
Sudah satu bulan pula Farel tidak berkunjung kerumah Frezan, karna anak itu sedang fokus dengan bola basket nya dan tak lupa pula dia belajar, Frezan sering kali mengancamnya mengutamakan pelajarannya dari pada olahraga basket.
Namun Farel tetap Farel, anak itu selalu mengiyakan perkataan Frezan namun belum tentu dia menjalankannya.
Seperti sekarang ini. Farel sedang bermain basket seorang diri, anak itu bebas jika Nathan berangkat kerumah sakit.
Farel duduk di bawah lantai kasar lapangan basket, ingatannya tiba-tiba mengarah pada sosok anak kecil yang selalu dia jahili.
Dyta.
Yah. Siapa lagi kalau bukan Dyta yang selalu dia jahili dengan mengejeknya dengan curiting. Farel sangat suka memegang rambut Dyta.
Dia satu sekolah dengan Dyta, namun sebulan ini anak itu banyak menyendiri. Bahkan dia tidak ingin berteman dengan siapapun.
Dia pernah melihat Dyta, namun dia tidak menghampiri. Saat itu Tegar memaksa Dyta untuk bermain bersama namun Dyta menolak karna ingin bermain sendiri.
Semenjak Elga di tahan tanpa dia ketahuan, anak itu banyak menyendiri, tidak ingin bermain sama siapapun kecuali sosok anak cowok yang menurut Farel lumayan tampan.
Saat itu juga, Farel melihat Dyta diajak main oleh sosok anak yang tidak Farel ketahui namanya, anak itu membujuk Dyta. Entah perkataan apa yang dikatakan anak itu sehingga Dyta mau bermain basket.
Hingga saat itu, Farel selalu memperhatikan anak itu di dalam kelas. Dia tau, jika anak itu teman kelasnya. Hanya saja, Farel baru mengetahuinya karna dia tidak suka mengenal nama teman kelasnya yang tidak terlalu penting.
“Agrif.”
“Hadir bu.”
Farel manggut-manggut saat ibu guru menyebut nama Agrif, dan anak yang berhasil membujuk Dyta itu angkat tangan.
“Jadi namanya Agrif,” menolog Farel dalam kelas.
Mengingat waktu itu membuat Farel tersenyum, dia masih sd namun jiwa dalam dirinya seperti orang dewasa saja.
“Aku besok harus ajak Dyta main, enak aja sih Agrif itu mau rebut mainan gue!” kesal Farel lalu beranjak dari tempat duduknya mengambil bola basket nya lalu memasukknya kedalam ring, lepas itu dia langsung pergi meninggalkan bolanya menggelinding.
Farel masuk kedalam apartemen. Di tuntun oleh satpam. Farel bisa saja sendiri, namun satpam tersebut jika Farel membuat kesalahan.
Farel menekan pasword pintu apartemen Nathan, yang merupakan tangan lahirnya, Nathan sendiri yang memberikan pasword tanggal lahir Farel.
Farel menyalakan televisi. Beberapa menit kemudian suara bell berbunyi sehingga Farel langsung keluar.
Dia tau, jika yang datang adalah kurir membawakan makan siangnya, itu semua atas di buat Nathan.
__ADS_1
Farel langsung mengambil makanan tersebut lalu makan dengan lahap. Dia hanya seorang diri di apartemen karna Nathan sedang kerumah sakit.
***
Pulang sekolah, Agrif langsung kerumah sakit melihat kondisi sang papah.
Tanpa melepaskan baju sekolahnya, dia langsung menghampiri Daniel di bansal.
“Pah, udah lama papah nggak bangun. Apa papah nggak rindu sama Agrif,” kata anak itu sembari menggenggam tangan Daniel.
Agrif berjalan menuju sofa. Sembari mencari keberadaan Lea.
“Kakak cantik!” panggil Agrif sehingga Lea langsung berjalan menuju Agrif.
Dia sedang kuliah online di balkon ruangan Rifal sembari menikmati pemandangan di hadapnya.
“Kenapa sayang?” Tanya Lea mematikan kamera zoom nya.
“Papah kapan bangun?”
Pertanyaan itu lagi yang di lontarkan Agrif kepada Lea.
“Kakak juga nggak tau, tapi Semogah aja papah kamu cepat sadar,” kata Lea membuat Agrif langsung pergi membuat Lea ingin mengejarnya namun suara dosen dari ponselnya membuatnya terhenti.
***
Valen sedari tadi gelisah diatas balkon kamarnya, sudah satu bulan ini Dia belum di berikan kabar kepada dokter Hamka mengenai pendonor mata untuk Rifal.
Setiap kali Valen menelfon dokter Hamka, Dokte itu selalu mengatakan belum ada yang cocok untuk Rifal.
Sedari tadi Valen melihat ponselnya, dia menunggu Telfon dari dokter Hamka, Semogah aja ada kabar baik yang dia dapatkan dari dokter Hamka.
Drt….
Ponsel Valen berdering, dia langsung menekan tombol hijau saat melihat nama yang terterah di layar ponselnya yaitu dokter Hamka.
“Selamat sore dokter Valen,” sapa dokter Hamka di Balik Telfon.
“Sore juga dok, bagaiamana? Apakah sudah ada pendonor mata untuk suami saya?” Tanya Valen dengan tidak sabaran.
Sudah satu bulan dia menunggu, namun dia belum juga mendapatkan kabar baik dari dokter Hamka. Dokter paruh baya itu selalu mengatakan kepada Valen untuk sabar dan selalu berdoa.
__ADS_1
“Ada yang ingin mendonorkan matanya untuk suami dokter Valen. Tapi saya tidak tau, apakah mata untuk Rifal kali ini cocok atau tidak,” kata Dokter Hamka, sudah berapa kali Rifal dan Valen kerumah sakit karna mendapatkan pendonor mata, namun sayangnya selalu saja tidak cocok.
Namun Semogah kali ini cocok.
“Kita coba lagi dok, saya akan kesana bersama suami saya.” Kata Valen.
“Baik dok,” kata Valen.
Lepas itu, percakapan mereka langsung berakhir. Valen langsung menghampiri Rifal yang sedang menyandarkan tubunya disandaran kamar.
“Fal, kita kerumah sakit. Ada yang ingin donorin matanya untuk kamu, kita berdoa Semogah aja cocok,” kata Valen mengambil tasnya untuk segera menuju rumah sakit.
Rifal menghembuskan nafasnya berat.
“Kita sudah berulang kali kerumah sakit, Va. Tapi mata untuk aku selalu saja tidak cocok,” Rifal berbicara dengan lesuh. Membuat Valen langsung menggenggam tangan Rifal.
“Kita berdoa. Semogah aja kali ini cocok untuk Kamu,” kata Valen membuat Rifal menarik nafasnya panjang.
Valen telah mengganti baju untuk Rifal lalu memberikan parfum untuk pria itu.
Cup
Satu kecupan mendarat di pipih Rifal. “Suami siapa sih ini, ganteng banget,” kata Valen membuat Rifal juga tidak bisa menahan senyumnya.
Valen membawa mobil sendiri tidak memesan taxi online.
Valen menuntun Rifal menuruni anak tangga, Valen berdoa Semogah saja pendonor mata kali ini cocok untuk Rifal.
Valen langsung membantu Rifal masuk kedalam mobil. Lepas itu Valen langsung melajukan mobilnya untuk menuju rumah sakit.
“Sebulan ini aku nggak dengar kabar Elga, dia juga nggak jenguk aku,” heran Rifal. Karna sahabatnya itu tidak pernah datang.
Valen terdiam, dia belum memberitahukan kepada Rifal jika Elga di penjara selam tiga belas tahun lamanya, Valen berjanji kepada dirinya sendiri akan memberitahukan semuanya pada Rifal jika kondisi pria itu sudah normal.
“Kata Kayla Elga keluar negeri, di sangat sibuk mengurus perusahaan,” bohong Valen menbuat Rifal tertawa.
Valen langsung gelagapan, apakah Rifal tau jika dia berbohong?
“Ternyata anak keras itu sudah di berikan kepercayaan sama ayah Kevin untuk mengurus perusahaan.”
Valen langsung bernafas legah karna Rifal tidak curiga padanya dan mempercayai perkataanya.
__ADS_1