Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Rendang


__ADS_3

Rara tengah menunggu kedatangan Frezan pulang kantor. Karna Frezan mengatakan kepada Rara jika dia akan pulang cepat.


Sehingga Rara membuat masakan untuk Frezan.


''Siska!'' panggil Rara dari arah dapur.


''Iya, Nyonya,'' balas Siska seraya berjalan menuju dapur.


''Kamu bawain susu Revan, ya,'' perintah Rara kepada Siska memberikan satu botol susu kepada Siska.


''Baik, Nyonya!'' Siska langsung pergi dari dapur meninggalkan Rara yang tengah memasak rendang.


Siska nampak ragu meninggalkan Rara sendiri di dapur untuk memasak rendang, karna majikannya itu baru belajar memasak rendang dari dia.


''Kamu nggak perlu bantu, Siska, karna masakan aku khusus untuk suami aku.''


Kata-kata itu yang di ucapkan Rara kepada Siska saat baby sister anaknya itu ingin membantu dirinya untuk memasak rendang.


Tok


Tok


Tok


Siska mengetuk pintu kamar Kayla membawa sebotol susu untuk Revan.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka, muncullah Kayla dengan menggendong Revan yang tengah tertidur.


''Nyonya Kayla, ini susu untuk Revan. Di buat nyonya Rara,'' cakap Siska memberikan botol susu itu kepada Kayla.


''Ok, Terimaksih, Sis,'' ucap Kayla seraya tersenyum hangat kepada Siska. ''Makasih juga lo udah bantuin gue jagain anak-anak gue.''


Siska tertawa kecil. ''Udah kewajiban saya, karna saya, kan, di gaji,'' ucap Siska membuat Kayla menggelengkan kepalanya.


Kayla kembali masuk kedalam kamar setelah Siska sudah berlalu pergi.


Rara membuatkan susu untuk Revan karna ASI Kayla mampet satu minggu yang lalu sehingga dia tidak menyusui Revan.


Setelah memasak rendang, Rara membuat sayur bayam untuk Kayla. Supaya ASI ibu anak tiga itu lancar, sehingga dia tidak perlu membuatkan susu untuk Revan.


''Siska!'' panggil Rara dengan suara cempreng nya.


''Iya nyonya!'' sahut Siska dari ruang tengah yang letaknya tidak jauh dari dapur tempat Rara memasak.


''Anak-anak Aman nggak!'' tanya Rara seraya memasukkan sayur bayam kedalam panci.


''Aman nyonya!'' teriak balik Siska membuat Rara terkekeh.


''Entar aku suruh suami aku buat nambahin gaji kamu kalau kamu kerjaannya jaga anak-anak bagus!''


''Kenapa nggak pake duit nyonya saja!''


Rara kembali terkekeh. ''Aku nggak punya duit, Sis!''

__ADS_1


Mereka berdua tertawa.


Siska melirik Dyta. ''Dyta kenapa murung?'' tanya Siska kepada anak kecil bernam Dyta nampak murung.


''Rindu sama papah, sama Agrif juga,'' jawab anak itu lesuh membuat Siska meringis mendengarkan anak itu.


''Papah kamu bakalan pulang kok dari luar negeri,'' ucap Siska berbohong seraya bermain bongkar bersama Hasya dan Dyra.


''Tapi lama,'' ucap Dyta lagi.


''Biar lama Dyta, asal pasti.'' Siska membalas perkataan anak itu yang menyendiri di ujung meja.


Tidak bergabung bersama Hasya dan juga Dyra. Sementara Tegar dia sedang bermain basket di lantai atas.


''Kalau Agrif pulangnya kapan ya?'' ucapnya dengan suara lucu membuat Siska menahan tawa.


Dia melihat Dyta seperti seorang kekasih yang tengah menunggu kedatangan sang pacar. Siska menggelengkan tak habis pikir.


''Emang kenapa kamu nungguin, Agrif?'' tanya Siska membuat anak itu mencabikkan bibirnya lucu.


Dia melihat gelang di pergelangan tanganya. ''Karna Dyta sayang sama Agrf,'' ucap anak itu membuat Siska mendongakkan kepalanya. ''Dyta sayang Agrif seperti Dyta sayang Tegar.''


Siska mengangguk seraya tersenyum, dia pikir anak itu menyayangi Agrif lebih dari kata teman.


Sudah pukul empat sore, Rara sudah menghidangkan makanan diatas meja makan di bantu oleh Siska.


Siska membantu Rara menghidangkan makanan diatas meja, karna anak-anak bermain tidak jauh dari tempat mereka.


''Udah siap,'' gumam Rara menyiapkan rendang yang dia buatkan untuk suaminya.


''Nggak,'' jawab Rara seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ''Aku nggak suka makan rendang.''


''Suami aku yang suka makan rendang, makanya aku buatin khusus dia,'' lanjut Rara dengan senyuman mengambang membuat Siska mengangguk.


''Kamu nggak mau coba rendang buatan aku?'' tanya Rara.


''Nggak nyonya, Siska nggak makan daging sapi, nanti tekanan Siska makin tinggi,'' tawanya membuat Rara juga tertawa.


''Itu Eza,'' gumam Rara dengan bahagia mendengar suara mobil Frezan memasuki halaman rumah.


Rara langsung meninggalkan meja makan, untuk menyambut kedatangan suaminya pulang kerja. Entah mengapa dia sangat bahagia karna berhasil membuat rendang, salah satu makanan kesukaan suaminya, meskipun dia belum tau bagaiamana rasa rendang tersebut karna dia tidak mencobanya.


Namun dia yakin, jika rendang nya akan enak karna Siska sudah menjelaskan kepadanya, bagaimana membuat rendang serta bahan-bahan apa saja yang dia butuhkan.


Ceklek...


Rara membuka pintu utama, dia sudah melihat suaminya dengan wajah tampan yang nampak letih.


Rara menyalami tangan suaminya, lalu mengambil tas Frezan.


''Aku buatin rendang buat kamu,'' ucap Rara berjalan beriringan dengan Frezan menuju meja makan.


Frezan melonggarkan dasinya. ''Sejak kapan kamu pintar masak rendang?'' tanya Frezan menaikkan alisnya sebelah.


''Sejak kemarin, di ajarin sama Siska,'' jawab Rara menyimpan tas kerja Frezan di kursi sofa.

__ADS_1


Rara menggeser kursi untuk Frezan segera duduk. Frezan tersenyum lebar melihat menu makanan diatas meja yang lumayan banyak.


Terutama menu rendang yang menggugah selerah. ''Ini yang masak rendang beneran kamu?'' tanya Frezan.


''Iya, aku,'' jawabnya seraya mengambil Frezan rendang kedalam piringnya.


Frezan mengacak rambut Rara. ''Istri aku udah pandai masak.''


Tring…


Tring….


Tring…


Bell Villa di tekan tiga kali sehingga menghasilkan bunyi yang menganggu tidur Rifal. Meski terdengar sedikit samar tetap saja suara itu menganggu ketenangannya untuk tidur.


Telinganya sangat sensitif mendengar sesuatu meski itu dari jarak jauh.


''Ahk! Nando! Ngerusak ketenangan gue tidur!'' decak Rifal seraya bangun dari tempat tidurnya.


Tring….


Bell di tekan sekali lagi membuat Rifal semakin mengumpat. Siapa lagi yang datang ke Villa ya dan memencet bell berulangkali kalau bukan Nando.


Huft


Rifal menarik nafasnya dalam lalu masuk kedalam kamar mandi untuk menjernihkan pikiranya yang tidurnya terganggu.


Byur…


Rifal langsung mengguyur wajahnya dengan air. Ia menatap wajahnya yang menyedihkan di mirror kamar mandi.


''Semenjak Valen pergi, gue seperti orang tidak terurus!'' keluh Rifal. Dia mengeringkan wajahnya dengan handuk bersih.


Lalu dia melirik jam di dinding pukul 4 sore, Rifal yakin jika yang datang adalah Nando, tangan kananya.


Dengan langkah malas, Rifal keluar dari kamar untuk membukakan pintu untuk Nando. Entahlah, dia Harus bahagia karna kedatangan Nando untuk menemaninya atau dia akan semakin stres dengan tingkah Nando.


Sudah cukup dia stres dengan kehilangan Valen dan juga anaknya. Jika itu terjadi, Rifal tidak akan segan-segan mengunyah Nando di Villa ini.


Huft


Rifal menarik nafasnya dalam sebelum membuka pintu Villa, yang akan menyuguhkan wajah milik Nando.


Pintu dibuka...


Deg


Jantungnya berdetak kencang, bukan Nando yang datang melainkan...


''Gue nggak mimpi, kan?'' Rifal meggelengkan kepalanya tidak percaya melihat siapa yang datang.


Orang yang selama ini membuatnya tidak istirahat dengan tenang.


''Valen!''

__ADS_1


__ADS_2