
Drt….
Handpone milik Frezan bergetar, menandakan adanya seseorang yang sedang menelfonya. Dia melihat nama yang terterah di layar ponselnya terterah nama Nathan, sang adik.
“Halo,” sapa Nathan di seberang Telfon.
“Yah,” jawab Frezan dengan singkat membuat Nathan di seberang Telfon tersenyum tipis. Mungkin saja mood Frezan selalu berubah-ubah, saudaranya itu biasa berbicara normal biasa juga berbicara seperti es batu.
“Farel mana, Za?” Tanya Nathan di seberang Telfon, Nathan menelfon sembari melihat kerah jenderal kamar.
Matahari sudah muncul pagi ini, membuat Nathan sangat senang memandanginya dari balik jendela kamar sembari menelfon Frezan.
“Farel sedang ke sekolah, memangnya kenapa?” Tanya Frezan.
Nathan hanya manggut-manggut, dia lupa jika Farel hari ini sekolah.
“Gue cuman mau bicara sama dia, gue rindu,” kata Nathan. “Udah semingguan gue tinggalin,” lanjutnya.
“Lo kapan balik?” Tanya Frezan sembari menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya, sementara ponselnya dia letakkan di atas meja.
Hari ini dia tidak ke kantor karna ingin menyelesaikan masalah, karna kemungkin besar besok Nathan sudah kembali ke Jakarta, dna tentunya saja Elga sebagai iparnya menanti kedatangan Nathan.
“Besok,” jawab Nathan.
“Lo ke luar kota ngurus apa?” Tanya Frezan.
“Gue kesini buat cari pendonor mata buat Rifal,” kata Nathan sembari menarik nafasnya panjang, “tapi, sudah satu minggu gue di sini, belum ada pendonor mata yang gue dapat buat Rifal.”
Yah, Nathan keluar kota guna untuk mencarikan pendonor mata untuk Rifal, namun sudah satu minggu dia keluar kota dia belum menemukan pendonor mata untuk Rifal.
Tidak ada dokter yang mengetahui kepergian Nathan keluar kota dengan tujuan apa. Mereka pikir Nathan keluar kota ada urusan pribadi.
Frezan yang mendengar penuturan Nathan di seberang Telfon menarik nafasnya panjang, sudah pasti bukan adiknya dalang di balik kecelakaan Rifal.
Namun Elga bersikukuh jika yang mencelakai Rifal adalah Nathan.
__ADS_1
“Gue mau tanya serius sama lo,” kata Frezan di seberang Telfon dengan serius membuat Nathan menyeritkan alisnya, pertanyaan apa yang ingin di lontarkan oleh Frezan.
“Tanya aja,” jawab Nathan.
“Bukan lo kan dalang di balik kecelakaan Rifal?”
Nathan langsung tertawa keras di seberang Telfon membuat Frezan hanya memasang wajah datar saja.
Frezan percaya jika bukan Nathan di balik semua ini, buat apa coba adiknya itu keluar kota mencari pendonor mata untuk Rifal jika dia yang melakukan ini semua.
Dia hanya memastikan saja pada Nathan.
“Gue masih normal, Za. Nggak mungkin gue lakuin hal bodoh seperti itu, sampai-sampai bahayain nyawa orang. Gue seorang dokter, kalau sampai gue yang lakuin semuanya citra dokter di rumah sakit tempat gue kerja bakalan rusak,” kata Nathan menbuat Frezan menghembuskan nafasnya legah.
“Lagian, kalau gue yang buat Rifal kecelakaan nggak bakalan gue jauh-jauh keluar kota buat cari pendonor mata buat Rifal,” kata Nathan lagi.
“Kalau orang-orang curigain gue yang nyelakain Rifal karna gue mau milikin Valen, itu semua nggak masuk akal, Za. Secinta-cintanya gue sama orang nggak bakalan gue lakuin hal bodoh sampai bahayain nyawa orang.” Nathan bercerita pada Frezan.
Dia kaget saja saat Frezan mengajukan pertanyaan seperti itu.
“Gue cinta dan sayang sama Valen, sehingga gue keluar kota buat nyariin Rifal pendonor mata, gue nggak mau orang yang gue sayang sedih karna orang yang dia cintai, cukup melihat senyumannya saja gue udah bahagia,” curhat Nathan di seberang Telfon membuat Frezan menyungkirkan senyumana tipisnya.
“Bisa-bisa gue yang urus dia, bukan dia yang urus gue,” kata Nathan sembari menggelengkan kepalanya mengingat tingkah Lea seperti anak kecil saja.
Memang sih anak itu belum terlalu dewasa apa lagi umurnya masih 19 tahun.
“Setidaknya ada yang nenemin lo di ranjang,” kata Frezan santai membuat Nathan tertawa renyah.
“Kalau cuman buat nemenin tidur, gue bisa bayar wanita malam,” kata Nathan santai membuat wajah Frezan menjadi dingin.
“Jangan macam-macam, Nath!” ancam Frezan di seberang Telfon dengan suaranya yang dingin membuat Nathan tertawa kembali.
“Gue cuman bercanda.”
“Lagian kalau gue mau cari istri, gue mau cari yang dewasa. Bisa masak, bisa urus gue sama Farel. Bisa menjadi mama buat Farel,” kata Nathan sembari tersenyum hangat di seberang.
__ADS_1
“Mau gue cariin?” Tanya Frezan dengan nad santai.
“Soal istri, gue bisa cari sendiri,” kata Nathan. “Gue mau cari istri yang seprofesi dengan gue,” lanjutnya membuat Frezan menarik nafasnya panjang.
“Lo bilang aku cari istri yang pintar memasak, bisa ngurusin lo sama Farel, dan bisa menjadi mamah untuk Farel. Terus ngapain lo cari istri yang seprofesi dengan lo? Sama aja dia bakalan sibuk kayak lo, nggak punya waktu buat urusin lo sama Farel!” decak Frezan membuat Nathan manggut-manggut.
“Gimana kalau mbak Rara yang jadi istri gue dan menjadi mama sambung untuk Farel, adik kita,” canda Nathan membuat bola mata Frezan seperti ingin keluar api.
“Nathan!”
“Gue cuman bercanda Za. Rara cuman masa lalu gue,” kata Nathan dengan santai namun tidak dengan Frezan.
“Lo sama Rara nggak punya hubungan!” Desis Frezan.
“Gue ngalah, tapi masa sih lo nggak tau kalau Rara dulu pas masa SMA naksir sama gue,” Nathan ingin sekali memancing saudaranya itu agar banyak bicara.
“Lo nggak tau, kalau Rara suka sama gue saat gue most dia.”
“Tapi sayangnya, dia malah jadian sama kutub es,” lanjutnya membuat Frezan menarik nafasnya panjang, dia tau adiknya itu hanya bercanda namun rasanya sangat perih saat mengingat masa SMA mereka.
“Jangan mancing, kalau lo kerumah gue. Nggak bakalan gue izinin lo masuk!” ancam Frezan kepada Nathan.
“Bagaimana kalau gue datang sama Farel? Masa lo nggak ngizinin adik lo masuk?”
“Apa lo nggak kasihan lihat Farel, dia sudah kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya,” dramatis Nathan.
“Gue izini Farel masuk, tapi gue nggak ngizini lo!”
“Lagian, umur lo udah tua, seharusnya lo udah cari istri. Bukan lagi kayak abg sibuk mencari perempuan untuk di pacari.
“Hahahah, gue bakalan cari perempuan yang terima gue apa adanya.”
“Terima apa adanya?” Menolog Frezan.
“Lo nggak bersyukur udah di kasi ketampanan sama Tuhan dan kekayaan? Itu bukan terima ada adanya, para perempuan bakalan antri jadi suami lo.”
__ADS_1
Nathan tersenyum kemenangan. “Terimaksih telah memuji gue tampan, ini pertama kalinya lo bilangin gue tampan.”
Frezan berdecih, dia langsung mematikan ponselnya membuat Nathan semakin tertawa keras.