
Sedari kemarin Rara membujuk Frezan untuk menghubungi Reta, namun pria itu masih kekeh dengan pendirinya.
Seperti sekarang ini, Rara sedang membujuk Frezan yang sedang berkutat dengan laptopnya.
"Ini semua demi, Farel," kata Rara namun tidak digubris oleh suaminya. Frezan fokus dengan layar laptopnya memeriksakan dokumen yang masuk sembari mendengarkan istrinya yang sedari tadi membujuknya untuk menghubungi Reta.
"Ayolah, kak Eza," rayu Rara sembari memegang lengan Frezan mesrah.
"Aku nggak bisa, Ra," kata Frezan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
"Kalau gitu, Rara nggak mau tidur sama kak Eza," ancam Rara membuat pergerakan tangan Frezan yang mengetik terhenti. Sungguh ancaman Rara membuat Frezan menjadi bimbang.
Rara tersenyum samar, karna rupanya Frezan telah masuk kedalam perangkapnya.
"Gimana?" tanya gadis itu sedikit angkuh. Padahal, tadi dia berbicara lembut dan merayu Frezan.
Frezan melirik Rara yang pura-pura membersihkan kukunya.
Frezan menarik nafasnya panjang, dia tidak bisa jika harus pisah kamar dengan Rara. Dia tidak bisa tidur jika tidak memeluk Rara .
"Cium dulu," kata Frezan membuat senyum Rara mengambang seketika.
Cup
Satu kecupan mendarat dibibir Frezan. Rara membulatkan matanya karna Frezan telah bermain dengan bibirnya. Rara ingin memberontak namun Frezan memegang erat tengkuk lehernya.
Rara memukul dadah bidang Frezan, karna dia ingin kehabisan nafas. Frezan melepaskan ciumannya sembari mengambil handphonenya begitu santai. Seakan-akan yang dia lakukan kepada Rara hanyalah angin lewat.
Frezan langsung saja mengubungi nomor Reta.
Rara menunggu Frezan berbicara di handphone, karna cowok itu masih diam. Belum mengeluarkan suara.
"Kenapa?" tanya Rara saat Frezan meliriknya.
"Nomor Reta nggak Aktif," jawab Frezan membuat Rara terdiam. Bagaimana bisa dia mengubungi Reta lagi jika nomor perempuan itu sudah tidak aktif? Bagaimana dengan Farel?
"Aku 'kan udah bilang, Reta nggak bakalan ngurus Farel lagi karna dia udah nikah," kata Frezan kepada Rara yang masih terdiam.
"Tap-" perkataan Rara langsung terhenti karna Frezan meletakkan jari telunjuknya dibibirnya.
__ADS_1
"Kita yang bakalan ngurus Farel sampai dia dewasa," kata Frezan kepada Rara.
"Tapi gimana dengan Farel? Dia cuman dipaksa makan karna Reta nggak hubungin dia," kata Rara membuat Frezan membawa Rara kedalam dekapannya.
"Farel bakalan biasa, tanpa Reta."
***
Obat yang diberikan Nathan kemarin sepertinya bekerja dengan baik, karna pagi ini Valen tidak selemas kemarin.
Valen tersenyum samar, hal yang pertama dia lihat saat dia membuka matanya adalah wajah Tampan Rifal. Rifal memeluknya begitu erat .
Wajah Rifal seakan-akan candu untuknya saat ini juga.
Valen bangun dari tempat tidurnya, karna malam tadi dia tidur dikamar Rifal, apa lagi cowot itu semalam mabuk berat.
Valen masuk kedalam kamar mandi, untuk segera mencuci muka menyikat gigi untuk segera bangun membuatkan Rifal sarapan pagi ini, sebelum dia ke kantor.
Valen menuruni anak tangga, dia sudah melihat art dirumahnya sudah berkutat di dapur membuat makanan.
"Pagi non Valen," sapa sang bibi sembari menggoreng ayam.
Rifal membuka matanya, dia sudah tidak melihat Valen dikamarnya. Dia menyibakkan selimutnya untuk segera mandi untuk kekantor pagi ini.
Setelah mandi, Rifal menggunakan setelah jasnya. Saat dia ingin memakai dasi dia mengingat Valen. Setelah sekian lama terfikir baru kali ini dia ingin memangil Valen.
"Valen!" panggil Rifal dari lantai atas.
Seketika pergerakan tangan Valen terhenti, mendenger teriakan Rifal nampak samar namun jelas.
"Biar saya yang menyiapkannya, non," kata bibi kepada Valen. Karna nasi goreng yang dibuat Valen sudah matang sisa ingin siapakan diatas piring.
Valen mengangguk mengiyakan ucapan sang bibi, dia mencuci tangannya untuk segera keatas.
Ceklek
Valen membuka pintu kamar mandi, dia sudah melihat Rifal dengan setelan jasnya siap untuk ke kantor. Valen menutup kembali pintu kamar Rifal.
"Kenapa?" tanya Valen menghampiri Rifal. Tidak biasanya Rifal ingin kekantor memanggilnya.
__ADS_1
Rifal menatap Valen, wajahnya sudah tidak seperti kemarin, pucat, lesuh. Dia melihat Valen dari ujung perempuan itu masih menggunakan baju semalam. Apa dia tidak kerja?
Valen melirik dasi masih berada ditangan Rifal, biasanya pria itu sudah rapi, tapi sekarang dia belum mengenakan dasi untuk ke kantor.
"Pakein gue dasi," kata Rifal membuat Valen terdiam mendengar penuturan pria itu.
Valen masih mencernah apa yang diucapkan oleh Rifal tadi. Jujur saja, ini pertama kalinya Rifal menyuruhnya untuk memasangkan dasi selama mereka menikah.
Rifal langsung mengambil tangan Valen langsung memberikan dasinya kepada Valen. Karna dia hanya diam saja tanpa menolak atau mengiyakan permintaan Rifal.
"Pakein," kata Rifal menghadap kearah Valen dengan jarak mereka sangatlah dekat. Valen mendonggakkan kepalanya karna Rifal terlalu tinggi atau dianya yang kependekan.
Mata mereka bertemu dengan jarak yang sangatlah dekat. Tentu saja Valen melirik kearah kanannya untuk menghindari tatapan mata dari Rifal pada pagi hari ini.
"Gue buru-buru. Pakein cepat," kata Rifal lagi dengan tegas kepada Valen karna dia tidak bergerak memasang dasi untuk Rifal.
Dengan gugup Valen mendekat ke arah Rifal memakaikan pria itu dasi. Tentu saja Valen berjinjit karna tingginya dengan Rifal tidak sama.
Rifal sedikit tunduk agar Valen tidak kesusahan memasangkan dirinya dasi. Bahkan, jantung Valen berdetak lebih kencang pagi ini karna jaraknya dengan Rifal sangatlah dekat. Bahkan hembusan nafas Rifal dapat dirasakan oleh Valensia.
Mata mereka berdua terkunci, mereka berdua saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat semakin membuat Valen tak karuan, ditatap begitu dalam oleh Rifal pagi ini.
"Udah," kata Valen gugup kepada Rifal dengan mata mereka berdua masih saling bertatapan.
"Udah apa?" tanya Rifal pura-pura tidak tau dengan menaikkan satu alisnya membuat Valen meneguk salivanya susah payah.
Penampilan Rifal pagi ini sangatlah perfect, bahkan ini pertama kalinya Valen memasangkan Rifal dasi selama dia menikah.
"Dasi lo udah gue pasang," kata Valen lalu mengambil handuk yang dipakai Rifal tadi yang dia simpan diatas kasurnya, membuat mata tidak enak memandang objek tersebut.
"Lain kali, kalau udah mandi jangan lupa handuknya dijemur," kata Valen sedikit jengkel mengambil handuk itu.
Rifal menyeritkan alisnya, tidak biasanya Valen seperti ini. Bahkan, Rifal juga pertama kalinya menyimpan handuknya diatas kasur karna dia belum sempat menjemurnya.
Rifal tersenyum tipis. Mungkin saja hal itu akan dia jadikan menjadi rutinitasnya setiap pagi.
Rifal melihat penampilannya didepan cermin, lagi dan lagi pria itu tersenyum samar melihat dirinya dicermin. Bahkan, dasi yang dipasang oleh Valen jauh lebih rapih, dan membuatnya merasakan perbedaan.
Valen keluar dari kamar Rifal, untuk segera turun sarapan.
__ADS_1