Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Membawakan Bekal


__ADS_3

Supir telah sampai di tempat di mana Dyta sedang bermain bola basket. “Sudah sampai den,” kata supir itu kepada Farel.


“Makasih pak.”


“Sama-sama.”


Farel langsung turun dari mobil membawa tupperware berisi makanan untuk di berikan pada Dyta. Dia pastikan Dyta belum makan karna sepulang sekolah dia langsung singgah di sini.


Memang Farel tidak melihat Dyta turun karna tadi dia ketiduran. Mobil yang di bawa supir telah pergi meninggalkan lapangan basket dekat tk.


Farel menyungkirkan senyuman jahilnya saat melihat Dyta sedang lari-lari di lapangan basket sembari memegang bola basket.


Sangat lucu!


Itulah di pikiran Frezan mengenai Dyta, anak itu berlari sehingga keringat bercucuran di wajahnya yang manis itu.


Elga yang melihat Farel langsung memanggil anak itu.


“Sini!”


“Iya om!”


Farel langsung berjalan menghampiri Elga. Sementara Dyta belum menyadari kedatangan Farel.


“Kamu kesini sama siapa?” Tanya Elga.


“Sama supir,” jawab Farel dan dibalas anggukan kepala oleh Elga.


“Dyta, larinya udah cukup. Sekarang kesini!” Panggil Elga pada Dyta. Sehingga anak itu langsung menghampiri Elga di bawah pohon. Dia juga melihat Farel sedang tersenyum jahil kearanya.


“Curiting, aku bawaain kamu makan siang. Aku yakin kamu belum makan siang,” kata Farel sembari menyodorkan tupperware dan botol minuman pada Dyta.


“Terimaksih, tapi jangan panggil Dyta dengan sebutan curiting!” Kesalnya mengambil makanan dari Farel.


Sementara Elga yang melihat mereka hanya menggelengkan kepalanya saja, Dyta langsung meminum air di dalam botol yang diberikan oleh Farel yang sangat cocok untuk tenggerokanya yang kering akibat bermain basket.


Dyta langsung membuka tupperware berisikan nasi dan ayam goreng kesukaannya. Anak itu makan dengan lahap dengan di perhatikan oleh Farel.


Keringat Dyta masih bercucuran di wajahnya, “pake ini, Curiting,” kata Farel memberikan tisu pada Dyta.


Dyta langsung mengambil melap wajahnya dengan tisu lalu melanjutkan makanya dengan di perhatikan oleh Farel. Sementara Elga yang memperhatikan Farel yang sedang memperhatikan anaknya menarik nafasnya panjang.


“Dasar anak kecil,” gumamnya.


***

__ADS_1


Malam haripun tiba, Rara bangun dari tidurnya yang tidur semenjak anaknya pulang dari sekolah.


“Ya ampun, aku ketiduran,” kata Rara bangun dari tempat tidurnya lalu masuk kedalam kamar mandi mencuci wajahnya, selesai mencuci wajahnya dia menyalakan lampu kamar.


Hasya juga nampkanya belum bangun, Rara melangkahkan kakinya kearah Hasya.


“Sya, Ayok bangun sayang, udah malam,” Rara menepuk pipih anaknya itu dengan lembut.


“Ayok sayang bangun, kita makan malam dulu,” lanjut Rara namun anak itu tidak bergeming sama sekali.


Rara sampai lupa, jika dia sudah menjanji anaknya akan menemaninya bermain masak-masak. Namun sekarang sudah malam, Rara juga tidak merasakan waktu begitu cepat berlalu.


Hasya membuka matanya, sehingga matang yang bulat mengerjap.


“Bun,” panggil Hasya dengan suara bangun tidurnya. “Kita jadikan main masak-masaknya,” kata Hasya tanpa mengetahui jika ini sudah malam.


Rara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. “Besok aja yah sayang, ini udah malam,” kata Rara membuat anak itu langsung bangun dari tempat tidurnya melihat kearah balkon kamar sudah gelap.


“Bunda kok nggak bangunin Hasya?” Kata anak itu menbuat Rara kikuk.


“Bunda juga ketiduran, Sya,” kata Rara membuat anaknya itu mengerucutkan bibirnya dengan lucu.


“Ayok bunda temani kamu cuci muka, baru kita turun makan,” kata Rara membantu anaknya masuk kedalam kamar mandi.


Setelah mencuci wajah Hasya, mereka berdua langsung keluar dari kamar untuk segera turun kebawa makan makan malam.


“Katanya mau makan malam di luar sama kak Eza,” kata Kayla membuat Rara menganguk lalu duduk di kursi makan.


Rara mengambilkan Hasya makanan. “Tegar mana?”


“Dia juga ikut sama kak Eza mau makan malam,” kata Kayla membuat Rara berdecak kesal.


Pasalnya hanya laki-laki saja yang di ajak Frezan, tidak dengan kaum perempuan. “Kita kok nggak di ajak bun?” Tanya Hasya.


“Besok juga kita makan malam, nggak usah ajak mereka,” kesal Rara.


“Dyra ikut kan, Tan?” Sahut Dyra.


Rara tersenyum kearah Dyra. “Iya sayang, khusus kita kaum perempuan,” lanjut Rara membuat Kayla menggelengkan kepalanya dengan apa yang di katakan oleh Rara.


“Dyta nggak mau ikut?” Tanya Rara karna anak itu hanya menikmati makananya tanpa menambahkan percakapan mereka.


“Besok malam Dyta mau main sama teman baru Dyta,” kata anak itu.


Sehingga seluruh tatapan mata kearah pada Dyta, sementara anak itu melanjutkan makananya.

__ADS_1


“Kamu punya teman baru, Ta? Kok nggak bilang sama mama?” Tanya Kayla.


“Dyta lupa mah, dia kakak kelas Dyta,” kata anak itu membuat mereka menganguk.


“Pasti cowok,” sahut Dyra yang sudah tau jika saudaranya sangat senang bergaul dengan laki-laki.


“Iya.”


“Gantungan mana, kak Farel atau teman baru Dyta?” Dyra melontarkan pertanyaan membuat Dyta menghentikan kunyahan makananya.


“Sama-sama ganteng,” jujur Dyta, jika teman barunya itu sama-sama tampan dengan Farel.


“Dyra jadi penasaran deh lihat teman baru Dyta,” kata Dyra dengan penasaran, pasalnya Dyta mengatakan mereka berdua sama-sama tampan.


“Tapi dia nggak jahil kayak Farel,” tambah Dyta.


“Itu istimewanya kak Farel,” terang Dyra.


Kayla dan Rara langsung menepuk jidatnya, masih kecil sudah membahas soal ketampanan , bagaiamana jika mereka sudah dewasa? Kecil saja mereka sudah bedakan mama tampan mana tidak.


“Nggak baik bahas gituan, kalian masih sekolah,” kata Kayla menbuat mereka berdua menjadi diam.


Mereka makan dengan khidmat, setelah selesai makan malam Frezan, Farel dan juga Tegar pamit kepada Rara untuk makan malam di luar.


“Iya, lain kali ajakin kita juga,” kata Rara menyalami tangan Frezan.


Frezan tertawa,” ini khusus cowok,” balas Frezan.


“Iya-iya,” final Rara.


“Farel, kamu porotin Abang kamu yah, kamu beli makanan kesukaaan kamu,” hasut Rara pada Farel membuat Farel langsung mengacungkan jempolnya.


“Siap mbak,” kata Farel.


“Tegar, jangan makan udang yah, entar badan kamu gatal,” peringat Rara kepada Tegar.


“Siap bund.”


Farel dan Tegar langsung menyalami tangan Rara lalu masuk kedalam mobil dengan Frezan yang menyetir seperti supir karna kedua anak itu duduk di belakang sembari bercerita mengenai pelajaran di sekolah tadi.


Frezan yang mendengar anak dan juga adiknya bercerita menyungkirkan senyuman. Om dan keponakan hanya beda beberapa bulan saja.


Namun Frezan lihat, Farel mempunyai sifat jahil seperti papahnya Alex seperti yang di katakan oleh mamahnya.


Sekitar dua puluh menit menyetir. Akhirnya mereka telah sampai di salah satu restoran mewah di Jakarta.

__ADS_1


Kedua anak itu langsung turun dari mobil mengikut Frezan masuk kedalam restoran yang sangat mewah.


Frezan sudah memesan ruangan vvip untuk mereka bertiga.


__ADS_2