
''Saya akan menunggu mu.''
Lea yang sedang makan dengan lahap terhenti, dia mendongakkan kepalanya dan melihat wajah tampan Nathan.
''Ma-maksud dokter Nathan apa?'' tanya Lea.
Sungguh ucapan Nathan membuatnya penasaran. Menunggu apa?
''Kamu sendirikan yang menyuruh saya untuk menunggu kamu sampai selesai kuliah.''
Deg
Jantung Lea terpompa begitu kencang, ucapan Nathan sukses membuatnya dejavu.
‘’Dokter Nathan su-suka sama Lea?'' tanyanya menunjuk dirinya sendiri.
Nathan mengangguk sebagai jawaban.
''Kenapa?'' tanya Lea karna gadis itu hanya diam saja.
‘’Dokter Nathan yakin suka sama Lea?'' tanyanya dengan rasa tidak percaya jika pria dihadapnya menyukainya dan akan menunggunya hingga lulus kuliah.
''Bukanya dokter Nathan suka sama dokter Valen?'' tanya Lea dengan hati-hati.
Nathan tidak menjawab pertanyaan Lea, dia lebih memilih untuk diam. Jujur saja, dia belum bisa melupakan Valen hingga saat ini.
Apalagi wanita itu menghilang dan belum ditemukan sampai sekarang.
Nathan harus mendengarkan perkataan Zul, jika dia tidak boleh gagal yang ke empat kalinya. Tidak apa jika dia ingin menjalin hubungan dengan Lea meski otaknya menolak untuk melupakan Valen.
Karna asa waktunya tersendiri untuk Nathan melupakan seseorang. termasuk Valen.
Mengingat Valen, membuat Nathan memikirkan nasib Valen.
Bagaiamana wanita itu sekarang? Apakah dia masih hidup atau....
Nathan melamun, membuat Lea tersenyum masam. Dia sudah menduga jika Nathan sedang memikirkan Valen.
Lea makan sudah tidak selahap tadi, bahkan gadis itu tidak minta tambah. Nathan menyuruhnya untuk makan lagi namun gadis itu mengatakan jika dia sudah kenyang dan ingin segera kerumah sakit.
Nathan hanya mengangguk saja, lalu maminta bil. Sayang sekali, padahal Nathan sudah memesan begitu banyak makanan namun hanya sedikit yang di makan Lea.
Di sepanjang jalan, tidak ada obrolan antara Lea dan Nathan. Mereka berdua memilih untuk diam.
Lea sibuk dengan pikirnya memikirkan tentang ucapan Nathan tadi.
Sementara Nathan memikirkan kondisi Valen. Dia saja yang bukan siapa-Siapanya Valen sampai memikir wanita itu sampai seperti ini.
Bagaiamana dengan Rifal? Pantas saja pria itu semakin drop karna memikirkan hal ini.
Nathan dan Lea sudah sampai di rumah sakit, Lea lebih dulu turun dari mobil sementara Nathan sedang menerima telpon.
__ADS_1
Saya akan menunggu mu
Kata-kata Nathan di restoran tadi membuat Lea terngiang-ngiang hingga saat ini. Bahkan gadis itu berjalan di koridor rumah sakit seraya menarik nafasnya dalam.
Bruk...
Sibuk dengan pikiranya hingga Lea menabrak seseorang di koridor.
''Maaf,'' cicit Lea seraya menundukkan kepalanya karna dia menabrak dokter Kiki.
Akh, gara-gara perkataan Nathan tadi membuat fokus gadis itu terbagi banyak, bukan lagi terbagi dua.
Dokter Kiki tersenyum hangat kearah Lea. ''Tidak apa-apa,'' ucap dokter Kiki dengan ramah.
''Kemana dokter Nathan? Bukanya kalian pergi berdua?'' tanya dokter Kiki karna tidak melihat Nathan.
‘’Dokter Nathan lagi terima Telfon, dok,'' jawab Lea dan dibalas anggukan Kiki.
''Yasudah saya duluan, ya, jangan ngelamun kalau jalan, hehehe,'' pamit dokter Kiki membuat Lea cenggengesan malu.
Lea menatap punggung dokter Kiki yang sudah memasuki salah satu ruangan, Lea kembali melanjutkan langkah kakinya.
''Lea.''
Deg
Belum ada beberapa langkah Lea berjalan, dia di kagetkan dengan suara yang sudah satu bulan ini tidak dia dengar lagi.
''Dokter Valen!'' Lea menelusuri di setiap penjuru koridor menggunakan kedua matanya.
''Lea nggak mungkin salah dengar,'' menolog gadis itu.
''Dokter Valen!'' panggil Lea lagi berharap jika ini bukan halusinasi semata.
Dia berharap dokter Valen keluar.
''Hei, jangan berteriak seperti itu. Akan menganggu pasien yang istirahat,'' tegur salah satu perawat membuat Lea hanya mengucapkan kata maaf saja.
''Lea.''
Kali ini yang memanggilnya suara lain, bukan suara yang pertama kali dia dengar.
''Kau kenapa?'' tanya Nathan menghampiri Lea.
Dari arah pintu masuk, Nathan melihat Lea sedang mencari seseorang serta wajahnya yang sedikit panik.
''Dokter Nathan, Lea dengar dokter Valen memanggil Lea,'' jelas gadis dengan yakin.
''Itu hanya halusinasi mu,'' sanggah Nathan. ''Dokter Valen tidak ada di sini.''
''Tap—''
__ADS_1
''Kau harus fokus dengan kuliah mu, kau lupa kau harus cepat lulus,'' dingin Nathan membuat Lea merasakan ada sesuatu yang berubah dari cara bicara pria tampan di hadapanya.
Tapi apa….
Lea tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini.
''Lea...'' panggil Nathan lagi karna gadis di depanya tidak menggubrisnya.
''Iy-iya,'' jawab Lea dengan cepat.
''Apa kau dengar apa yang saya katakan?'' tanya Nathan membuat Lea mengangguk sekaligus menggelengkan kepalanya membuat Nathan memijit pelipisnya.
Gadis di depanya ini sangat lalot.....
Mereka berdua menjadi pusat perhatian di koridor rumah sakit. Mereka semua sudah tau, jika Nathan dan Lea semakin dekat semenjak gadis itu praktek di sini.
Dan yah....Mereka semua yang bekerja di rumah sakit ini sudah mengetahui berita Valen yang hilang.
Mereka turut sedih atas apa yang menimpah dokter cantik itu.
Nathan yang sadar menjadi pusat perhatian langsung menarik tangan Lea meninggalkan koridor ini.
Lea mengikuti langkah kaki Nathan seraya melirik tanganya yang masih di gandeng oleh Nathan.
Tangan kekar ini, tangan yang sedari dulu ingin Lea genggam namun tidak kesampaian.
Dan sekarang, Nathan dengan sendirinya menggandeng tanganya. Lea tidak bisa menyembunyikan senyuman dari bibirnya.
Senyumannya yang manis langsung luntur begitu saja, saat mengingat percakapanya dan Nathan saat makan siang tadi.
Dia tidak boleh terjebak...
“Jangan sampai dokter Nathan cuman anggap Lea pelampiasan karna kepergian dokter Valen.”
Lea menggelengkan kepalanya, entah mengapa dia merasakan jika saat ini dia tidak bersama Dokte Nathan yang asli.
Lea langsung melepaskan tanganya begitu saja membuat Nathan memberhentikan langkahnya karna Lea tiba-tiba saja melepaskan tanganya.
Tinggal beberapa langkah lagi, mereka berdua sampai di ruangan dokter Nathan. Namun karna tindakan Lea yang tiba-tiba membuat langkah kaki keduanya terhenti.
Nathan menatap Lea seraya menaikkan alisnya sebelah. ''Kenapa di lepas?'' tanya Nathan dan langsung dibalas gelengan kepala oleh Lea.
Mereka berdua beradu pandangan, kali ini Lea tidak hanyut dengan tatapan mata Nathan karna dia mencari kebenaran dari bola mata Nathan.
Sementara Nathan yang hanyut dengan tatapan teduh dari Lea, tatapan polos gadis itu membuat hatinya berdesir sama seperti saat dia mencintai sosok Rara saat masa SMA yang kini sudah menjadi istri kakaknya sendiri.
''Kenapa dokter Nathan milih Lea buat jadi pelampiasan dokter Nathan?''
Deg
Pertanyaan Lea membuat Nathan merasakan keseriusan gadis di hadapanya yang berbicara.
__ADS_1