Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Memikirkan Lea


__ADS_3

Nathan belum mengucapkan sepatah katapun hingga saat ini. Bibirnya sangat susah untuk membalas perkataan Lea.


Gadis ini, benar-benar membuat bibir Nathan seperti sudah di lakban, tidak mampu berkata-kata lagi.


''Dokter Nathan nggak usah mikirin Lea, kok, hehe,'' ucap gadis itu seraya menahan air matanya agar tidak jatuh kembali.


‘’Tapi emang kenyataannya, sih. Kalau dokter Nathan nggak mikir.'' Lea berusaha menjadi seperti biasa, gadis cenggengesan.


Namun, di mata Nathan kali ini berbeda. Karna senyuman gadis itu palsu.


''Ini juga air mata, turun tanpa bisa Lea kendalikan,'' ucapnya dengan suara serak.


Lea menatap manik mata Nathan, yang tak kunjung mengucapkan kata-kata apapun.


‘’Dokter Nathan, lanjut aja. Lea udah mau turun ke bawa. Hati Lea udah legah meskipun belum teriak seperti yang dokter Nathan lakukan tadi,'' pamit gadis itu kepada Nathan.


Lea berjalan meninggalkan Nathan, hingga panggilan dari Nathan membuat langkah kakinya terhenti.


‘’Lea,'' panggil Nathan dengan suara pelan.


Setelah sekian lama hanya diam, akhirnya Nathan mengeluarkan suara. Meski hanya memanggil nama Lea.


Lea berhenti, namun tidak membalikkan badanya kearah Nathan.


Derap langkah kaki Nathan berjalan kearah Lea. Nathan menghadap kearah Lea sehingga mereka berdua kembali beradu mata.


Bisa Nathan lihat, di pelupuk mata Lea sudah buram karna air mata yang tertampung. Dia berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh lagi di hadapan dokter Nathan.


‘’Terimakasih sudah menyadarkan saya,'' ucap Nathan dengan suara pelan, di sertai dengan senyuman tipis kearah Lea.


Lea mengangguk kakuh, mengiyakan ucapan dokter di hadapanya.


''Dan maafkan saya, tidak bisa membalas perasaan mu.''


''Tidak apa-_apa.'' Air mata Lea sudah tidak bisa dia tahan agar tetap stay. Karna Baru saja Nathan mengucapkan kata maaf air matanya langsung turun begitu saja.


‘’Apa Lea bisa meluk dokter Nathan, untuk terakhir kalinya?'' tanya Lea dengan penuh harap.


Nathan mengangguk mengiyakan ucapan Lea.


''Hiks…sebenarnya Lea nggak mau nyerah sama perasaan Lea ke dokter Nathan. Tapi Lea takut jika perasaan ini selalu di biarkan, dan membuat Lea nekad suatu saat nanti!'' tangisnya langsung pecah dalam pelukan Nathan.


Nathan mengusap punggung Lea, air matanya juga turun mendengar apa yang di katakan oleh Lea.


''Hiks....Lea pantasnya jadi adik Dokter Nathan. Bukan beransumsi untuk memilik dokter Nathan, hikssss!!''


Lea melepaskan pelukanya dari dokter Nathan. ‘’Semogah aja dokter Nathan bisa dapat perempuan, yang cintanya lebih besar dari Lea,'' ucap Lea kembali mengusap matanya.


''Jujur aja, Lea berat banget buat lupain dan mundur gitu aja. Tapi Lea nggak mau terjebak seperti ini.''

__ADS_1


‘’Untuk melupakan dokter Nathan, Lea nggak mau ketemu dokter Nathan lagi. Bukan karna benci, tapi takut jika rencana mundur Lea batal, karna bertemu dokter Nathan,'' curhatnya.


''Tap-''


''Lea pamit, jaga diri dokter Nathan baik-baik,'' pamit gadis itu tanpa membiarkan Nathan meneruskan perkataanya.


Nathan hanya bisa menatap punggung Lea yang sudah menjauh meninggalkan dirinya diatas roftop sendiri.


Hati Nathan semakin kacau dengan kehadiran Lea tadi, mampu membuat beban pikiran Nathan semakin bertambah.


‘’Lea,'' gumam Nathan mengacak rambutnya sendiri.


Lea sudah turun dari roftop, dia berusaha baik-baik saja meski itu semua tidak bisa terlihat baik-baik saja.


''Kakak cantik kenapa nangis?'' tanya Agrif saat melihat Lea masuk kedalam ruanga papahnya dengan mata memerah.


‘’Kakak cuman butuh istirahta,'' ucap Lea lalu duduk diatas sofa.


Dia membaringkan tubuhnya diatas sofa, lalu mengambil bantal sofa untuk menutupi wajahnya.


Terdengar isakan kecil dari mulut Lea, membuat Agrif langsung memeluk Lea dengan erat.


''Kakak cantik nggak boleh nangis, kakak cantik sendirikan yang nyuruh Agrif supaya nggak cengeng.''


Jleb...


Lea semakin terisak mendengar ucapan Agrif. Seharusnya dia tidak menangis di sini karna adanya Agrif.


Agrif semakin mengeratkan pelukanya untuk Lea, dia belum melepaskan pelukanya karna dia tau saat ini Lea sedang menangis.


***


Sementara Frezan berada di ruangan kerjanya. Dia memikirkan kejadian tadi, dimana dia tidak sengaja melihat adiknya berpelukan dengan gadis yang bukan tipe Nathan, adiknya sendiri yang mengatakan jika Lea bukan tipenya.


Tapi mengapa tadi, Frezan melihat adiknya itu memeluk Lea.


‘’Memakan omongan sendiri,'' gumam Frezan mengambil ponselnya untuk menghubungi Nathan.


Dia mengirimkan pesan kepada Nathan, untuk singgah ke rumahnya saat dia pulang rumah sakit.


‘’Pulang dari rumah sakit, singgah ke rumah. Ada yang ingin saya bicarakan.''


Nathan membaca pesan dari Frezan.


Saat ini, Nathan sudah berada dalam ruanganya menyandarkan kepalanya di kursi.


Dia masih memikirkan kejadian di atas roftop tadi.


Apa lagi mengatakan sudah tidak ingin melihat dirinya, karna gadis itu takut jika rencananya ingin melupakan dirinya menjadi gagal.

__ADS_1


Dengan wajah lesuh, Nathan membalas pesan dari Frezan. Tumben-temenan saja Frezan menyuruhnya singgah.


''Aku tidak bisa, pulang dari rumah sakit, aku ingin istirahat.''


Frezan membaca pesan dari Nathan, lalu kemudian membalas pesan Nathan.


''Apa karna kau letih berpelukan dengan Lea?''


Ting


Nathan langsung terdiam saat membaca pesan dari Frezan.


Bagaiamana Frezan tau?


''Kamu tidak perlu beratnya-tanya dimana aku melihat mu. Yang jelas, aku melihat dengan sendirinya.''


Pesan dari Frezan masuk kembali, membuat mood Nathan semakin kacau saat ini.


‘’Makan omongan sendiri kan, emang enak?''


Tidak sampai di situ, Frezan kembali mengirimkan Nathan pesan membuat Nathan semakin ngenes saat ini.


Sudah tidak ada sosok gadis 19 tahun yang akan mengejarnya. Sudah tidak akan ada gadis yang cenggengesan kepadanya.


Melihat pembawaan Lea saat bicara tadi, sangat dewasa. Membuat Nathan mengingat perkataan Frezan.


Jangan sampai menyesal!


Kata-kata itu terngiang-ngiang dalam benak Nathan. Dia tidak ingin, penyesalan ini kembali pada dirinya.


Rara, Tasya dan Valen. Cukup ketiga nama itu saja membuat Nathan sampai sekarang belum menikah. Sungguh dia tidak ingin, jika nama Lea masuk ke dalam List hidupnya.


''Eza!''


Tok...Tok...Tokkk


Bersamaan dengan itu, seseorang mengetuk pintu ruanganya. Rasanya, Nathan tidak ingin di ganggu saat ini.


Dia membiarkan seseorang mengetuk pintu ruanganya. Dia melangkahkan kakinya menuju ruangan kecil tempatnya tidur.


Dia ingin tidur!


Melepaskan beban yang ada dalam pikirnya. Pikirnya di penuhi dengan nama Valen dan juga Lea.


Dia mengkhawatirkan kondisi Valen yang belum juga ketemu hingga saat ini.


Dan tentunya memikirkan setiap perkataan Lea di roftop tadi.


''Anak itu, membuatku tambah banyak pikiran saja!'' kesal Nathan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sederhana.

__ADS_1


Matanya terpejam, lalu tidak butuh waktu lama dia tertidur dengan suara deruh nafas yang tenang.


''Lea,'' gumam Nathan dalam mata terpejam.


__ADS_2