
Sekitar dua puluh menit mengendarai mobil, akhirnya Rifal telah sampai disalah satu restoran terbesar di Jakarta.
Rifal memarkirkann mobilnya lalu turun untuk segera masuk kedalam restoran untuk memenuhi kebutuhan Valen.
Rifal tidak mau, jika dimasa ngidamnya Valen ingin sesuatu tidak terpenuhi. Dia tidak mau jika anaknya nanti itu ileran.
Baru saja Rifal dibukakan pintu restoran, suara handponenya langsung berdering memhuat pria itu terlebih dahulu mengangkatnya. Siapa tau saja penting.
Rifal melihat kearah handponenya, dilayar handponenya tertuliskan nama Valen, istrinya.
Tangannya langsung bergerak menekan tombol hijau, dia mengangkatnya siapa tau Valen membutuhkan sesuatu.
"Hal_"
"Beliin aku nasi goreng dipinggir jalan, Fal. Aku nggak mau yah sampai kamu beli di restoran!" suara Valen langsung memekik ditelingnya. Pasalnya Rifal sangat mendekatkan handponenya kedekat telinganya itu, sehingga gendang telinganya akan pecah.
Rifal memejamkan matanya, sepertinya Valen telah sedikit melampaui. Pasalnya dia sudah merelakan dirinya naik mobil sedikit jauh dari rumah agar membelikan Valen nasi goreng yang lezat di restoran tempatnya sering makan dengan rekan kerjanya.
"Aku nggak mau kamu makan-makanan pinggir jalan!" tegas Rifal diseberang telfon membuat Valen yang berada dirumah beranjak dari kursinya mendenger penuturan dari Rifal diseberang telfon.
"Aku maunya nasi goreng dipinggir jalan. Yang pake gerobak, bukan restoran mewah. Titik nggak pake koma!" Valen tak ingin kalah, dia kembali melayangkan perkataannya diseberang telfon membuat Rifal berdesis.
Bagaimana tidak, jika dia telah sampai didepan pintu Restoran, dan Valen menyuruhnya mencari nasi goreng pinggir jalan.
Bahkan kedua satpam yang menjaga pintu masuk sudah siap tadinya membukakan Rifal pintu, namun langkah pria itu terhenti karna handponenya berdering.
Mereka tentunya sudah kenal dengan sosok Rifal, yang selalu datang direstoran mengadakan rapat dengan kliennya, dan selalunya menggunakan ruangan VVIP.
"Aku nggak nurutin permintaan kamu. Aku cuman nurutin permintaan anak aku!" desis Rifal.
Kedua satpam yang melihat wajah Rifal yang seperti sedang jengkel saling bertatapan. Biasanya mereka melihat aura kepemimpinan dalam diri Rifal saat masuk ke restoran serta mimik wajah yang serius. Dan malam ini mereka melihat wajah yang tak pernah dinampakkan oleh Rifal, yaitu wajah yang jengkel berbicara diseberang telfon.
"Permintaan aku, berarti permintaan anak kamu juga, Fal!" Valen menekan setiap perkataannya membuat Rifal diseberang telfon terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Valen yang ada benarnya juga.
Valen menghentakkan kakinya, bisa-bisanya Rifal berpikir tidak sampai kesana.
__ADS_1
"Aku nggak mau yah, anak aku makan-makanan pinggir jalan. Kamu nggak tau apakah makanan itu higienis atau tidak!" Rifal menantang permintaan Valen untuk ingin dibelikan makanan dipinggir jalan.
Dari SMA, Valen sangat menyukai makanan yang bernama nasi goreng. Saat dia makan nasi goreng makananan lainya belum ada yang mengalahkan kezelatan nasi goreng tersebut.
"Makanan pinggir jalan itu, nggak semuanya kotor," ucap Valen diseberang telfon membuat Rifal semakin jengah menghadapi Valen ditelfon.
"Aku nggak bakalan beliin kamu makanan pinggir jalan. Kamu jangan cuman mikir diri kamu sendiri, karna dalam kandungan kamu ada nyawa satu lagi. Aku nggak nyawa tersebut dalam keadaan tidak baik-baik saja, karna kamu makan-makanan tidak higienis!" desis Rifal lalu mematikan handponenya. Jika meladeni Valen akan membuatnya semakin lama disini.
"Halo. Fal!" Valen melirik handponenya, rupanya handponenya telah dimatikan oleh Rifal membuat Valen menghentakkan kakinya.
"Gue nggak bakalan makanan yang kamu bawa dari restoran. Gue maunya makanan pinggir jalan!" jengkel Valen lalu duduk sembari mengusap perutnya yang masih datar.
***
Sedari tadi Rara mondar-mandir didepan pintu kamarnya yang berwarna keemasan. Tak dipungkiri rumah milik Frezan dan juga Rifal bersaing dalam segi kemewahan, rumah mereka berdua bak istana, sehingga seseorang yang akan melihat rumahannya akan takjub.
Ceklek.....
Frezan membuka pintu kamarnya lalu melihat Rara mondar-mandir bak orang gila saja!
"Gimana yah, ngomong sama kak Eza," keluh gadis itu masih mondar-mandir didepan pintu kamarnya dengan gaya berpikir kritis.
"Ngomong apa?" tanya Frezan.
"Ngomong sama suami Rara, kalau bang Elga nggak boleh dijadiin babu."
1
2
3....Dalam hitungan ketiga, Rara langsung berhenti mondar-mandir lalu melihat kedepan pintu dengan mulut sedikit terbuka saking terkejutnya melihat Frezan didepan ambang pintu kamar.
Dia tidak sadar jika suaminya sedari tadi memperhatikan dirinya.
Frezan bersedekap dada sembari menatap Rara membuat gadis itu cengengesan kearah Frezan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
__ADS_1
"Sa-yang," Rara memanggil nama suaminya itu dengan senyuman canggung.
"Kenapa nggak masuk?" tanya Frezan santai kepada istrinya itu.
"Baru aja tadi mau masuk, tapi sayang udah bukain pintu," elak gadis itu membuat Frezan mengangguk kecil.
Cara Frezan Mencintai dan menyangi istrinya berbeda dari yang lain.
"Apa ada yang mau kamu bilang?" tanya Frezan sehingga Rara mendonggakkan kepalanya melihat suaminya itu yang tingginya tidak sepadan denganya.
Mata mereka berdua saling bertatapan, meski sudah bertahun-tahun menjadi suami Frezan, Rara belum juga bisa menebak sepenuhnya sikap suaminya itu.
Yang jelasnya dia tau, jika suaminya itu menyayangi dirinya lebih dari apapun.
"Em....Aku mau bilang. Bisa 'kan bang Elga jadi tangan kanan kamu?" tanya Rara sedikit ragu-ragu membuat Frezan menarik nafasnya panjang.
"Pekerjaan tetap pekerjaan. Lagian kamu kan sudah tau. Aku sudah punya tangan kanan semenjak aku menjadi CEO diperusahaan," kata Frezan. "Aku sama dia sudah bekerja sama, tidak ada alasan menurunkan jabatannya yang bekerja dengan sangat baik," sambungnya membuat Rara menunduk lesuh.
Frezan membalikan badannya lalu berjalan masuk kedalam kamar diikuti oleh Rara.
"Sayang." Rara memangil Frezan sehingga langkah kaki pria itu terhenti.
Dia membalikkan badannya lalu menatap Rara yang menatapnya penuh dengan harapan. "Tapi jangan jadiin bang Elga babu, yah?" pintanya membuat Frezan menyeritkan alisnya sebelah yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rara saat ini.
Babu? Babu apa maksud Rara?
"Abangnya Rara jangan dijadiin OB yah, di perusahan kamu," kata Rara dengan mata berkaca-kaca.
Dia mengusap air matanya, dia tidak mau menangis didepan Frezan. Karna dia sudah mengatakan pada dirinya sendiri jika dia wanita tangguh.
Sungguh Rara tidak rela jika kembaranya itu bekerja sebagai OB diperusahaan suaminya sendiri.
"Rara nggak mau lihat kembaran Rara jadi capek jadi OB," lanjutnya membuat Frezan menarik nafasnya panjang.
"Nggak ada pekerjaan yang santai, semua pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Kata capek memang pas buat pekerja," kata Frezan membuat Rara semakin meneteskan air matanya.
__ADS_1
Sepertinya Frezan akan benar-benar akan menjadikan saudaranya itu OB.