” lanjutnya dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.


Seperti biasa, Valen akan menuntun Rifal untuk makan dan minum.


“Kamu makan yang banyak,” kata Valen.

__ADS_1


“Awas aja yah Va, kalau aku udah melihat dan badan kamu kurus, siap-siap aja kamu bakalan terima hukuman dari aku,” ancam Rifal untuk Valen.


Valen mengerucutkan bibirnya,” aku udah gemuk Fal, selama aku hamil badan aku naik, dan aku juga jago makan.”


__ADS_2