Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Sekretaris Amora


__ADS_3

Sementara Rifal belum juga bangun dari tidurnya, Rifal tidur di bawah lantai depan Tv. Nando yang sedari tadi membangunkan Rifal yakin jika saat pria itu bangun badanya akan sakit.


Apa lagi semalam Valen tidak membukakan Rifal pintu kamar karna pria itu mabuk, Valen menolak bau alkohol. Nando melirik jam di pergelangan tanganya, dia buru-buru untuk ke kantor karna ingin menyelesaikan pekerjanya yang tertunda selama dua hari ini.


Beginilah Nando, dia jika ke kantor sangat cepat sehingga membuat Rifal menyukai


pria itu. Meski kadang membuat Rifal gregetan ingin memotong gaji pria itu.


"Saya ke kantor duluan bos, banyak pekerjaan yang ingin saya selesaikan," kata Nando mengambil kunci mobilnya lalu mengenakan kacamata hitam membuatnya semakin tampan jika perempuan melihatnya.


Nando langsung melajukan mobilnya menuju kantor, dia tidak peduli apakah Rifal akan berangkat kerja atau tidak karna dia seorang bos. Tidak sama seperti dirinya, jika dia tidak bekerja dia tidak akan mendapatkan uang.


Sekitar sepuluh menit berkendara, akhirnya Nando telah sampai di Kantor. Dia langsung turun dari mobil tanpa membuka kacamatanya, bisa di katakan jika pria itu tebar pesona.


"Pak Nando tampan banget," puji salah satu karyawan. Karyawan tersebut tau jika Nando sangat suka jika dia di puji, apa lagi soal ketampanan.


Nando menyungkirkam senyuman jenakanya kearah karyawan yang sedang bekerja.


Nando tentu saja ingin terbang di puji ganteng, apa lagi kata ganteng keluar dari mulut perempuan.


Nando kembali melanjutkan langkah kakinya untuk menuju lift untuk segera ke ruangannya.


Sampai di ruangannya Nando langsung menyandarkan tubuhnya lalu melepaskan kacamatanya.


"Ngomong-Ngomong gadis gila itu lagi apa yah?" menolog Nando seorang diri sembari mengetuk meja.


"Saya telfon aja, daripada penasaran," kata Nando sembari mengambil handphone bermerek apelnya.


Dia mulai menekan nomor Lea, namun nomor gadis itu tidak aktif.

__ADS_1


"Bocah ingusan itu belum bangun kali," gumam Nando.


Lepas itu Nando kembali menyimpan handphonenya lalu menunggu sekretaris membawa berkas untuk dia selesaikan.


Tok.... Tok.... Tok....


Ruangan milik Nando di ketuk, dia yakin jika yang datang adalah sekretaris Amora pilihannya sendiri. Sebelum menyuruh sekretaris Amora masuk, terlebih dahulu Nando merapikan jasnya serta merapikan rambutnya mengenakan jari-jari miliknya.


"Masuk!" perintah Nando, sehingga sekretaris Amora langsung masuk dengan penampilan sangat menarik membuat Nando tergoda dengan Amora.


Nando sudah tau, jika Amora ini kakak dari Adelia. Dan tentunya Nando sudah tau semuanya dari Valen dan juga Rifal.


Amora mengenakan rok spam berwarna hitam di atas lutut, serta bajunya yang kekurangan bahan membuat Rifal selalu sinis kepada Amora jika wanita itu masuk kedalam ruangannya membawa berkas untuk dia tanda tangani. Lain dengan Nando, dia suka jika wanita berpenampilan seperti Amora, apa lagi perempuan itu mengenakan lipstik merah merona membuat Nando ingin sekali mencium bibirnya.


Seperti biasa, Amora menggeser kursi untuk duduk di depan Nando sembari meletakkan berkas tersebut untuk dia cek, apakah sudah beres apa belum, karna Rifal hanya tinggal bertanda tangan saja, yang memeriksanya adalah Nando.


Nando mengecek hasil kerja Amora, dia tidak salah lagi menerima Amora bekerja di sini sebagai sekretaris karna pekerjaan perempuan itu sangat baik dan rapih. Sudah di katakan bukan, jika Amora sudah berpengalaman.


"Kalau begitu saya pamit," Amora sudah ingin pergi namun Nando angkat bicara.


"Kamu mau kemana?" tanya Nando.


"Bawa berkas ini buat di tanda tangani sama pak Rifal," jawab Amora.


"Bos Rifal belum datang, dia masih bermesraan dengan istrinya jam begini." Bohong Nando, memang Rifal belum bangun namun dia berbohong jika jam begini Rifal sedang bermesraan dengan Valen.


Raut wajah milik Amora berubah, dapat Nando lihat perubahan wajah Amora.


Nando menggelengkan kepalanya, guna menghilangkan pikiranya yang tiba-tiba muncul jika Amora menyukai Rifal, setau Nando Amora tidak suka kepada Rifal karna bosnya itu menyia-nyiakan adiknya, Adel.

__ADS_1


"Kamu tinggal aja dulu, temani saya," goda Nando sembari mengeluarkan jurusnya yang suka menggoda wanita cantik. Jika. bukan wanita cantik mana mau dia .


Amora melirik Nando lalu tersenyum terpaksa. "Saya banyak pekerjaan pak," tolak Amora. "Kalau begitu saya permisi," pamit Amora meninggalkan ruangan Nando membuat Nando tersenyum kecut.


***


Sementara Frezan sudah sarapan bersama dengan Kayla dan juga Elga, sosok ipar yang membuatnya semalaman menyuruh Daniel untuk mencarinya. Sedari tadi Elga menusuk-nusuk daging diatas piringnya sembari menatap tajam kearah Frezan yang tidak di gubris karna pria itu sedang menikmati sarapannya. Jujur saja, Frezan tau jika iparnya itu menatapnya tidak suka.


Elga masih mengingat kata-kata Frezan dan juga Daniel di kantor kemarin. Sehingga daging di atas piringnya dia tusuk dia menganggap jika daging itu adalah Frezan dan juga Daniel.


Frezan melirik Elga yang masih menatapnya dengan tatapan tidak suka. Daging yang sedari tadi Elga tusuk langsung dia masukkan ke dalam mulutnya sembari bertatapan dengan Frezan.


Kayla yang merasa tidak enak sekaligus takut langsung angkat bicara guna mencairkan suasana di meja makan, apa lagi tidak ada Rara di meja makan.


"Kak Eza, Rara nggak ikutan sarapan?" tanya Kayla guna mencairkan suasana di meja makan.


Frezan melirik Kayla. "Dia ke kamar anak-anak dulu," jawab Frezan lalu melanjutkan sarapannya dan dibalas anggukan kepala oleh Kayla.


Kayla melirik Elga lalu melototkan matanya kearah suaminya itu untuk memberikan kode jangan menatap Frezan seperti itu.


Rara sudah melihat anak-anak nya sedang sarapan bubur di suapi oleh bebi sister yang bertugas menjaga anaknya. Setelah menatap anak-anaknya Rara meninggalkan kamar milik anaknya untuk segera sarapan pagi.


Rara tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya jika melihat kedua anaknya akan tumbuh dewasa nanti, apa lagi waktu begitu cepat berlalu.


Rara sudah tidak sabar lagi akan melihat anak-anaknya akan sekolah. Dan tentunya saja, Rara tidak akan menyekolahkan kedua anaknya di SMA garuda, Rara ingin menyekolahkan anaknya di tempat yang berbeda.


Bila waktunya sudah tiba nanti, Rara akan membicarakan ini kepada Frezan, belum waktunya dia mengatakannya kepada Frezan karna usia anknya masih kecil.


Rara berjalan sembari menyungkirkan senyumannya, dia akan mengajak anak sahabatnya untuk sekolah di tempat yang Rara ingin menyekolahkan Hasya dan Tegar jika mereka sudah beranjak dewasa.

__ADS_1


Tapi Rara tidak memaksanya, dia hanya akan memberikan saran kepada sahabatnya agar mereka tetap menjalin hubungan seperti dirinya dan juga sahabatnya.


“Rara udah nggak sabar deh lihat anak-anak Rara tumbuh dewasa,” ucap Rara sembari tertawa kecil mengingat jika anaknya akan tumbuh dewasa nanti.


__ADS_2