
Tidak salah lagi, jika yang dimaksud anak kecil dihadapannya ini adalah dokter Valen, istri dari Rifal.
Untung saja Rifal tidak ada disini, sehingga dia tidak mendengar perkataan anak kecil ini. Kalau ada mungkin saja kepulan asap berkumpul diatas kepala milik Rifal.
"Dokter Valen udah punya suami. Om Rifal namanya," kata Lea tidak suka kepada Farel. Bagaimana bisa anak kecil itu mengatakan jika Valen lebih cocok untuk Nathan, bukan karna apa, hanya saja Valen sudah mempunyai suami.
Dan apa kata Farel tadi, dia mengatakan bunda Valen? Oh my God, untung saja Rifal sudah pergi dari sini, sehingga tidak mendengar anak polos ini mengatakan bunda Valen.
"Lebih baik Abang kamu sama Lea," kata Lea membuat Nando melototkan matanya kearah Lea.
Sedangkan Nathan hanya diam.
"Anak kecil nggak baik sama orang dewasa," kata Nando menutup laptopnya.
"Pacar kakak genit memang benar," kata Farel membuat Lea langsung melototkan matanya. Dengan santainya Farel mengatakan jika disampingnya ini adalah pacarnya.
"Doaian aja," kata Nando sembari mengedipkan matanya kearah Farel.
"Kakak genit nggak cocok sama bang Nathan, bang Nathan udah dewasa. Dia mau cari istri bukan pacar lagi," kata Farel membuat Lea mengigit bibir bawahnya.
Apa yang dikatakan oleh Farel memang benar, usia Nathan yang sudah matang tidak bisa lagi pacaran maunya langsung nikah saja.
"Kalau kakak genit 'kan masih bisa pacaran masih kecil," lanjut Farel lagi.
Lea beranjak dari kursinya lalu mengambil tas ranselnya untuk segera pergi dari sini.
"Eh Lea, kamu mau kemana?" panggil Nando memasukkan laptopnya kedalam tasnya.
"Saya duluan," pamit Nando kepada Nathan dan dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
Beginilah sosok Nando, ramah kepada orang yang baru dia temui. Guna untuk menambah teman katanya.
"Kakak genit kenapa, bang Nath?" tanya Farel mendongakkan kepalanya kearah Nathan sembari memasukkan jemarinya kedalam jari Nathan.
"Nggak apa-apa. Kakak genit cuman bad mood," kata Nathan juga menggunakan kata kakak genit untuk Lea.
"Yaudah kita makan, kita dimeja sebelah sana," kata Nathan menggandeng tangan Farel untuk segera pergi menuju meja kosong untuk segera makan.
"Kamu mau kemana?" Nando berhasil menangkap tangan Lea yang meransel tas kuliahnya.
"Mau ngampus!" ketus Lea kepada Nando.
"Buset srepet!"
"Apa sih!"
__ADS_1
"Buset dah, sejak kapan anak kampus mau kuliah pake sandal?" tanya Nando melihat kearah kaki Lea yang hanya menggunakan sandal saja.
Lea menghentakkan kakinya lalu kembali melanjutkan langkahnya. "Omongan anak kecil nggak usah dianggap serius. Dia masih polos belum tau apa-apa."
Perkataan Nando berhasil membuat langkah kaki Lea terhenti, Nando menyungkirkan senyum tipisnya lalu menyugar rambutnya kebelakang.
"Lea nggak suka sama omongan Farel," kata Lea.
"Omongannya yang mana? Yang bilangin kamu kakak genit?" Nando hampir tertawa saat menyebutkan nama kakak genit. Benar-benar julukan unfaedah dari anak kecil itu.
"Termasuk itu, tapi yang buat Lea kesal amat karna Farel bilang bunda Valen. Seakan-akan dokter Valen bakalan pisah sama om Rifal. Lea nggak mau kalau sampai mereka pisah." Lea membayangkan bagaimana dengan Rifal dan juga Valen jika berpisah. Itu berarti salah satu dari mereka akan pergi dan meninggalkan rumah tersebut.
"Kamu takut yah, kalau dokter Valen pisah sama Rifal, lalu dokter Nathan bakalan nikahin dokter Valen," kata Nando membuat Lea langsung memukul lengan pria itu.
"Susah yah jelasin semuanya sama orang nggak tau apa-apa," kata Lea membuat Nando memutar bola matanya malas.
"Saya antar kamu pulang," kata Nando menarik tangan Lea untuk segera menuju parkiran.
"Lea mau ke kampus!"
"Pulang ganti sandal kamu dulu pake sepatu. Baru saya antar kamu ke kampus!"
"Tap_"
***
Valen sedari tadi menunggu Rifal untuk mengatakan sesuatu, sudah lebih dari 30 menit Rifal belum juga mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Rifal hanya mondar-mandir didepan Valen dengan Valen tengah duduk dikursi sofa.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Valen membuat Rifal berhenti mondar-mandir, mulut Valen sudah gatal untuk bicara karena pria itu hanya mondar-mandir tidak jelas didepannya membuatnya sakit kepala saja.
Rifal melirik Valen, "aku mau ngajak kamu diner romantis."
"Diner romantis?" menolog Valen dan dibalas anggukan kepala oleh Rifal.
"Kamu bisa 'kan?"
"Kapan?"
"Entar malam," jawab Rifal, dia harap Valen akan mengiyakan permintaannya.
"Entar malam aku ada jadwal operasi," balas Valen kepada Rifal.
"Jam berapa?"
__ADS_1
Valen melirik Rifal, sepertinya pria itu sangat berharap jika dirinya pergi. "Jam 8," jawab Valen.
Rifal menyungkirkan senyum tipisnya. "Kalau begitu kita bisa diner jam tujuh malam. Aku pastiin kamu bakalan kerumah sakit jam delapan," kata Rifal serius menatap manik mata Valen penuh harap.
"Tap-"
"Kamu mau 'kan?"
"Ok, aku mau."
Rifal langsung membawa Valen kedalam dekapannya membuat Valen tidak berkutik Dengan tindakan yang tiba-tiba dilakukan oleh Rifal saat ini.
Cup
Satu ciuman mendarat dipipih milik Valen. "Makasih, Va," kata Rifal.
"Sama-sama."
Valen menatap punggung kokoh milik Rifal yang telah menaiki tangga, malam ini mereka berdua akan diner.
"Dekorasi tempat sebagus mungkin," mata Rifal dengan tegas diseberang telfon lalu mematikan handphonenya.
"Buset srepet!" kesal Nando diseberang telfon karena Rifal langsung mematikan handphonenya. Dia masih bingung karna Rifal berbicara tidak begitu jelas.
Rifal yang sadar dengan apa yang dia ucapkan kepada asistennya mengambil kembali handphonenya lalu mengirimkan pesan kepada Nando.
Setelah berhasil mengirim pesan tersebut, Rifal langsung masuk kedalam kamar mandi untuk segera mandi. Entahlah mengapa dia ingin mengajak Valen untuk makan malam romantis.
Seperti ada dorongan tersendiri dari dirinya untuk melakukan semua ini untuk Valen.
Ting
Handphone milik Nando bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Saat ini Nando berada didepan rumah Lea menunggu gadis itu untuk segera keluar lalu mengantarnya ke kampus.
"Dekorasi sebagus mungkin tempat diner gue antar malam sama Valen. Jam tujuh harus udah kelar semuanya, lokasinya didekat danau tempat kita selalu meeting berdua. Awas aja kalau nggak beres, gue bakalan potong gaji lo!"
Rifal seperti sedang membaca sebuah ancaman, padahal memang seperti itu. Setelah membalas pesan dari Rifal, kini Nando tengah fokus kedepan pintu rumah Lea menunggu gadis itu keluar.
"Lama benar sih Lea, padahal cuman ganti sandal doang," keluh Nando karna Lea tak kunjung keluar.
"Akhirnya!" kata Nando saat melihat Lea sudah keluar dari rumahnya.
"Maaf, udah nunggu Lea cuman sebentar," kata gadis itu tanpa dosa lalu menutup pintu mobil.
"Untung aja kamu masih kecil, kalau nggak udah saya bejek-bejek kamu disini. Udah saya jadikan santapan saya."
__ADS_1