
Ting…
Lea yang sedang menonton tv bersama kedua adiknya langsung melirik ponselnya yang bunyi, menandakan adanya pesan masuk.
Lea melihat Nathan mengirimkan sesuatu, tanganya bergerak memutar rekaman yang di kirim Nathan.
Lea terkejut sekaligus terharu dengan tindakan dokter Zul melamar Dokter Kiki, sang pujaan hati.
“Mereka berdua sweet banget!”
Nathan membaca pesan yang di krim Lea lalu mengangkat sudut bibirnya tersenyum.
“Memangnya kita berdua tidak sweet?”
Lea tersenyum seraya mengigit bantal.
''Kak Lea kenapa?'' tanya Raka menyimpan ponselnya karna dia sudah usai bermain game.
''Kak Lea, bantalnya jangan di gigit, nanti jadi pulau,'' sembur Riki membuta Lea mengerucutkan bibirnya.
''Kok kamu gitu sih, nggak lama lagi kakak bakalan ninggalin rumah ini dan bakalan jarang kesini lagi. Karna kakak akan sibuk dengan kuliah kakak dan juga suami kakak,'' ucapnya dengan cemberut.
''Kak Lea mau nikah beneran? Rasanya Raka sama Riki masih nggak percaya, karna kakak masih kecil.'' Raka berkata serius membuat Riki mengangguk setuju dengan ucapan saudara kembarnya itu.
''Kakak udah besar, jadi wajar kakak kalau kakak akak segera menikah.''
''Iya-iya,'' ucap Raka dan Riki bersamaan.
Novi yang mendengar percakapan singkat ketiga anaknya tersenyum. Jujur saja, ia juga tidak menyangka jika anak cerobohnya itu akan segera menikah di usianya 20 tahun.
Lea memilih pergi dari tempat sini, jangan sampai kedua adiknya mengejek dirinya.
''Lea,'' panggil Novi.
Lea menjawab seraya menghampiri Novi yang sedang duduk di kursi makan.
Lea duduk di samping Novi. ''Kamu harus ingat sama pesan mamah. Kamu harus nurut apa ucapan Suami kamu nanti, jika itu yang terbaik untuk kamu.''
Lea mengangguk, mamahnya selalu memberikan dirinya nasihat.
''Tinggal menghitung hari, kelurga dari dokter Nathan akan datang kerumah melamar kamu.'' Novi langsung memeluk anaknya.
''Semogah saja keputusan mamah terbaik untuk mu, Lea.'' Novi mencium puncak kepala Lea.
Lea menangis, sungguh dia tidak menyangka di pertemukan jodohnya secepat ini.
''Makasih, Mah. Udah mau nerima anak seperti, Lea.''
Novi langsung melepaskan pelukanya, ucapan anaknya itu sungguh diluar nalar.
''Apa yang kamu katakan, Lea. Tentu saja mamah nerima kamu karna kamu adalah anak mama.'' Novi menggeleng tak habis pikir dengan ucapan Lea barusan.
__ADS_1
Lea mengusap air matanya seraya tersenyum. ''Iya, Mah.'' Lea memeluk Novi lebih erat dari tadi.
***
Malam haripun tiba, Nathan sudah pulang dari rumah sakit. Saat ini mobilnya mengarah kepada rumah Frezan.
Mulai malam ini sampai hari pernikahannya, ia akan tinggal di rumah Frezan bersama dengan Farel.
Mobil milik Nathan masuk kedalam pekarangan rumah Frezan.
''Abang Nathan pulang!'' Farel langsung memeluk Nathan di ambang pintu membuat Nathan terkekeh.
''Kak Eza mana?'' tanya Nathan kepada adiknya.
''Kak Eza ada di ruangan kelurga, kalau mbak Rara sama tante Kay lagi ke butik buat pesan baju persatuan untuk pernikahan Abang Nathan.''
Nathan mengangguk ucapan Farel barusan, lalu mereka berdua berjalan menuju ruangan keluarga menemui Frezan.
Nathan berusaha menahan tawa saat melihat Hasya, Tegar, Dyra, Dyta dan Revan sekalipun berada di dekat Frezan.
Frezan tengah menggendong Revan, karna Kayla dan Rara sedang keluar sebentar di antar oleh supir.
''Banyak sekali anak mu!'' Nathan datang seraya menggelengkan kepalanya ikut duduk di sofa singel.
Frezan melirik adiknya lalu fokus menatap anak-anak bermain.
''Kau tidur di kamar Farel bersama dengan Farel,'' ucap Frezan. ''Karna nanti kalau kau sudah menikah, Farel tidak akan tidur bersamamu lagi.'' Nada suara Frezan mengejek kearah Nathan.
“Emangnya boleh?” tanya Farel membuat Nathan dan Frezan tertawa keras dengan apa yang dikatakan oleh Farel barusan.
“Apa kamu mau?” tanya Nathan enteng dan dibalas gelengan kepala oleh Farel.
Farel duduk di kursi sofa panjang di ikuti oleh Tegar. Sehingga dibawa karpet bulu hanya ada Dyra, Dyta, dan Hasya.
“Kapan om Nathan nikah?” tanya Tegar.
“Secepatanya,” jawab Nathan. “Lamaran sisa menunggu hari, jika acara lamaran sudah berlangsung penentuan tangal pernikahan sudah ada di saat acara pelamaran.”
Tegar mengangguk.
“Karna bang Nathan sama Kak Frezan udah nikah. Jadi, Farel bebas mau tinggal sama siapa?” tanya Farel.
“Maksud kamu bebas?” tanya Frezan kepada Farel.
“Maksudnya gini, Farel boleh dong tinggal di rumah kak Eza sama bang Nathan secara bergantian. Lagian, kan, nanti bang Nathan udah ada yang nemenin, jadi Farel tidak perlu setiap hari di rumah bang Nathan.”
Nathan dan Frezan mengangguk secara bersamaan. “Terserah kamu aja, mau tinggal di mana. Asal jangan di kolong jembatan.” Nathan tertawa mendengar ucapan yang barusan di lontarkan kakanya yang dingin kepada adik bungsu mereka.
Farel mencabikkan bibirnya. “Setelah dua minggu bang Nathan nikah, Farel baru kerumah bang Nathan.”
“Adik yang peka,” gumam Nathan.
__ADS_1
“Kak Eza, aku mau ngomong empat mata,” ujar Nathan tanpa ingin di ganggu bocil di sini.
“Yang jagain ini anak-anak siapa? Rara dan Kayla bisa marah sama aku, kalau aku ninggalin mereka,” ucap Frezan seraya menatap ketiga anak perempuan bermain di bawa karpet.
Sementara Tegar dan Farel duduk di sofa.
“Kan, ada mereka yang jagain,” ucap Nathan menunjuk kearah Tegar dan Farel.
Farel dan Tegar saling bertatapan lalu kemudian bersamaan mengangguk.
“Biar Tegar sama Om Farel yang jagain mereka.” ungkap Tegar dan dibalas anggukan kepala oleh Farel.
“Kita bicara enam mata.” Frezan berdiri dari sofa yang ia duduki.
“Siapa?” tanya Nathan bingung.
“Kau tidak melihat, anak kecil ini dalam gendongan Ku, tidak mungkin jika aku menitip anak sekecil ini kepada Farel dan Tegar.” Frezan langsung berjalan meninggalkan ruangan keluarga.
Saat ini Frezan dan Nathan berada di ruangan kerja Frezan yang di penuhi dengan buku-buku .
Frezan lebih dulu duduk di kursinya, lalu Frezan duduk di hadapan kakaknya itu.
“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Frezan masih setia mengendong Revan.
Dia seperti ayah dari anak yang ia gendong, bagaiamana tidak jika anak itu tenang jika berada di gendonganya.
“Saat acara lamaran nanti, aku mau kak Eza mempercepat tanggal pernikahannya, kalau perlu seminggu selesai lamaran langsung akad.”
Frezan menaikkan alisnya sebelah, menatap curiga Nathan. “Kau tidak melakukan hal itu, kan?” tanya Frezan dengan dingin.
“Aku tidak akan melakukan hal gila itu. Aku hanya ingin mempercepat acara pernikahannya karna suatu hal yang tidak bisa ku sebutkan alasanya. Tapi yang intinya, aku tidak melakukan hal yang kau pikirkan.” Nathan menyakinkan Frezan.
Bisa-bisanya Frezan berpikir sampai kesana soal dirinya.
Frezan mengangguk. “Ok, kalau itu maumu.”
Nathan tersenyum. “Asal keluarga perempuan setuju. Semua akan berjalan sesuai dengan keinginan mu.”
“Terimakasih, Za. Aku beruntung mempunyai saudara sepertimu!”
Ingin rasanya Nathan memeluk Frezan. Namun melihat anak kecil dalam gendongan Frezan membuat Nathan mengurungkan niatnya.
“Jangan lupa hadiah untukku, yang mewah.” Nathan menggoda sang kakak membuat Frezan menatapnya datar.
“Tanpa kau minta, aku akan memberikanya.”
“Apa kau ingin menghadiahkan rumah atau mobil untuk ku?”
Frezan berdiri dari kursi lalu berjalan keluar. “Bukan hadiah namanya jika kau mengetahui hadiahnya. Hadiah yang kuberikan dan Rara sangat berguna untuk mu kelak.”
“Terserah kau saja.”
__ADS_1