
Rifal mencubit pipih Valen dengan gemas, melihat wajah istrinya menbuatnya percaya jika bidadari surga itu memang ada, didunia saja dia melihat wanita secantik Valen apa lagi jika wanita bidadari surga.
“Kamu adalah bidadari yang hinggap di dunia ini,” ucap Rifal memegang pipi Valen dengan gemes.
“Nggak usah ngegombal deh,” malas Valen, namun pipihnya tidak bisa bohong jika dia sedang salting saat ini.
‘’Kenapa?'' tanya Rifal.
‘’Apanya yang kenapa?'' Tanya Valen.
''Kenapa kamu begitu cantik, sayang,'' senyum Rifal tulus membuat wajah Valen semakin memerah saja.
''Kamu tau nggak, kenapa aku cantik?'' Tanya Valen pada suaminya itu.
''Kenapa?” penasaran Rifal.
''Karna faktor keturunan dan uang,'' tawa Valen membuat Rifal menggelengkan kepalanya.
''Kamu lihat kedua orang tua aku kan tampan dan cantik, dan mereka juga berduit,'' songong Valen kepada suaminya itu.
''Tapi suami kamu lebih kaya,'' balas Rifal membuat Valen tertawa kecil.
Rifal menggosok tubuh Valen dengan lembut menggunakan sabun mandi, kulitnya yang putih membuat Rifal kembali terhanyut.
Saat ini Valen membelakangi Rifal, karna Rifal sedang menggosok punggung putih dan mulus Valen menggunakan sabun.
''Sayang,'' panggil Rifal dengan suara beratnya di belakang telinga Valen.
Rifal mencium punggung Valen dengan pelan-pelan namun terasa. ''Jangan disini yah,'' pinta Valen membuat Rifal menghentikan aksinya.
Dia tau, jika istrinya saat ini masih letih. Apa lagi mereka baru baru saja melakukan hubungan suami istri. Masa iya dia kembali menghantam istrinya di kamar mandi? Bisa bisa Valen dan calon anaknya akan kenapa kenapa.
''Aku nggak bakalan lakuin itu sayang, aku tau kamu masih capek ladenin aku tadi,'' bisik Rifal di telinga Valen membuat Valen mengangguk mengerti.
Valen bersyukur jika suaminya itu paham dengan kondisinya, karna jujur saja dia masih letih.
Rifal kembali menggosok punggung putih mulus Valen, sekali-kali mencium pipih Valen dengan gemes.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam berendam, mereka berdua turun dari bathub lalu menyiram tubuh mereka dengan air shower.
Rifal mengambil handuk lalu melilitkan di tubuh milik Valen. ''Istri siapa sih cantik banget?” goda Rifal mencium kening Valen.
''Istri kamu lah, masa iya istrinya dokter Nathan,'' balas Valen lalu lebih dulu meninggalkan Rifal. Karna sekarang dia tau jika suaminya itu sudah merubah raut wajahnya yang manis tadi menjadi garang.
Valen lari terbirit-birit, sementara Rifal berusaha menahan kekesalannya pada Valen. Dia baru saja menjadi pria manis namun sekarang berubah hanya dengan Valen menyebut nama dokter Nathan.
“Andai lo bukan istri kesayangan gue, udah gue banting lo, Len kedalam bathub,” gerutu Rifal berusaha menahan gejolak tidak enak dalam dirinya.
Rifal mengambil handuk lalu melilitkan handuk tersebut di pinggannya, lalu kemudian mengambil handuk kecil untuk mengusap rambutnya yang basah.
Rifal keluar dari kamar mandi dengan wajah masam, kesal dengan apa yang dikatakan oleh Valen tadi. Seakan akan dia ingin langsung pulang ke Jakarta saja.
Rifal berjalan menuju kamar dan melihat Valen tengah memilih baju didalam lemari, dimana bajunya yang di koper sudah di susun didalam lemari terlebih dahulu.
Rifal melihat wajah Valen seakan akan tidak pernah melakukan hal salah, membuat Rifal kesal dengan tingkah Valen saat ini.
Rifal berjalan menuju cermin melepaskan handuk yang melilit di tubunya lalu mengambil celana boxer serta kaos mahal yang simpel.
Dia mengeringkan rambutnya menggunakan pengering rambut milik Valen. Dari cermin Rifal melihat tingkah Valen yang seperti seseorang yang sedang pusing memilih baju.
Daripada sibuk melihat Valen yang tidak jelas, Rifal melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuat coffe.
Rifal sudah membuat coffe, lalu kemudian membawa coffe buatanya menuju kamar.
Rifal meletakkan coffe nya di meja, sementara Valen belum juga usai memilih baju.
Memang perempuan itu sangat ribet, pantas saja laki-laki tidak menyukai jika ada wanita yang ingin pergi bersamanya. Karna dia tau, dia akan repot.
Rifal duduk di kursi seraya membaca buku, sekali-kali dia menyeruput coffe buatanya sendiri, sementara Valen belum juga usai dengan kegiatanya.
“Akhirnya dapat juga yang cocok,” gumam Valen mengeluarkan dres berwarna coklat dari dalam lemari yang sangat elegan.
Sementara Rifal sibuk dengan buku yang dia baca. Valen menutup lemari lalu berjalan menuju koper mengambil ********** untuk segara dia kenakan.
Serakah memakai celana segitiga dan juga brah, Valen kembali melilitkan handuk di tubuhnya.
__ADS_1
Dia berjalan menuju meja rias, disana make up miliknya sudah tersusun rapih. Dia mengambil spons bedak lalu mulai merias wajahnya dengan bedak mahalnya. Dia memakai maskara, lipstik.
“Udah cantik.”
Pujinya pada dirinya sendiir, lalu dia berjalan menuju tempat tidur untuk mengambil dres berwarna coklat tersebut.
Dia mengenakan dres tersebut yang sangat pas untuk tubuhnya saat ini, sementara Rifal masih sibuk dengan buku yang dia baca yang hanya mengenakan baju kaos saja.
Dia mengambil sisir lalu mulai menyisir rambutnya yang panjang, dia mengambil jepitan rambut untuk menghiasi rambutnya.
“Perfect,” pujinya pada dirinya sendiri di depan cermin.
Valen melirik kearah Rifal, yang masih mengenakan baju santai asik membaca buku. Valen sedikit kesal menghampiri Rifal.
“Fal,” panggil Valen dengan suara kesal kepada suaminya itu.
Rifal melihat dari bawa hingga ujung rambut Valen langsung saja menyeritkan alisnya, melihat Valen sudah rapih dengan dres dan juga make up nya sedang berdiri di hadapnya saat ini.
Jujur saja, Rifal terpesona dengan pakaikan dan juga make up sederhana Valen. Sehingga membuta wajahnya semakin cantik.
Namun mengingat kekesalannya pada Valen tadi, membuat Rifal tidak memuji istrinya secara terang-terangan. Hanya saja dia di buat bingung penampilan Valen saat ini yang sangat cantik.
“Kamu mau kemana dandan kayak gini?” Tanya Rifal seraya mengeritkan alisnya membuat Valen membuka mulutnya sedikit mendengar perktaan polos suaminya itu.
“Kita mau mau makan malam, Fal. Kita belum makan malam,” Valen menghentakkan kakinya.
''Apa makan malam harus mengenakan gaun? Aku saja hanya mengenakan kaos dan juga celana sampai lutut,'' tutur Rifal melihat penampilannya sendiri yang sederhana. Berbeda dengan penampilan Valen yang sedikit heboh mengenakan dres.
''Masa iya kita makan malam di Restauran pake baju kaos!”
Rifal menaikkan alisnya sebelah, membuatnya semakin tampan di mata Valen.
''Kata siapa kita makan malam di restauran?'' Tanya Rifal membuat Valen melotokan matanya kearah Rifal.
‘’Nggak usah bercanda.''
''Emangnya kamu udah beri tau aku sebelumnya buat makan malam keluar?” Tanya Rifal lagi.
__ADS_1
''Kita kesinikan buat jalan-jalan, bukan menetap didalam Villa!” Sosor Valen menahan kekesalannya pada Rifal.e