Kita Masih Lanjut

Kita Masih Lanjut
Kerumah sakit


__ADS_3

Lea saat ini masih berada di dalam kamarnya. Hari ini dia tidak ke kampus dan kerumah sakit. Dia hanya stay di dalam kamarnya. Seraya menunggu kabar dari tentang Rifal dan Valen.


Tok...Tok...Tok


Novi, mama Lea mengetuk pintu kamar anak gadisnya karna sudah pukul 1 siang, Lea belum juga keluar dari kamarnya.


''Lea!'' panggil Novi seraya mengetuk pintu kamar Lea sedikit keras.


Lea yang baru tidur pukul 04:02 membuatnya malas melakukan sesuatu. Gadis itu melirik pintu kamar yang di ketuk oleh sanga mamah.


Dengan berat hati, Lea mengayunkan kakinya menuju pintu kamar.


Ceklek


Pintu kamar di buka oleh Lea.


''Astgafirullah!'' Novi terkejut melihat penampilan Lea saat ini.


Bagaimana tidak, jika penampilan Lea saat ini sangat menyedihkan. Rambut yang berantakan tidak di sisir, bekas air iler di pipihnya sudah mengering. Bahkan bawa mata Lea sedikit hitam. Sudah Novi tebak, jika semalam anaknya itu begadang.


''Kenapa, Mah? Apa udah ada kabar dokter Valen sama om Rifal?'' Tanya Lea dengan suara parau, pita suaranya hampir lenyap akibat menangis terlalu lama.


''Sisir rambut kamu dulu, lepas itu cuci muka,'' intruksi Novi kepada anak gadisnya.


‘’Mamah tunggu di meja makan.'' Lepas itu, Novi pergi dari depan pintu kamar Lea.


Lea masih sangat letih, dia seperti mimpi di berikan kabar mengejutkan ini. Lea kembali masuk kedalam kamarnya dan melihat dirinya di depan cermin sangat menyedihkan.


Tangan gadis itu bergerak mengambil sisir, untuk menyisir rambutnya yang sangat berantakan.


Setelah lima menit menyisir rambut, Lea keluar dari kamarnya untuk menuju meja makan. Karna dia sudah sangat lapar.


''Cuci muka dulu,'' suruh Novi kepada lea.


Lea mengangguk kecil, lalu mencuci wajahnya di dalam kamar mandi.


Lepas mencuci wajah, Lea menggeser kursi di meja makan lalu duduk. Dia melihat berbagai macam lauk sederhana di atas meja. Menu sederhana tapi tentunya enak.


''Makan dulu,'' ucap Novi dengan lembut memberikan Lea nasi diatas piringnya.


''Mah,'' panggil Lea dengan lemah.


''Makan dulu,'' potong Novi membuat Lea mengangguk kecil.


Lea makan begitu lahap, karna dari kemarin sore dia belum makan, dan sekarang sudah jam 1 siang dia baru makan.

__ADS_1


Novi tau, jika anaknya itu benar-benar takut kehilangan tetangga mereka, yaitu Rifal dan Valen.


Apa lagi mereka lumayan dekat. Lea yang Selalu minta tolong kepada Valen dan juga Rifal. Tak di pungkiri mereka lumayan dekat.


Lea telah usai makan.


‘’Udah ada kabar dari om Aska, mah?'' Tanya Lea.


Novi mengangguk. ‘’Rifal udah ketemu dalam kondisi lemah, dan sekarang dia di larikan kerumah sakit'' tutur Novi membuat Lea terdiam lalu kembali bertanya.


‘’Gimana dengan dokter Valen, mah?'' Lanjut Lea karna mamahnya hanya mengataka Rifal.


Huft


Novi menghembuskan nafas berat. ''Valen sampai sekarang belum ketemu.''


Yah, Novi baru mendapatkan info dari Aska. Jika anaknya sudah ketemu hanya saja istrinya sampai sekarang belum di temukan.


''Mah,'' Lea menitihkan air matanya, ‘’gimana kalau dokter Valen pergi ninggalin kita?''


''Jangan ngomong kayak gitu,'' tegur Novi. ''Mamah sangat yakin, dokter Valen masih hidup, hanya saja dia belum di temukan.''


''Kita sama-sama berdoa. Semogah saja Valen ketemu dalam keadaan selamat.''


''Lea kasihan dokter Valen, mah. Dia lagi hamil, tapi mendapatkan musibah ini.'' rintih Lea. ''Om Rifal pasti bakalan tersiksa kalau sudah sadar, istrinya belum ketemu.''


Lea Hanya bisa menangis kembali. Ingin sekali rasanya dia ke Bali untuk melihat kondisi Rifal, memberikan hiburan pada pria itu jika dia sudah Sadar dan tidak melihat Valen di sampingnya.


***


Jam menunjukkan pukul 14:30.


Seorang pria menuruni anak tangga menggunakan pakaian yang rapih, siang ini dia akan kerumah Sakit menjenguk Daniel. Sekaligus ingin membuktikan apa yang di katakan oleh Nathan memang Benar atau hanya fikti belaka saja.


''Kak Eza!'' panggil Farel sehingga langkah kaki Frezan terhenti di anak tangga.


‘’Kenapa?'' Tanya Frezan kepada adiknya itu.


''Kak Eza mau kemana?'' Tanya Farel menghampiri Frezan dengan nafas terengah-engah karna memburu kakak tertuanya itu.


''Ke rumah sakit.'' Frezan menjawab dengan santai.


''Sama siapa?'' Tanya Farel lagi.


''Nathan.''

__ADS_1


''Kak Eza mau jenguk om Daniel?'' Tanya Farel lagi dan dibalas anggukan kepala oleh Frezan.


''Kak Eza sibuk nggak hari ini? Soalnya, Farel mau ngomong penting,'' ucap Farel sedikit takut-takut. Dia ingin menyampaikan hal yang sudah dia pikirkan dari semalam.


''Sepertinya kakak sangat sibuk hari ini.'' Frezan menjawab seraya menatap adiknya yang tiba-tiba bertanya kesibukanya.


Farel hanya ber ‘oh riah' saat Frezan mengatakan sibuk hari ini. Padahal dia ingin mengatakan sesuatu sebelum dia pulang ke aparatemen Nathan.


''Yaudah deh, kapan-kapan aja Farel ngomong sama kak Eza,'' ucap Farel.


‘’Memangnya kamu mau ngomong apa?'' Tanya Frezan menundukkan tubuhnya agar adiknya itu berbicara tidak mendongak kepadanya.


''Farel mau ngomong so-''


''Tuan, Nathan sudah menunggu di luar.'' Art datang memberitahukan Frezan membuat Frezan mengangguk.


''Nanti ngomongnya, kalau kakaka udah balik,'' ucap Frezan dengan lembut seraya mengusap rambut Farel.


''Kak Eza pergi dulu,'' pamit Frezan kepada adiknya lalu melanjutkan langkahnya.


''Hati-hati kak!''


Frezan keluar dari pintu utama, dan sudah melihat Nathan sudah memakai baju rapih berwarna biru muda.


''Kau lama sekali, adikmu ini kepanasan menunggu mu,'' Nathan menghentakkan kakinya kesal.


‘’Siapa yang menyuruh mu menunggu ku diluar mobil?'' Frezan memberikan pernyataan kepada Nathan dengan santai, lalu masuk kedalam mobil milik adiknya itu.


''Hei Za, kenapa kau duduk di belakang? Aku ini adik mu, bukan sopir mu!'' oceh Nathan yang hanya di abaikan oleh Frezan.


''Adikmu ini singgah kesini ingin memberikan mu tumpangan. Tapi kau malah duduk di belakang!'' kesal Nathan.


‘’Pindah kedepan!'' perintah Nathan yang hanya di tatap oleh Frezan saja.


''Berisik! Kita kapan jalan!'' Suara datar nan dingin itu keluar dari mulut Frezan membuat Nathan meneguk salivanya.


Dengan kekesalan, Nathan langsung masuk kedalam mobil dan menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


Frezan menyandarkan pundaknya di sandaran mobil, seraya memejamkan matanya. Hembusan nafas beratnya membuat siapapun akan mengetahui jika pria itu tengah di landa masalah.


Nathan, yang melihat Frezan dari kaca spion menebak jika kakaknya sedang mempunyai banyak masalah.


Dia tidak berani bertanya, karna raut wajah Frezan saat ini lebih dingin dari biasanya.


‘’Kita singgah di cafe dekat rumah sakit dulu, Nath. Mau makan.'' Frezan tanpa membuka matanya memberikan intruksi kepada Nathan.

__ADS_1


''Ok.'' Nathan hanya bisa mengiyakan perintah dari Frezan.


Frezan tidak sempat makan siang tadi, karna sibuk dengan pekerjaannya.


__ADS_2