Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Apa ini?


__ADS_3

Rifal berjalan kearah Adelia membuat gadis itu memalingkan wajahnya kesebelah kiri, agar dia tidak menatap Rifal yang berjalan kearahnya.


"Kenapa?"


Kata-kata itu langsung keluar dari mulut Adelia tanpa melihat kearah Rifal. Air mata Adelia turun dipelupuk matanya saat berbicara dengan Rifal.


"Apa kamu marah, karna aku mengatakan itu semua kepada, Valen." lanjutnya tanpa melihat Rifal.


"Apa kamu lebih milih orang lain ketimbang aku."


"Dia bukan orang lain, Del!" Rifal berkata tegas secara tidak sengaja membuat air mata Adelia semakin menetes.


"Dia istri gue, Del. Bukan orang lain!" lanjutnya membuat Adelia semakin terisak mendengar perkataan Rifal dengan tegas mengatakan jika Valen adalah istrinya.


Memang kenyataannya seperti itu 'kan!


"Pergi, Fal!" Adelia menyuruh Rifal untuk pergi. Kehadiran pria itu membuat dia bergetar dengan perkataan Rifal.


Rifal menarik nafasnya panjang. "Gue minta maaf, Del." Lepas mengatakan itu Rifal langsung pergi membelakangi Adelia.


Nafas Adelia naik turun itu semua tidak luput dari penglihatan Nathan yang sedari tadi memantau keadaan Adelia yang sepenuhnya belum pulih.


Rifal meninggalkan Adelia dengan melewati Nathan yang nampak buru-buru menghampiri Adelia.


"Pasien drop!"


Langkah kaki Rifal langsung terhenti diambang pintu saat mendengar suara Nathan mengatakan jika pasien drop, sudah dipastikan itu adalah Adelia.


Rifal tidak melanjutkan langkah kakinya, dia berbalik kembali. Nampak Nathan sudah sibuk memasangkan Adelia infus dan juga tabung oksigen serta canula nasal terpasang dihidungnya.


"Del." Tak dipungkiri Rifal juga khawatir saat melihat alat yang pernah dipakai oleh Adelia kini terpasang kembali.


"Gue minta maaf Del. Maafin cara gue yang kasar!" Rifal memohon sembari memegang tangan Adelia yang tampak dingin dalam genggamannya.


"Panggil Dokter lainya!" perintah Nathan dengan tegas kepada perawat yang membawa alat oksigen.


"Apakah kita memanggil dokter, Valen?" tanya perawat itu memastikan kepada Rifal.


"Dokter yang lain, kondisi Valen tidak baik-baik buat nanganin pasien saat ini!"

__ADS_1


Perawat itu langsung mengangguk mengiyakan ucapan Nathan, sementara pikiran Rifal langsung terarah pada Valen.


Dia lupa jika Valen tadi tidak baik-baik saja. Terlihat dari matanya memerah. Apa lagi dari bicara Nathan nampak mengenal lebih dekat Valen membuat pikiran Rifal berkecamuk saat ini juga.


Argh


Rifal jadi kelimpungan antara ingin menghampiri Valen dan menjaga Adelia disini yang tidak baik-baik saja. Terlihat perawat bolak balik mengecek keadaan Adelia dan juga Nathan sedang memeriksa layar monitor dan aturan nafas Adelia.


Diruangan bernuansa putih ini, Rifal bolak-balik seperti orang bodoh, dia tidak tau harus menghampiri Valen atau menemani Adelia.


Rifal menarik nafasnya panjang lalu menatap Adelia sedang ditangani oleh dokter Nathan dan juga salah satu dokter yang menggantikan posisi Valen.


"Maaf." Lepas mengucapkan kata maaf Rifal langsung pergi dari ruangan Adelia. Sementara Nathan yang melihat kepergian Rifal menetap sejenak lalu melanjutkan kewajibannya sebagai dokter. Karna sekarang nyawa Adelia yang dia tangani.


Rifal berjalan dikoridor rumah sakit guna mencari keberadaan Valen saat ini. Dia yakin perempuan itu tidak baik-baik saja.


Rifal berjalan menuju ruangan milik Valen yang sudah dia datangi saat itu. Untung saja ruangan Valen dia tau sehingga dia tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada orang dimana letake ruangan dokter Valen.


Rifal telah berada diambang pintu ruangan Valen. Tangannya bergerak memutar handel pintunya namun pintu tersebut terkunci dari dalam.


Tangan milik Rifal bergerak mengambil untuk mengetuk pintu ruangan Valen guna memangil perempuan itu.


"Valen!". Dengan tidak sabaran Rifal mengetuk pintu ruangan Valen sembari memanggil nama Valen begitu sempurna.


"Valen, buka pintunya!" lanjutnya yang tidak mendapatkan respon dari dalam.


"Buka, atau pintunya aku dobrak!" ancam Rifal.


Ceklek.....


Tentu saja Rifal memundurkan langkahnya kebelakang selangkah saat melihat pintu handel bergerak menandakan dari dalam seseorang ingin membukanya.


"Valen," menolog Rifal saat melihat Valen telah membuka pintu ruangannya dengan matanya yang sangat sembab, bahkan pipi gadis itu masih ada jejak air mata yang masih basah dipipihnya.


Mereka berdua saling bertatapan dengan wajah Valen yang tidak se-fresh saat pertama kali dia keluar dari rumah untuk bekerja.


Air mata Valen semakin lolos dipelupuk matanya saat bertatapan dengan wajah Rifal yang sedang menatapnya juga secara lekat. Saat mengingat perkataan Adelia tadi membuat air mata Valen lolos begitu saja.


Mengapa dia harus sakit seperti saat mendengar apa yang dikatakan Adelia kepadanya? Padahal dia sudah tau akan hal ini dari dulu jika Rifal akan menikahi gadis yang dia cintai dan akan menceraikannya.

__ADS_1


Namun, mendengar dari mulut Adelia SECARA langsung secara tidak sengaja membuat hati Valen merasakan sesak.


Air mata Valen semakin deras membuat Rifal melangkahkan kakinya untuk mendekat kearah Valen.


Deg


Rifal langsung membawa Valen kedalam dekapannya membuat Valen terdiam sejenak mendapatkan pelukan mendadak dari Rifal saat ini juga.


Rifal mengelus rambut Valen membawa perempuan itu kedalam dekapannya menyalurkan kehangatan dan kenyamanan untuk Valen membuat Valen merasakan akan hal itu semua.


"Aku minta maaf."


Air mata Valen semakin deras dalam dekapan Rifal saat pria itu mengucapakan kata maaf yang sangat tulus keluar dari mulut pria itu.


Valen memeluk erat Rifal mencari kenyamanan disetiap inci tubuh pria itu yang membuat Valen merasa disayang oleh pria yang membawanya kedalam dekapannya.


Rifal bisa merasakan jika tubuh Valen bergetar dalam pelukannya.


"Semua akan baik-baik saja." Rifal berkata begitu yakin sembari memeluk Valen.


Sementara Valen semakin terisak, mendengar penuturan yang diberikan Rifal. Dia tidak tau apa arti dalam ucapan Rifal itu.


Rifal melepaskan pelukannya, lalu menatap dalam-dalam kedua bola mata Valen yang memerah serta air matanya tak berhenti mengalir.


"Semua akan baik-baik saja," kata Rifal sangat yakin sembari menghapus air mata Valen dengan ibu jarinya. "Ok." lanjutnya masih menatap kedua bola mata Valen.


Valen mengangguk kaku mengiyakan ucapan Rifal. Lalu Rifal kembali membawa Valen kedalam dekapannya membuat Valen semakin terisak.


Dia tidak tau, situasi macam apa ini!


Ada apa pula dengan Rifal mengucapkan kata-kata maaf begitu tulus dari mulutnya, Valen bisa merasakan jika kata maaf yang dikeluarkan Rifal sangat tulus membuatnya tersentuh.


Apa lagi pria itu mengatakan semua akan baik-baik saja membuat Valen tidak tau, apa yang baik-baik saja.


Rifal memejamkan matanya sembari memeluk tubuh bergetar milik Valen yang kini dalam dekapannya.


Sementara pikirannya juga terbagi untuk Adelia yang sedang berjuang saat ini. Rifal berharap gadis itu akan baik-baik saja. Rifal percakapan ini semua kepada dokter dan juga yang diatas.


"Aku menyayangimu, Va."

__ADS_1


Deg


__ADS_2