
Rifal dan Nando telah sampai direstoran tempat mereka akan bertemu dengan seseorang. Nando sudah memesan ruangan VVIP untuk mereka.
Untung saja pertemuannya dengan seseorang diundur sampai jam 9, sehingga mereka tid ak perlu merasa bersalah karna telat.
"Sekretaris barunya mana?" tanya Rifal setelah duduk disofa tempat VVIP yang dipesan oleh Nando.
"Awas aja lo, Nan. Pilih sekretaris yang nggak becus!" kata Rifal kepada Nando membuat pria itu menggelengkan kepalanya kecil.
"Kali ini sekretarisnya hot, sexy, dan pastinya pintar," kata Nando membayangkan wajah milik Amora kemarin.
"Gue nggak butuh yang cantik....Karna Valen jauh lebih cantik dari siapapun."
"Lo udah kasi tau sama sekretaris buat nyiapin berkasnya? Gue nggak mau hari pertama sudah tidak becus." Rifal mengingatkan kepada Nando. Karna kemarin dia mempercayai Nando untuk menyeleksi sekretaris yang sudah berpengalaman, bukan sekretaris abal-abalan.
"Tenang aja, Fal. Sekretaris yang saya pilih tentunya sudah berpengalaman," kata Nando meyakinkan kepada Rifal. Karna apa yang dia katakan memang benar, jika dia tidak salah lagi memilih Amora sebagai sekretaris yang sudah berpengalaman.
Apa lagi saat dikantor yang tempat dia pecat dia menjadi seorang sekretaris pula.
"Good," balas Rifal kepada Nando.
Pelayan restoran membawakan Rifal dan juga Nando minuman yang sangat pas untuk tenggerokanya.
"Kemana dia?" tanya Rifal karna sekretaris tersebut belum juga datang. Rifal tidak mau, jika partner yang dia ajak berbisnis menunggu karna sekretaris barunya itu.
"Saya sudah menelfonnya, dia sudah berada diparkiran." Yah, Nando sudah menelfon Amora jika perempuan itu sedang memarkirkann mobilnya.
Amora keluar dari mobilnya membawa dokumen penting dalam map.
Ting
Pesan masuk dalam handpone Amora. Terlebih dahulu Amora mengecek pesan tersebut.
"Kak Mora, ini Adel. Tolong yah kasi tau Rifal kalau Adel butuh dia sekarang. Soalnya Adel telfon Rifal nggak angkat."
Pesan tersebut dikirim oleh Adelia.
Gara-gara ngurusin lo, gue dipecat diperusahaan yang udah buat gue nyaman. Batin Valen menyalahkan Adelia.
Pesan yang dikirim oleh Adelia, Amora teruskan kepada Rifal. Lepas itu dia melangkahkan kakinya untuk segera masuk kedalam restoran.
Ting
Rifal yang tengah meminum-minumanya melihat kearah handponenya. Dia melihat pesan tersebut dikirim oleh Amora.
Rifal yang membaca pesan yang diteruskan oleh Amora berdecih.
__ADS_1
Dari kemarin Adelia menelfonnya, namun Rifal tidak mengangkatnya karna dia tidak ingin diganggu, apa lagi pikirannya kemarin tidak baik-baik saja memikirkan hubungannya bersama dengan Valen.
Penjaga ruangan VVIP melihat kartu nama Amora sebelum masuk diruangan VVIP tempat Rifal dan Nando menunggu klien mereka.
"Mari saya antar," kata penjaga ruangan VVIP itu kepada Amora.
Pelayan itu mengantar Amora sehingga Nando yang melihat kedatangan mereka tersenyum sumrinang. Sementara Rifal tengah fokus dengan email yang masuk kedalam handponenya.
"Nah, itu dia. Sekretaris baru!" kata Nando sehingga Rifal mendonggakkan kepalanya sehingga dia tidak bisa melihat handponenya kembali.
"Pagi!"
Amora mematung saat melihat wajah milik Rifal. Sementara Rifal? Dia seperti sedang diberikan kejutan yang sangat unfaedah.
"Ini dia sekretaris baru kita," kata Nando dengan semangat memperkenalkan Amora kepada Rifal.
"Amora, perkenalkan ini Rifal. Bos besar kita diperusahaan," kata Nando lagi memperkenalkan Rifal kepada Amora.
Rifal menatap tajam Amora, sementara Amora berusaha menjaga imagenya sebagai seorang wanita yang elegan.
Nando memperhatikan wajah Amora dan juga Rifal secara bergantian, dia merasakan ada kejanggalan diantara mereka saat ini.
"Hmm." Nando berdehem membuat mata Rifal kini beralih kepada Nando.
"Ada yang salah?" tanya Nando dengan suara pelanya kearah Rifal.
"Maaf pak, tamu yang anda tunggu sudah datang." Rifal tidak jadi meneruskan perkataannya karna pelayan tersebut menyampaikan berita jika orang yang dia ajak bekerja sama telah sampai.
Dia melihat kearah ketiga pria yang tengah berjalan kearahnya, orang yang akan bekerja sama dengan dirinya.
"Kamu duduk dulu," kata Nando mempersilahkan Amora terlebih dahulu untuk duduk.
Amora duduk didekat Nando dengan map dia letakkan diatas meja.
Seorang pria yang menggunakan setelan tuxedo berwarna coklat menggeser kursi untuk mempersilahkan seseorang yang menggunakan jas berwarna hitam untuk duduk.
"Pagi!" sapa pria yang menggunakan setelan tuxedo tersebut dengan tegas.
"Pagi, juga!" balas Nando disertai dengan senyuman diwajahnya menyambut seseorang yang akan bekerja sama dengan mereka.
"Elga mana?" tanya Frezan kepada Daniel yang telah duduk didekatnya.
"Tidak lama lagi dia akan sampai," balas Daniel dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.
"Maaf telat," mereka semua langsung melihat keasal suara tersebut.
__ADS_1
"Elga!"
"Rifal!"
Sebenernya Frezan dan Daniel hanya diam saja melihat Rifal dan Elga seperti seseorang yang terkejut, memang seperti itu.
Perusahan milik Frezan dan perusahaan milik Rifal akan bekerja sama. Sementara Elga belum tau jika perusahaan yang mereka temani bekerja sama adalah perusahan milik sahabatnya.
"Lo kerja diperusahaan, Frezan?" tanya Rifal masih sedikit terkejut. Dia masih tidak percaya melihat Elga disini, itu berarti mereka akan rapat bersama-sama.
Elga melirik Frezan yang sedang membalas pesan dari Rara, istrinya.
"Yah, gue kerja sama dia. Baru kemarin. Gue sebagai sekretaris," kata Elgara membuat Rifal mengangguk kecil.
Andai aja gue tau, Elga mau kerja. Udah pasti gue angkat jadi sekretaris daripada harus Amora. Batin Rifal yang masih tidak percaya jika yang menjadi sekretarisnya adalah Amora.
"Apa kita sudah bisa mulai?" tanya Daniel dan dibalas anggukan kepala oleh Nando.
"Silakan!" jawab Nando.
Mereka berenam berbincang-bincang mengenai kerjasama mereka nantinya, diruangan VVIP hanya ada suara orang serius.
Bahkan Nando yang biasanya banyak bacot berubah menjadi serius mendengarkan Elga dan Daniel menejelaskan.
Rifal takjub dengan cara berbicara Amora yang sudah pasih dalam menyampaikan tujuannya.
Apakah tidak ada sekretaris lain selain Amora?
"Udah saya bilang 'kan, kalau saya nggak bakalan salah cari sekretaris," bisik Nando ditelinga Rifal.
Rifal tidak membalas perkataan Nando, dia memang suka cara berbicara Amora namun dia tidak menyukai perempuan itu.
"Apakah sudah jelas?" tanya Amora kepada Frezan, Daniel dan juga Elga.
Amora sudah menjelaskan mengenai kerja sama antara perusahaan.
"Yah," jawab Daniel yang memperhatikan penjelasan dari Amora yang mudah mereka pahami.
Amora kembali duduk ditempatnya, "Kamu memang hebat, tidak salah lagi yang saya memilih sekretaris untuk, Rifal," bisik Nando ditelinga Amora.
Amora tidak mengangguk mengiyakan ucapan Nando, karna dia juga masih memikirkan, apakah Rifal sebenernya bosnya?
Nando memanggil pelayan untuk mulai memesan makanan untuk tamunya, karna rapat pagi ini telah usai. Hanya main satu jam saja.
Sementara Daniel sedari tadi memperhatikan gaya berpikir Amora yang membuatnya salut dengan cara penyampaian perempuan itu.
__ADS_1
Sekretaris yang luar biasa bukan?