Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Dyra menangis


__ADS_3

Farel mengucek matanya, dia masih mengantuk namun suara tangisan yang sangat keras membuat dia terusik.


“Diam, Ra!” kesal Farel membuat Hasya semakin mengeraskan suaranya karna di bentak oleh Farel.


“Kak Farel jahat!”


Farel menutup telinganya lalu melirik ke samping, dia sudah tidak melihat Dyta lagi. Dia mengarahkan pandanganya namun tidak melihat si curiting itu.


Mobil memasuki pekarangan rumah Frezan.


“Pak, curiting mana?” Tanya Farel setelah Supir mematikan mesin mobilnya.


“Dia main basket,” kata supir.


“Sama siapa?”


“Papahnya,” jawab supir lalu keluar dari mobil untuk membukakan anak-anak pintu.


Kayla langsung keluar dari pintu utama saat mendengar suara tangisan Dyra yang sangat keras sampai keruangan tengah.


“Sayang, kamu kenapa?” Tanya Kayla menghapus air mata Dyra di pipihnya yang sudah basah akibat menangis.


“Papah nggak sayang sama Dyra. Papah cuman sayang sama Dyta. Dyra nggak di ajakin main bola basket sama papah, dia cuman ngajak Dyta main!” tangisan anak itu semakin keras.


Sementara Farel langsung masuk kedalam rumah membawa tasnya, dia tidak bisa bermain dengan Dyta karna anak itu sudah tidak ada lagi.


Sementara Hasya mengusap punggung Dyra.


“Emangnya kamu tau main bola basket?” Tanya Kayla sembari menyelipkan anak rambut anaknya itu.


Mata milik Dyra sudah memerah akibat menangis. Anak itu menggelengkan kelapanya tanda dia tidak tau bermain bola basket.


“Terus ngapain mau main?”


Dyra semakin terisak membuat Kayla langsung memeluk anaknya itu, “Dyra nggak ingat, saat Dyra main sama kak Farel kena bola basket, jidat Dyra merah,” Kayla mengingatkan anaknya itu.


Yah, dia pernah bermain dengan Farel namun tidak sengaja bola basket mengenai jidatnya sehingga dia terjatuh dan menangis sehingga jidatnya merah.


Kayla langsung menggendong Dyra masuk kedalam rumah, sementara tanganya yang sebelah memegang tangan Hasya untuk masuk.


Dyra tertidur dalam pelukan Kayla membuat Kayla langsung membawa anaknya itu ke kamar.


Mungkin karna kelamaan menangis dia sampai tertidur, masih ada isakan kecil keluar dari mulut Dyra.


Kayla melepaskan seragam sekolah anaknya itu, anaknya masih kecil namun caranya berbicara seperti sudah tau segalanya.

__ADS_1


Sudah mengganti baju Dyra, Kayla langsung menelfon Elga.


Drt…


Telfon milik Kayla tidak di dengar oleh Elga, karna dia sibuk memberikan arahan kepada Dyta.


Kayla sangat kesal, karna Elga tidak mengangkat telfonya.


Sementara Rara membantu anaknya membuka baju sekolahnya, “Katanya Dyra nangis, yah Sya,” ucap Rara sembari melepaskan dasi Hasya.


Hasya mengangguk, “iya bun, karna om El nggak ngajakin Dyra main. Dia cuman ngajakin Dyta main basket,” tutur anak itu membuat Rara mengganguk.


“Farel mana?” Tanya Rara setelah memberikan baju ganti untuk Hasya membantu anaknya itu memakai baju.


“Di kamar,” kata Hasya.


“Yaudah, kamu di sini dulu. Bunda mau ke kamar Farel,” kata Rara dan di balas anggukan Kepala oleh Rara.


Rara langsung meninggalkan kamar Hasya, untuk menemui Farel.


“Farel,” panggil Rara.


“Iya mbak,” jawab Farel sembari mengancing bajunya.


“Sini duduk dekat, Mbak,” kata Rara yang sudah sedikit terbiasa dengan Farel memanggilnya dengan sebutan mbak.


“Kamu udah tau kalau Kak Nathan besok udah balik?” Tanya Rara sembari mengusap rambut hitam milik Farel.


Farel menganguk, tanda dia sudah tau jika besok Nathan sudah kembali ke Jakarta.


“Kamu mau tinggal di sini atau ikut kak Nathan?” Tanya Rara.


“Sebenarnya Farel nyaman di sini, main sama Tegar. Ada Hasya dan ada Dyra tukang nangis. Dan ada Dyta yang selalu Farel jahili,” kata Farel sembari mengingat Dyta.


“Farel ikut Abang Nathan, Farel juga kasihan lihat bang Nathan kalau Farel di sini, dia cuman sendiri kalau Farel di sini,” kata anak itu membuat Rara menganguk.


“Entar mbak bicara sama kak Nathan, setiap Sabtu sore kamu ke sini tinggal di sini. Sore minggu baru balik ke apartemen kak Nathan,” kata Rara membuat Farel menganguk tanda setuju.


Tidak terlalu buruk menurut Farel jika dia bermalam seminggu di rumah kakak tertuanya.


“Ayok kita turun makan,” kata Rara.


Rara dan Farel langsung menuruni anak tangga untuk makan siang, dia sudah melihat Haysa di meja makan.


“Loh, kok nggak manggil Dyra, Sya?” Tanya Rara menggeser kursi untuk Farel.

__ADS_1


“Dyra bobok, kata Tante Kayla,” jawab anak itu.


Rara langsung memberikan anaknya makanan dan juga Farel, dia tidak ikutan makan karna masih kenyang dan hanya memantau Farel dan Hasya makan.


“Mbak, apa bisa Farel nyuruh supir buat antar Farel ke tempat Dyta main sama om El,” kata anak itu sembari mengunyah makananya.


“Boleh,” kata Rara. “Nanti mbak tanya supir antarin kamu.”


“Farel mau bawaain curiting bekal, Farel yakin dia belum makan,” kata Farel lagi.


“Kamu makan aja, biar mbak yang nyiapin makanan untuk Dyta,” kata Rara lalu meninggalkan meja makan.


“Hasya, kamu nggak mau ikut main,” kata Farel.


“Hasya mau main masak-masak kalau Dyra udah bangun. Lagian, Hasya nggak suka permainan anak cowok,” kata Hasya menbuat Farel mengedikkan bahunya.


Habis makan, Farel langsung mengambil bekal yang telah di siapkan oleh Rara. Rara langsung menyuruh supir untuk mengantar Farel ke tempat Dyta bermain bola basket.


“Bund, kita jadi kan main masak-masak?” Tanya Hasya.


“Iya sayang, kalau Dyra udah bangun baru kita main masak-masak.” Ucap Rara membuat anknya itu menganguk.


“Sambil nunggu Dyra bangun. Hasya tidur juga,” kata Rara.


“Tapi gimana, kalau Dyra bangun Hasya belum bangun?” Kata anak itu dengan nada lucu.


“Bunda bakalan bangunin kamu,” kata Rara.


Setelah anaknya itu setuju, Rara langsung menggendong Hasya untuk menuju kamar.


Beberapa menit kemudian, Hasya sudah tertidur.


Rara melihat pesan yang di kirim oleh Daniel, apakah Frezan hari ini tidak ke kantor? Pria itu bertanya, Rara yakin jika suaminya itu lupa memberitahukan pada Daniel jika hari ini dia tidak ke kantor.


Rara yakin jika suaminya sedang mencari tahu sesuatu, karna suaminya sudah berjanji jika dia akan menemukan pelakunya sebelum Nathan pulang, sementara besok Nathan sudah kembali ke Jakarta.


Rara langsung membalas pesan Daniel, jika hari Ini Frezan tidak ke kantor karna mengurus sesuatu.


Lepas membalas pesan Daniel, Rara membaringkan tubuhnya di samping Hasya lalu memikirkan bagaiamana jika suaminya gagal? Rara tidak mau jika Elga menghajar Nathan dengan kesalahpahaman ini.


Huft


Rara mengembuskan nafasnya berat sembari menatap langit-langit kamar. Dia harap kecemasannya ini tidak akan terjadi.


Apa lagi Elga sangat keras kepala. Tanpa sadar, Rara juga ikutan tertidur di samping Hasya

__ADS_1


__ADS_2