
Pergerakan tangan Rina terhenti melihat Valen memanggilnya.
“Pelan-pelan jalanya,” tegur Rina dengan lembut karna Valen berjalan dengan cepat kearahnya.
Valen tertawa kecil mendapatkan teguran kasih sayang dari mertuanya.
“Rifal mana?” Tanya Rina menoleh kearah belakang dan tidak melihat adanya Rifal bersama Valen.
“Apa dia pulang?” Lanjut Rina.
“Valen juga nggak tau Mom, soalnya Valen kesini sementara Rifal masih didalam mobil,” bohong Valen. Padahal Rifal tadi mengejarnya. Namun saking kesalnya dengan Rifal dia mengatakan tidak tau.
Rina hanya mengangguk, dia tidak berpikir kearah sana jika menantunya sedang ngambek pada Rifal.
“Yaudah yuk, Mom. Kita lanjut cariin calon cucu Mom baju,” semangat Valen seraya mengusap perutnya.
“Ayok.”
Lepas itu mereka kembali mencari perlengkapan bayi, mereka tidak tau apakah anak Rifal laki-laki atau perempuan, dia hanya membeli pakaian dan perlengkapan bayi dengan warna senada karna mereka belum tau jenis kelamin anak yang di kandung Valen.
Valen tidak tau, kemana arah Rifal saat ini. Karna setahunya suaminya tadi itu mengejarnya, mungkin saja Rifal telah kehilangan jejak Valen.
Valen hanya mengedikkan bahunya, pokoknya dia tidak akan memaafkan Rifal dengan mudah. Dia akan membuat Rifal menjadi galau dengan tidak berkomunikasi.
__ADS_1
“Pokoknya gue bakalan tahan diri gue supaya nggak ngomong sama Rifal,”menolog Valen menyakinkan dirinya agar nanti saat mereka pulang dia akan mendiami Rifal agar suaminya jerah.
“Kenapa, Len?” Tanya Rina mendengar Valen tengah berbicara namun kurang jelas.
Valen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia terlalu mengeluarkan suaranya sehingga mertuanya dapat mendengarkan dengan samar apa yang dia katakan.
“Hehehe, nggak kok Mom, Valen cuman bilang kalau baju ini lucu buat calon bayi Valen,” ucap Valen mengangkat baju yang menurut Rina hanya biasa saja karna polos.
Rina hanya mengangguk, dia berpikir jika selera Valen tidak sama denganya yang melihat baju bayi polos tanpa permak.
“Kamu nggak usah mikirin harga. Pokoknya ambil aja, uang suami kamu banyak,” ucap Rina dengan terkekeh membuat Valen juga ikutan tertawa.
Sementara Rifal sudah kehilangan jejak Valen membuatnya mengumpat dengan keras. Dia tadi tidak sengaja menabrak pengujung Mall sehingga dia harus mendengar ocehan ibu-ibu itu menbuatnya kehilangan jejak Valen.
“Kamu dimana sih, Len,” kesal Rifal.
Dia menekan nomor Valen.
Drt….
Valen yang sedang mengambil mainan anak langsung terhenti mendengar ponselnya bergetar.
“Angkat dulu, Len. Siapa tau penting,” kata Rina seraya memasukkan mainan didalam keranjang.
__ADS_1
Entahlah, sudah berapa belanjaan mereka saat ini. Terutama Rina yang melihat sesuatu yang lucu langsung dia masukkan kedalam keranjang tanpa melihat harganya.
“Iya Mom.”
Valen membuka tasnya dan mengambil ponselnya, dia melihat nama Rifal terterah.
Valen mengerucutkan bibirnya.
“Siapa yang nelfon? Apa suami kamu?”
“Hmmm, iya Mom.”
“Udah angkat dulu.”
Dengan malas Valen menggeser tombol hijau tersebut, dia malas mengangkat Telfon dari Rifal namun ini sebuah perintah dari mertuanya.
“Asik banget sih belanja, Len, sampai Telfon aku kamu angkat lama.” Terdengar suara Rifal yang kesal membuat Valen ingin mencabik suami tampanya itu.
“Iya.”
Singkat, padat dan jelas.
Membuat Rifal langsung berpikir jika Valen masih ngambek padanya.
__ADS_1
“Iya, apa Len?”
“Yang kamu bilang tadi.”