Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Ngambek


__ADS_3

Valen menarik nafasnya panjang. “Sejak kapan Mommy memesan sayuran?” Menolog Valen. Padahal, saat pelayan tadi datang, dia tidak memesan sayuran bersama dengan mertuanya.


Namun, giliran makanan itu datang malah diatasnya ada sayuran. Ada berbagai macam jenis sayuran diatas meja saat ini.


Valen melihat mertuanya itu sedang berjalan kearah meja, dia sudah pulang dari kamar mandi.


“Mom,” panggil Valen dengan lesuh setelah Rina sudah duduk di kursi.


Rina tersneyum tipis, dia tau mengapa Valen memasang wajah lesuh.


“Valen nggak suka makan sayur, Mom,” rengek Valen menbuat Rina langsung menyimpan jeri telunjuknya ditanganya, melarang Valen untuk berkomentar.


“Sayuran untuk ibu hamil sangat baik sayang,” kata Rina mengambil daging sapi.


“Kamu dokter, masa kamu nggak tau soal itu. Kalau sayuran sangat baik untuk ibu hamil. Apa lagi kamu hamil anak pertama,” lanjut Rina dengan santai.


Padahal, saat dia mengandung Rifal dan Tegar dia sangat malas untuk makan sayuran.


Valen mengerucutkan bibirnya. “Mommy juga nggak boleh makam daging berlebihan, entar tensinya naik loh,” ucap Valen dengan tawa kecil membuat Rina ikutan tertawa.


“Kamu bisa aja,” kata Rina seraya menggelengkan kepalanya.


“Mommy harus dengerin Valen, karna Valen kan dokter,” ucap Valen membuat mereka berdua tertawa dimeja makan.


“Mom, bolehkan kalau Valen nggak makan sayuran ini,” tunjuk Valen diatas meja yang terhidang berbagai macam makanan dan sayuran.


“Wajib,” kata Rina. “Kamu wajib makan sayuran.”


Valen hanya bisa memanyunkan bibirnya. “Kamu nggak mau kan kualat sama orang tua,” lanjut Rina dan dibalas anggukan kepala oleh Valen.


Rina menyimpan sayur diatas piring Valen membuat wanita hamil itu tersenyum kecut, andaikan saja Rifal yang memaksanya untuk memakan sayur mungkin saja dia akan merayu Rifal agar tidak memakan sayuran.


“Dikit aja Mom,” keluh Valen melihat sayuran menumpuk diatas piringnya, membuat dirinya tiba-tiba kenyang.


“Itu sedikit. Nanti Mommy Telfon orang kampung buat ngirimin sayur kerumah kamu. Kamu nggak tau kan, sayuran di luaran sana memakai pupuk apa. Bisa-bisa kamu sakit karna makan sayur yang pupuknya berlebihan,” oceh Rina membuat Valen terdiam.


Valen tau, jika di kampung mertuanya itu mengelolah kebun sayur, dan mempekerjakan orang kampung di sana, di saat panen hasil sayuranya dia bawa ke Jakarta untuk dijual.


“Nggak perlu repot-repot Mom,” ucap Valen. Jangan sampai setiap minggu dia akan mendapatkan kiriman sayur dari mertuanya, jika mertuanya itu akan pulang.


Rina tertawa kecil. “Nggak repot kok, cuman karyawan Mommy aja yang repot. Tugas karyawan kan memang repot Len.”

__ADS_1


Valen tidak membalas perkataan Rina lagi, percuma saja dia membantah karna hasilnya tetap seperti apa yang dikatakan oleh Rina.


Mereka berdua makan dengan khidmat, Valen makan dengan sayuran, nasi dan ikan.


***


Saat ini Elga hanya menundukkan kepalanya, tidak berani menatap manik mata Rifal yang menatapnya setajam elang.


Yah, Rifal sudah sampai di kantor polisi ditempat dimana Elgara di tahan.


“Gue minta maaf,” ucap Elga memberanikan diri menatap manik mata sahabtanya itu.


Rifal belum mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih menatap manik mata Elga dengan tajam.


“Apa gunanya lo bohongin gue, El!” desis Rifal tertahan, dari sekian menit hanya diam menatap tajam Elga.


“Demi kesehatan lo juga,” balas Elga.


“Dengan lo kayak gini bikin gue tenang? Seharusnya hal besar kayak gini lo ceritain ke gue, El!”


“Sekarang lo udah tau,” ucap Elga.


Huft


Elga menarik nafasnya berat. “Ini sebagai pelajaran buat gue,” pasrah Elga membuat Rifal tersenyum sinis.


“Anak dan istri lo gimana? Kayla butuh sosok suami. Anak-anak lo butuh kasih sayang lo!”


“13 tahun, El. Lo pikir itu waktu singkat? Lo pikir itu sebentar? Apa kabar anak dan istri lo selama 13 tahun itu!”


“Gue bisa apa, Fal? Biarpun gue nangis darah dan bersujud dibawah kaki Frezan, dia nggak bakalan Lepasin gue dengan mudah,” terang Elga kepada sahabatnya itu.


“Ada Rara,” ucap Rifal membuat Elga tersneyum tipis dengan apa yang dikatakan oleh Rifal.


“Dengan adanya Rara, gue yakin Frezan bakalan Lepasin lo atas permintaan saudara kembar lo sendiri,” papar Rifal dengan yakin.


“Ayah sama bunda gue sampai datang dari luar negeri demi bujuk Eza buat Lepasin gue,” jelas Elga. “Bahkan, bunda gue udah nyuruh Rara buat bujuk Eza buat ringanin hukuman gue kalau gue nggak bisa bebas.”


Elga mengacak rambutnya. “Lo tau kan, Frezan tetap Frezan. Yang nggak berubah dari dulu sampai sekarang. Bahkan, Rara orang yang dia cintai nggak dia dengerin,” lanjut Elga menjelaskan secara detail kepada Rifal.


Nafas milik Rifal naik turun dengan perktaan Elga. “Nggak bisa di biarin,” tutur Rifal dengan tidak sabaran.

__ADS_1


“Jangan di perpanjang, gue udah nerima hukuman gue 13 tahun. Semogah aja dengan ini gue bisa sadar dengan sikap gue yang masih labil,” pasrah Elga.


“Lagian, masih ada harapan kalau gue nggak di tahan selama 13 tahun lamanya,” ucap Elga.


Rifal mengeritkan alisnya tanda bingung. “Jika Daniel sadar, hukuman gue bakalan di ringanin. Itu janji Eza sama gue.”


“Kalau sebaliknya?” Tanya Rifal.


“Kalau sebaliknya, gue bakalan mendekam didalam penjara selama 13 tahun lamanya,” kata Elga membuat Rifal juga mengacak rambutnya frustrasi.


“Bodoh!”


“Siapa yang bodoh?” Tanya Elga.


Rifal menatap tajam Elga. “Lo yang bodoh!”


Elga tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Rifal. “Kayak nggak pernah bodoh aja lo karna cinta,” ejek Elga.


“Gue nggak tenang El, kalau lo berada di sini,” sedih Rifal membuat Elga tersenyum hangat. Dia tau, Rifal sangat mengkhawatirkan dirinya ditempat ini.


“Gue tidur tenang dirumah megah gue, sementara lo di sini susah,” lanjut Rifal.


“Jangan mikirin gue. Lo doain Daniel aja. Semogah saja dia secepatnya sadar,” ucap Elga.


Sekitar tiga puluh menit mengobrol dengan Elga, polisi datang ingin membawa Elga kembali masuk kedalam penjara karna waktu besuk sudah habis.


Rifal memeluk erat Elga seakan-akan tidak ingin melepaskan sahabat rasa saudaranya itu.


“Lo baik-baik di sini, El. Gue bakalan berusaha buat Lepasin lo dari sini,” kata Rifal memeluk erat Elga.


Elga mengangguk.


“Jaga kesehatan El, kalau ada apa-apa langsung Telfon gue,” tutur Rifal dan dibalas anggukan kepala oleh Elga.


“Gue titip anak-anak gue,” ucap Elga.


“Enggak sekalian lo nitip istri lo?” Canda Rifal.


“Ck!”


Percakapan mereka berdua berakhir, dengan Elga yang sudah dibawa oleh polisi untuk kembali ke tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2