
Makan malam telah tersedia, ada berbagai macam makanan telah terhidang, mulai dari kepiting, ikan, telur, sosis, daging sapi dan daging ayam. Ada Mie pangsit, soto modern, dan lauk-lauk lainya.
Frezan tidak memesan udang, karna dia tau, putranya itu alergi udang.
“Ayok makan,” kata Frezan lalu mereka memakan makanan yang tersaji diatas meja.
Tegar mengambil ayam gulai dan juga soto lalu mengambil lauk lainya. Sementara Farel hanya memakan sosis dengan coto.
Farel sangat suka makanan sosis.
Mereka bertiga makan dengan khidmat. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Frezan sengaja mengajak Farel makan malam karna besok adiknya itu sudah akan pulang.
Sekira tiga puluh menit makan, akhirnya mereka telah usai makan. Pelayan restoran membersihkan meja makan lalu menghidangkan Cake untuk pencuci mulut.
Mereka bertiga kembali memakan cake sebagai menu penutup. Beda dengan Farel, dia malah memakan semangka ketimbang makan cake.
“Gimana makananya?” Tanya Frezan setelah mereka bertiga slesai makan cake.
“Enak,” jawab kompak anak itu membuat Frezan menarik sudut bibirnya berbentuk senyum.
“Mau kemana lagi?” Tanya Frezan.
“Yah, gimana kalau kita ke pasar malam, di sana banyak banget permainan,” saran Tegar.
“Dimana?” Tanya Frezan.
“Dekat sekolah, Tegar,” kata Tegar dan dibalas anggukan kepala oleh Farel, dia baru ingat jika malam ini ada pasar malam dekat sekolah mereka.
“Ayah Telfon bunda dulu, buat ajak Hasya, Dyra sama Dyta,” kata Frezan sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.
Pukul tujuh malam.
Drt…
Rara yang sedang menonton televisi di kagetkan dengan suara ponselnya, terterah mama di layar ponselnya my husband tak lain dan tak bukan adalah Frezan.
“Halo,” sapa Rara.
“Kamu sama anak-anak siap-siap, malam ini kita ke pasar malam,” kata Frezan di seberang Telfon membuat Rara langsung berdiri dari tempat duduknya.
“Beneran?”
“Iya, kamu siap-siap sekarang. Keburu tengah malam. Aku udah suruh supir buat antar kalian. Aku tunggu di tempat pasar malam,” kata Frezan.
“Ok, aku siap-siap dulu.”
Percakapan suami istri itu langsung berakhir. Rara langsung memberitahukan Kayla dan juga Elga. Entah mengapa Elga mau-mau saja ikut ke pasar malam.
Anak-anak mereka telah siap, mereka semua langsung naik mobil di antar oleh supir. Sekitar sepuluh menit, akhirnya mereka telah sampai.
Mereka langsung turun dari mobil dan sudah melihat Tegar dan Farel melambaikan tanganya kearah mereka.
__ADS_1
Ini momen yang langkah, ini pertama kalinya Frezan mengajak mereka ke pasar malam. Entah apa yang merasuki pria itu sehingga megajak mereka ke pasar malam.
“Aku udah beli tiketnya, Ayok masuk,” kata Frezan. Frezan menggendong Hasya karna pasar malam begitu ramai.
Sementara Dyta di gendong oleh Elga, dan Dyra di gendong oleh Kayla. Sementara Rara menggandeng tangan Farel dan juga Tegar.
“Kalian mau naik permainan apa?” Tanya Frezan.
“Rumah hantu.”
“Komedi putar.”
“Bianglala.”
Tegar ingin menaiki bianglala, sementara Dyta ingin kerumah hantu. Sementara Dyra dan Hasya bersamaan ingin menaiki komedi putar.
“Ayah, kita naik komedi putar yah, lucu,” kata Hasya memegang pipi Frezan.
“Dyra mau permainan apa?” Tanya Frezan.
“Dyra mau kayak Hasya, naik komedi putar.” Jawab anak itu dalam Gendongan Kayla.
“Yasudah, Dyra sama Hasya dalam pengawasan saya,” kata Frezan. Entah mengapa Frezan tidak mempermasalahkannya.
“Kalau Farel mau permainan apa?” Tanya Rara, karna anak itu tidak menyahut ingin menaiki apa.
“Sama kayak curiting aja, rumah hantu,” jawab Farel membuat Dyta dalam gendongan Elga menatap Farel kesal.
“Ok, Dyta sama Farel ikut gue di rumah hantu,” kata Elga lalu menarik tangan Farel menuju rumah hantu.
“Bang El, jaga mereka baik-baik!” Teriak Rara.
“Iya Ra!”
“Tegar mau naik bianglala kan?” Tanya Rara.
“Iya bun,” jawabnya.
“Bunda temenin,” kata Rara.
“Gue juga ikut,” kata Kayla.
Lalu mereka menuju tempat yang di inginkan, Frezan membantu Hasya dan juga Dyra naik di komedi putar dengan di bantu penjaga komedi putar menjaga anak-anak mereka.
“Ayah nggak mau naik?” Tanya Hasya.
“Kalian berdua aja, ada yang ayah urus di ponsel ayah,” kata Frezan sembari membalas pesan masuk ke ponselnya.
Frezan yang membaca pesan dari Daniel langsung merabah raut wajahnya menjadi datar. Bagaimana tidak, Frezan yang menyuruh Daniel untuk mencari foto seseorang yang sudah tau siapa mencelaki Rifal.
Dan saat Daniel mengirimkannya foto, membuatnya menjadi geram.
__ADS_1
“Tidak tau diri!” Geram Frezan lalu memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Dia sudah tau siapa pelaku yang merencanakan kecelakaan Rifal.
Setidaknya Frezan menepati perkatanya, jika dia akan menemukan pelaku sesungguhnya sebelum Nathan kembali ke Jakarta.
Dan pelakunya sudah dia dapat. Pulang nanti Frezan akan mengatakan pada Rara dan menyuruh Elga minta maaf kepada Nathan karna sudah memfitnah Nathan.
Frezan membalikkan badanya guna melihat kedua anak kecil itu sedang menaiki komedi putar sembari tertawa terbahak-bahak. Frezan mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar Hasya dan juga Dyra.
Dia juga memvideo Hasya dan Dyra tertawa diatas komedi putar.
“Kejar Aku, Ra!” Kata Hasya yang dimana Dyra berada di belangnya.
“Nggak bisa, karna kamu naik duluan!” Teriak anak itu.
“Tolong di berhentikan,” kata Frezan karna dia takut jika kepala kedua anak itu akan pusing jika terlalu lama berputar.
Mereka berdua langsung di turunkan oleh pemilik komedi putar.
“Sini, ayan foto kalian berdua!” Instruksi Frezan lalu mereka berdua langsung berfoto.
Mereka berpelukan erat sembari tertawa dengan Frezan menjepret berbagai gambar Hasya dan Dyra.
“Kita beli permen kapas, Yah,” kata Hasya menarik baju Frezan.
“Ayok kita cari,” kata Frezan lalu menggendong kedua anak itu. Untung saja dia pria sehingga dia tidak terlalu merasakan sakit akibat menggendong dua anak kecil.
Frezan menurunkan kedua anak itu saat sudah tiba di depan penjual permen kapas.
“Hasya mau rasa apa?“ tanya Frezan.
“Hasya mau rasa stroberi,” kata Hasya menunjuk permen karet yang bergantungan dengan cantik.
“Kalau Dyra mau rasa apa?” Tanya Frezan.
“Dyra mau kayak Hasya, rasa stroberi,” kata anak itu.
“Permen kapasnya dua, rasa Storeberi.”
“Baik pak,” penjual permen karet tersebut langsung memberikan gula-gula kapas rasa storeberi kepada Hasya dan juga Dyra.
“Berapa?” Tanya Frezan mengambil uang dari dompetnya.
“20 pak.”
Frezan memberikan uang lima puluh.”Lebihnya ambil saja.”
“Makasih pak.”
“Sama-sama.”
Frezan kembali menggendong Hasya dan Dyra. Anak itu menenteng permen kapas membuatnya semakin lucu di pandang.
__ADS_1