
Valen langsung membantu Rifal baring di dalam kamar. “Wangi kamarnya yang ganti siapa?” Tanya Rifal, karna wangi di kamarnya berbeda dari biasanya.
Dia sangat tau bagaiamana wangi kamarnya, namun kali ini berbeda. Atau karna dia selama ini tidur satu minggu lamanya sehingga perasaannya tidak stabil?
“Aku,” jawab Valen.
“Aku mau sandar, Va,” kata Rifal.
Valen meletakkan bantal di belakang agar nyaman untuk Rifal. Rifal sudah bersandar di sandaran kamar lalu kemudian menarik nafasnya panjang.
Beginikah rasanya buta? Sangat susah untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain.
“Kenapa kamu ganti?” Tanya Rifal dengan santai. Dia juga penasaran mengapa Valen mengganti wangi kamarnya.
“Aku suka wanginya, anak kita juga suka,” kata Valen sembari tertawa membuat Rifal menyungkirkan senyuman tipisnya.
“Anak kita yang suka atau kamu, Va?” Goda Rifal membuat Valen semakin tertawa.
Valen baring di samping Rifal dengan posisi Rifal menyandarkan tubuhnya, dia memeluk tubuh Rifal lalu Rifal merabah rambut Valen lalu mengusapnya dengan penuh kasih sayang.
“Aku yang suka wanginya, tapi mungkin ini bawaan bayi,” kata Valen sembari mengusap perut Rifal membuat Rifal merasakan hawa yang menbuatnya ingin menerkam Valen saat ini.
Namun dia sadar, kondisinya saat ini tidak memungkinkan dia menguasai tubuh Valen.
“Kamu nggak suka wanginya?” Tanya Valen mendongakkan kepalanya melihat kearah Rifal.
“Suka,” jawab Rifal. “Apapun yang kamu lakukan aku suka,” kata Rifal sembari tersenyum tipis membuat Valen memeluk erat Rifal.
“Makasih,” tulus Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.
Dengan kondisinya seperti ini membuat Rifal harus banyak istirahat, jujur saja dia sangat kesusahan namun dia tidak boleh menampakkan kesedihannya kepada Valen.
Dia harus banyak bersabar sampai ada pendonor mata yang cocok untuk dirinya.
“Fal, kamu kenapa?” Tanya Valen yang melihat Rifal seperti memikirkan sesuatu.
Valen bangun lalu duduk di samping Rifal. “Kamu mikirin apa? Coba cerita sama aku,” kata Valen dengan penuh kelembutan sembari menggenggam tangan kekar milik Rifal.
Rifal menarik nafasnya panjang.”Carikan saja aku perawat untuk mengurus aku,” kata Rifal membuat Valen langsung menggelengkan kepalanya.
“Nggak,” kilah Valen dengan cepat.
“Aku yang urus kamu sampai kamu bisa melihat kembali,” kata Valen dengan serius.
“Aku tidak mau kamu kecapean,” kata Rifal mengusap tangan lembut Valen.
“Ini udah kewajiban aku buat ngurus kamu Fal, aku ingin berbakti sama kamu, jadi istri yang bertanggung jawab,” kata Valen dengan tulus, “aku akan menemani kamu dalam keadaan apapun,” lanjutnya membuat Rifal tersenyum hangat.
__ADS_1
“Makasih,” kata Rifal.
“Setelah pengobatan Adelia sembuh, aku akan berhenti menjadi seorang dokter, dan fokus ngurus semua kebutuhan kamu,” kata Valen lagi.
“Sini peluk,” kata Rifal lalu Valen langsung memeluk Rifal dengan penuh kasih sayang.
“Keningnya mana?” Tawa Rifal lalu Valen mengambil tangan Rifal menunjukkan keningnya.
“Ini,” kata Valen setelah menuntun Tangan Rifal.
Rifal terkekeh dengan sikap Valen.
Cup
Rifal langsung mencium kening Valen dengan penuh kasih sayang.
“ I love you Valensia,” kata Rifal dengan lembut sembari melepaskan ciumannya dari kening Valen.
Valen tersenyum hangat, kata-kata manis Rifal seminggu yang lalu sebelum dia kecelakaan membuat Valen kembali salah tingkah dengan perkataan Valen.
“I love you, Valensia,” kata Rifal lagi, kali ini suaranya sedikit berubah menjadi datar membuat Valen tertawa renyah.
Pasti Rifal menunggu balasannya. Sehingga pria itu mengulangi perktaaanya.
“I love you more, Asrifal,” bisik Valen di telinganya Rifal membuat telinganya Rifal meremang.
“Hehehe, aku bisa nuntun kamu kok kalau mau,” kali ini Valen yang menggoda Rifal.
“Oh….Kamu mulai bisa yah menggoda aku,” ejek Rifal membuat Valen tertawa lagi.
“Kenapa tidak? Dengan kondisi kamu kayak gini, aku bisa nuntun kamu,” kata Valen lagi membuat Rifal menyungkirkan senyuman tipisnya.
“Tidak perlu,” kata Rifal, “aku tidak mau di tuntun soal seperti ini sama perempuan,” sombong Rifal.
“Oh ya,” kaget Valen membuat Rifal berdecih.
“Valen,” geram Rifal karna Valen mulai menyentuh daun telinganya seperti seorang penggoda saja.
Rifal memejamkan matanya karna tangan nakal Valen mulai menyelusuri tubuhnya.
“Hentikan, Va,” kata Rifal.
“Heheheh, kenapa? Kamu suka? Serius nggak mau aku tuntun?” Songong Valen, dia mengusap perut sixpack Rifal membuat pria itu mengerang.
Andaikan saja kondisinya tidak seperti ini, sudah sedari tadi dia menerkam Valen.
“Tunggu aku sampai bisa melihat kembali, Va,” kata Rifal dengan santai setelah tangan nakal Valen sudah tidak menelusuri tubuhnya.
__ADS_1
“Aku akan membuat kamu tidak bisa tidur selama satu malam, dan aku pastikan cara berjalan kamu tidak normal,” kata Rifal membuat Valen langsung meneguk salivanya susah payah.
“Kenapa kamu diam? Dalam kondisi buta aku saja bisa mengetahui letak tubuh mu, apa lagi jika aku sudah kembali normal.”
“Maka dari itu, kamu persiapkan diri kamu,” lanjutnya sembari merangkul Valen.
“Siap atau tidak? Katanya mau jadi istri yang berbakti sama suami,” kata Rifal lagi.
“Iya,” jawabnya gelagapan membuat Rifal tertawa keras.
Sekarang dia yang menggoda Valen, membuat perempuan itu menjadi kicep.
Malam hari pun tiba, dimana Valen tengah berkutat di dapur membuatkan Rifal nasi goreng sesuai janjinya saat di rumah sakit.
Setelah nasi goreng buatanya sudah masak, dia menyajikannya di atas piring. Dia membuatkan Rifal susu lalu membawa nampan berisi nasi goreng dan susu.
Ceklek
Valen membuka pintu kamar, dia melihat Rifal sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran kamar.
“Minum obat dulu, baru makan,” kata Valen.
Valen membuka obat yang diberikan dokter Hamka. Dia menuntun Rifal meminum obat.
“Aku udah tepatin janji aku, buatin kamu nasi goreng,” kata Valen. “Sekarang kamu makan yah,” lanjutnya sembari menyuap Rifal.
“Aku minta maaf, Va. Aku merepotkan mu sejauh ini,” kata Rifal sembari mengunyah makanan yang di berikan oleh Rifal.
“Tidak sama sekali,” kata Valen. “Aku bahagia bisa mengurus suami aku sendiri,” kata Valen.
Dia juga makan nasi goreng buatanya, karna dia belum makan sedari tadi siang. “Gimana rasanya?”
“Seperti biasa, selalu enak,” kata Rifal menbuat Valen tersenyum.
“Minum dulu,” kata Valen.
“Susunya enak, lebih enak lagi kal-“ perkataan Rifal langsung di potong oleh Valen, karna dia sudah tau apa otak Rifal.
“Jangan di terusin,” kata Valen membuat Rifal terkekeh.
“Kenapa?”
“Aku malu.”
“Aku kan nggak melihat, ngapain malu?”
“Makan dulu, jangan banyak bicara,” ucap Valen menyuapi Rifal kembali nasi goreng.
__ADS_1
Valen tersenyum lembut melihat Rifal tidak terpuruk seperti apa yang dia pikirkan. Valen harap ada pendonor mata untuk Rifal secepatnya.