
Satu minggu sudah berlalu atas kedatangan pak Asegaf di rumah Daniel. Sudah satu minggu ini juga Lea tidak berkunjung melihat Agrif.
Bi Minah belum keluar dari rumah tersebut, hingga Agrif pergi ke Banjarmasin di temani oleh pak Asegaf.
Para satpam dan pembantu sangat kehilangan pekerjaan ini. Karna mereka sudah lama bekerja di rumah Daniel dan mereka sangat bahagia.
Selain gaji mereka yang tinggi, sikap Daniel juga sangat baik kepada para pekerjanya sehingga para pekerja di rumah Daniel sangat betah bekerja di sana.
Termasuk Bi Minah. Yang mengasuh Agrif dan mengurus segala kebutuhan anak itu sejak Kecil. Kini dia akan merasa kehilangan Agrif karna tidak lama lagi anak itu akan pergi meninggalkan Jakarta, entah berapa lama. Atau mungkin tidak akan kembali lagi?
Pak Asegaf memperkerjakan dua orang pria di rumah Daniel untuk menjaga dan merawat rumah itu, selama Agrif tidak ada di sana.
Bar milik Daniel tetap jalan, yang di kelola oleh orang kepercayan Daniel. Itu semua atas nama Agrif.
Entahlah, apakah anak itu akan terjun mengolah bar itu suatu saat jika dia sudah dewasa, atau tidak sama sekali.
Rara juga sudah keluar dari rumah sakit empat hari yang lalu, kondisinya sudah sedikit membaik. Dokter mengatakan kepada Rara untuk banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran yang akan menbuat dirinya drop dan jatuh sakit.
Perkataan dokter tentu saja tidak di terapkan oleh Rara. Karna sampai sekarang Rara masih memikirkan sahabtanya Valen yang sampai sekarang tak kunjung di temukan.
Karna pikirnya itu, membuat Rara kembali jatuh sakit. Namun kali ini, Rara hanya di rawat di rumahnya saja dengan selang infus di tanganya.
Kevin yang mengatakan agar Rara di rumah saja, karna dia yang akan memeriksa dan memberikan perawatan untuk anaknya, bagaimanapun Kevin pernah menjadi dokter profesional hingga akhirnya dia pensiun dari pekerjaannya itu.
Selama Rara sakit, nafsu makan Frezan menurun bahkan pria itu tidak pernah ke kantor lagi.
Dia belum mendapatkan pengganti untuk Daniel. Karna mencari tangan kanan itu sangat sulit di bandingkan mencari karyawan yang ingin bekerja di perusahaannya.
“Jaga kesehatan, Ra. Jangan mikirin itu semua sampai berlarut-larut.”
Frezan selalu menasihati sang istri namun tetap saja. Segala pikiran dan kekacauan berkumpul di pikirnya hingga kepalanya nyaris pecah.
Mungkin saja dia sudah tidak bisa membendung masalah ini. Sehingga tubunya yang mungil jatuh sakit.
***
Sosok gadis berusia 19 tahun berjalan di koridor rumah sakit sedikit terburu-buru karna lima menit lagi dia akan terlambat.
Di rumah sakit ini, hanya dia saja mahasiswa yang praktek di sini. Dia Bersykur karna dokter Nathan ingin menyempatkan waktunya satu bulan ini untuk Lea.
__ADS_1
Andai saja Valen ada, mungkin sekarang Lea akan bersama Valen saat ini, di rumah sakit ini.
Lea sudah sempat ingin minggat dari sini, untuk praktek di rumah sakit lain bersama teman kampusnya. Karna Valen tidak ada, padahal yang mengambil alih dirinya adalah Valen.
Namun, dosen langsung memberitahukan pada Lea jika ada dokter yang menggantikan Valen untuk mengajarnya.
Lea sempat di buat bingung.
“Siapa Dokte yang ingin membantu saya pak?”
“Dokter Nathan.”
Saat itu Lea sangat terkejut mendapatkan jawaban dari kaprodinya di kampus, dia tidak menyangka jika Nathan akan membantunya satu bulan ini.
Ceklek
Lea membuka ruangan Nathan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Saking buru-burunya gadis itu.
“Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum masuk?” Nathan beranjak dari kursinya menatap Lea di depan pintu yang mengatur nafasnya.
“Maaf, dok.” Lea menunduk megucapkan kata maaf kepada Dokter Nathan yang sudah siap dengan setelan jas kedokteran miliknya.
“Kamu tau, kan, tim kesehatan yang telat satu detik saja bisa membahayakan nyawa seorang pasien,” lanjut Nathan sementara Lea masih tertunduk.
“Lea,” panggil Nathan sehingga dengan kepala sedikit kakuh Lea mengangkat kepalnya.
“Iya, dok. Lea paham kok,” balas gadis itu.
Mata mereka berdua beradu membuat Lea meneguk salivanya susah payah. Lea bisa merasakan tatapan mata dokter Nathan saat ini sangat beda dari tatapan sebelumnya.
Lea berpikir….tatapan dokter Nathan saat ini adalah tatapan harapan untuknya.
Tanpa gadis itu sadari, dia tersenyum kearah dokter Nathan membuat Nathan mengerutkan keningnya bingung melihat senyuman Lea kepadanya.
“Lea…Kamu kenapa?” tanya Nathan.
“Lea lagi terpesona sama dokter Nathan,” jawabnya setengah sadar.
“Lea..” ringis Nathan membuat gadis itu tersadar dengan apa yang barusan dia katakan kepada Nathan.
__ADS_1
“Maaf dok!” beber Lea dengan sedikit panik.
“Ini di rumah sakit. Bedakan tempat luar dengan rumah sakit. Kamu harus profesional!” protes Nathan membuat Lea mencernah perkataan Dokter Nathan barusan.
Lea kembali menatap mata elang Nathan. “Jadi…kalau di luar rumah sakit, boleh?”
Rahang tegas milik Nathan langsung melorot kebawa atas pertanyaan Lea barusan.
“Kam-“
“Dokter Nathan, Lea! Kalian lama sekali! Ada banyak pasien yang harus kita periksa!” suara kesal dari luar sana membuat Nathan tidak meneruskan perkataanya.
“Ikut saya!” tegas Nathan melewati Lea lalu gadis itu mengekorinya.
Ceklet
Nathan membuka pintu dan terlihatlah dokter Zul dan juga dokter Kiki di depan pinru. Wajah dokter Zul nampak kesal sementara Kiki hanya terkekeh.
“Kalian hobi berdebat, ya,” celutuk Kiki.
Nathan tidak menghiraukan Kiki.
Mereka berempat berjalan menuju ruangan pasien. Lea mengekori Kiki, Nathan dan Zul dari belakang.
Lea memanyunkan bibirnya, karna jalanya sedikit lambat karna membawa tas Dokter Nathan.
“Kamu itu seperti Asisten, harus mengabdi untuk mendapatkan ilmu dari sini.”
Yah, Lea tentu mengingat perkataan Nathan sebelum dia terjun di rumah sakit ini. Dia harus patuh dengan aturan rumah sakit ini dan harus tau batasan jika ingin mendapatkan ilmu.
Nathan tersenyum tipis, hingga nyaris tak terlihat saat mengintip dsri ekor matanya, Lea nampak kesusahan membawa tas miliknya.
Nathan menggelengkan kepalanya. Mengapa nama gadis di belakangnya ini mengiasi kepalanya.
Ketiga dokter itu mengobrol seakan-akan Lea tidak ada di belakang mereka.
“Andaikan Lea ikut praktek sama teman kampus Lea. Mungkin aja Lea saat ini nggak akan menjadi upik abu,” gumam gadis itu.
Dokter Kiki berada di tengah, smentara kanan kirinya ada dokter Nathan vdan juga Zul. Sementara dirinya? Ada di belakang mengekori ketiga dokter di hadapnya.
__ADS_1
“Andaikan dokter Valen ada di sini, mungkin Lea bakalan ketawa dan bergandengan tangan sama dokter Valen seperti kakak dan adik.”