Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Babuh


__ADS_3

"Valen hamil!" Rifal langsung berdiri dari kursi cafe yang dia duduki saking terkejutnya dia menerima kabar jika Valen.


Elgara menyesap rokoknya. "Duduk dulu," kata Elgara dan dituruti oleh Rifal. Dia memijat pelipisnya saking syoknya dia mendapatkan kabar ini.


"Gue nggak percaya kalau Valen hamil."


Ting....


Bersamaan dengan mengucapakan kata itu, handponenya bergetar menandakan adanya pesan masuk.


"Om Rifal. Dokter Valen hamil!"


Rifal langsung melototkan matanya, kabar kehamilan Valen dia dapatkan dari tetangga gesreknya dan juga Elgara, sahabatnya.


Rifal langsung pergi meninggalkan Elgara membuat Elgara berteriak.


"Fal! Lo mau kemana?" panggil Elgara yang tidak digubris oleh pria itu.


Niat kedatangan Rifal bertemu dengan Elgara adalah untuk menghajar sahabatnya itu. Namun, saat Rifal belum meneruskan perkataannya Elgara sudah lebih duluan memotongnya dan mengatakan jika Valen sedang hamil.


Elgara langsung melajukan mobilnya meninggalkan cafe, tujuannya saat ini adalah rumah untuk menemui Valen.


Kabar yang diberikan Lea dan juga Elga membuatnya syok. Otaknya menjadi Dejavu menerima berita ini.


Rifal juga tidak tau, sejak kapan Valen hamil. Mengapa Elgara dan Lea lebih dulu mengetahuinya ketimbang dirinya?


"Brengsek!" Rifal memukul stir mobilnya.


Dia tidak tau harus seperti apa. Dalam benaknya sejak kapan Valen hamil? Mengapa perempuan itu tidak memberitahukan kepadanya.


Mengapa dia harus tau dari orang lain?


Pantas saja akhir-akhir ini Valen terlihat aneh. Mulai dari es kelapa yang tidak pernah dia makan dan dia juga makan-makanan pinggiran jalan.


Rifal mengemudikan mobilnya begitu laju sehingga Pengandara yang lain banyak mengumpati Rifal dengan kata-kata kasar saking brutalnya Rifal membawa mobil.


Apakah dia kecewa? Apakah dia marah? Kecewa karena dia tau kabar kehamilan dari orang lain. Seharusnya dia pertama mengetahui akan hal ini.


Tring....


Rifal memelankan mobilnya guna melihat siapa yang mengirimkannya pesan saat ini.


"Om Rifal. Jangan lupa motor baru buat Lea. Lea 'Kan udah kasi tau info penting ini sama om Rifal."


Rupanya pesan yang dibaca Rifal adalah pesan dari Lea.

__ADS_1


"Janji adalah utang!"


Lagi dan lagi pesan tersebut masuk lagi. Membuat Rifal berdecih.


Rifal tidak pernah ingkar janji. Menurutnya janji yang diberikan oleh Lea saat itu sangat kecil menurutnya.


Rifal megambil handponenya lalu menekan nomor salah satu tangan kanannya.


"Beli mobil Lamborghini warna biru. Antar ke komplek dekat rumah saya. Nomor rumah 12!" Rifal berkata dengan tegas diseberang telfon lalu mematikan handponenya secara sepihak.


Dia tidak membalas pesan dari Lea. Karna pikirannya saat ini tertujuh pada Valen. Rifal yakin jika Valen sudah kembali saat makan dipinggir jalan bersamaan dengan Lea.


Mobil milik Rifal memasuki pekarangan rumah. Pria itu turun dengan buru-buru berjalan cepat untuk segera masuk kedalam rumah.


"Valen!" panggil Rifal saat tangannya sudah membuka pintu utama.


"Valen!" lagi dan lagi Rifal berteriak nama Valen sembari berjalan kearah ruangan tv.


"Selamat sore, tuan," sapa salah saty art sembari membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Valen mana?" tanya Rifal dengan tidak sabaranya membuat art itu tersentak kaget melihat wajah Rifal nampak serius.


Apakah Valen membuat masalah lagi dengan Rifal? Sehingga Rifal mencarinya? Pikir pembantu itu.


"Nyonya Valen belum pulang, tuan," jawab art tersebut membuat Rifal mengacak rambutnya.


Sudah pasti bukan jika gadis itu mengetahui dimana Valen.


Tangan Rifal menekan nomor Lea, yang tertuliskan tetangga gesrek.


"Hal-" Belum sempat Lea meneruskan perkataannya diseberang telfon. Lebih dulu Rifal memotongnya.


"Valen mana, Lea?" tanya Rifal diseberang telfon dengan serius.


"Dokter Valen dirumah sakit tempat dia bekerja. Perutnya tadi keram jadi Lea bawa kerumah sakit."


Rifal terdiam sejenak, lalu kemudian mematikan handponenya secara sepihak membuat Lea diseberang sana menghentakkan kakinya jengkel.


Rifal kembali melajukan mobilnya untuk segera kerumah sakit. Pikirannya sekarang campur aduk.


"Kenapa lo nggak bilang sama gue, Va," menolog Rifal sembari mengingat dimana dia terakhir kali menjamah tubuh Valen. Yang saat itu dia menghukum perempuan itu untuk tinggal di apartemen.


***


"WHAT!"

__ADS_1


Pekikan yang sangat nyaring menggemah dikamar milik Kayla dan juga Elgara.


"El!" geram Kayla kepada suaminya membuat Elgara menaikkan alisnya sebelah.


"Suami harus tau kalau istri sedang hamil." Elgara berkata santai membuat Kayla tersenyum masam.


Apa yang dikatakan oleh Elgara memang benar, tapi seharusnya dia minta persetujuan dari Valen terlebih dahulu.


"Cepat atau lambat Rifal bakalan tau juga," lanjut Elga kepada istrinya yang sedang berkacak pinggang dihadapannya.


"Bagaimana kalau Valen nggak setuju kalau Rifal tau?" lesuh Kayla sembari duduk bersama dengan Elgara.


"Rifal juga punya hak atas anak yang dikandung Valen. Rifal juga orang calon ayah dari anak yang dia kandung," kata Elgara membuat Kayla melirik suaminya.


Elgara bertatapan dengan Kayla. "Suami kamu memang tampan. Nggak usah natap seintens itu," ejek Elga membuat Kayla mencubit perut sixpack suaminya itu.


"Kalau nggak ganteng. Mana mungkin aku mau nikah sama kamu, El," ejek balik Kayla membuat Elgara memutar bola matanya malas kearah istrinya itu.


"Setidaknya gue lebih tampan dari mantan kamu itu," terang Elgara.


"Maksud kamu, Daniel? Mantan terbaik yang aku punya?" Kayla sengaja memanas-manasi Elgara.


Kayla tersenyum penuh kemenangan, karna Elgara sudah diam, dengan raut wajah sedang jengkel.


"Lebih baik kamu siapin baju buat aku ke kantor besok," kata Elga membuat Kayla beranjak dari sofa yang dia duduki.


"Cie. Yang jadi babunya kak Eza!" ejek Kayla membuat Elgara beranjak dari sofa yang dia duduki lalu melirik kearah Kayla yang seperti sedang menantangnya.


"Frezan nggak berani merintahin gue ini dan itu!" yakin Elgara sembari tersenyum simpul membuat Kayla tertawa kecil.


"Kata siapa?" tanya Kayla.


"Tinggal aku bilang sama Rara. Pasti Frezan bakalan nunduk dengan apa yang dikatakan sama Rara. Secara aku kembaranya sudah pasti dia mau." Dengan pdnya Elgara berkata seperti itu.


"Rara nggak mungkin bantah keputusan suami, Rara." Tiba-tiba saja Rara menyahut dari pintu kamar yang tidak ditutup oleh Kayla.


Rara berjalan kearah Elgara dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Rara udah bilang sama suami Rara. Tapi dia bilang kita harus profesional," kata Rara membuat Kayla menahan tawanya agar tidak pecah disini.


Sedangkan Elgara memasang wajah kecut mendenger penuturan dari kembaranya itu.


"Jadi Maafin Rara yah bang. Abang Elga bakalan jadi babunya suami Rara." Kayla langsung memecahkan tawanya saat dengan santainya Rara berkata seperti itu.


"Aduh Ra!" Perut Valen sampai sakit karena tertawa.

__ADS_1


Sementara Elgara menatap tajam Kayla yang tidak digubris perempuan itu. Dia tetap tertawa


__ADS_2